KISAH /YANG DIMAKAMKAN
DI DESA KEBANARAN
[MAKAM KEDUNGLUMBU]
Bambang Bragola adalah putra dari ki Ageng Penjawi [senopati
mataram] yang dalam legenda Bambana Bragola mempunyai kesaktian yang luar biasa,
punya seekor kuda yang larinya tak ada yang biasa mengalahkannya. Sang raja
takut kalo kalo pemerintahannya akan dakalahkan oleh putra Ki Ageng Penjawi,
Untuk menyingkirkan Bambang Bragola, sang Prabu mengadakan sayembara, yaitu
balapan kuda dengan persyaratan bila sayembara Bambang Bragola dapat memenangkan pembalap kuda kerajaan, Bambang
Bragola akan dinaikkan pangkatnya menjadi Adipati di mataram, sebaliknya bila kalah,
harus enyah dari Mataram.
Pada saat yang telah ditentukan
dimulailah pertandingan balap kuda /pacuan kuda Yang kuda punggawa kerajaan semuanya
kalah, mendengar kuda kuda kerajaan kalah, sanga raja memerintahkan kuda Bambang
Bragola diganti dengan kerbau, yang selanjutnya kerbau itu harus diadu kecepatannya
dengan kuda kuda kerajaan, Dalam pelaksanaan tersebut kuda kuda kerajaan tetap
kalah dengan larinya kerbau milik Bambang Bragola.
Karena raja merasa malu, maka
memerintahkan kepada punggawanya untuk membunuh kerbau itu. Dalam
pelaksanaannya kerbau tersebut tidak dapat dibunuh karena kesaktiannya [Kerbau
itu dinamai kerbau lando] Sesakti apapun karena berkali kali dikeroyok oleh
pasukan Mataram akhirnya kerbau lando berbicara pada sang majikan [Bambang Bragola] saya mau mati tetapi harus bersama
dengam sang majikan. Benar juga pada pengeroyokan yang terakhir, Bambang
Bragola dan kerbaunya mati seketika.
Sang ayah melihat kematian anaknya,
merasa malu jangan jangan dianggap mejadi pemberontak Akhirnya Ki Ageng Penjawi
melarikan diri dari kerajaan. Pertama pergi kearah barat menuju ke Kebumen,
lalu ke Gombong. Disitu beliau bingung, kemana akan melanjutkan perjalanan
,karena belum ada manusia didaerah tersebut. Pada saat kebingungan, melihat
arah utara ada asap, dalam hati berkata kalau ada asap berarti ada kehidupan
manusia disana.
Akhirnya pergi menuju ke utara, pada
saat di gundukan tanah yang tinggi beliau melihat kanan kiri [ngileng basa
jawa] yang akhirnya tempat tersebut dinamai Desa Ketileng. Terus berjalan ke
utara menyeberangi sungai sapi, yang palungnya
yang amat dalam [kedung basa jawa] dan disinya ada tanaman talas [lumbu] yang
pohonnya ditimur sungai dan daunnya di sebelah sungai, akhirnya tempat itu
diberi nama Kedunglumbu.
Pasa saat istirahat, bertemu dengan seorang
kakek kakek yang memakai lancingan yang
akhirnya orang itu disebut mbah tuan lancing. Yang konon disuruh mampir seterusnya
Ki Ageng Penjawi dinobatkan sebagai guru dari Tuan Lancing
Dipedepokan kedunglumbu mempunyai seorang murid yang bernama Nitipraja.
Pada saat trukah ke Somawangi, bila setelah selesai kerja Nitipraja langsung mandi dengan api yang
membara.
Waktu ada undangan ke Banyumas Ki
Ageng Penjawi mewakilkan kepada murid kesayangannya yaitu Nitipraja .Pada saat
sarasean di pendopo. Nitipraja dikerjain [dijaili] Yang pada saat berdiri ia
tidak dapat pantantnya lengket ke tikar. Karena kesaktiannya maka berdoa, yang
akhirnya dapat berdiri seperti semula .Pada saat iti ia langsung menyumpahi
pada pada orang orang banyumas Besok
orang orang Banyumas bila datang ke Kebanaran akan terjadi musibah.
Ini dulu versi
sejarah kedung lumbu.
Disadur oleh (Alm.
K.Khusbandi)
Disalurkan oleh
(I.P. Krishnaaji)
Njenengan aslinya mana mas?
BalasHapusKalo boleh tau k. Khusbandi itu orang mana?
asli desa kebanaran mas,
BalasHapusK. Khusbandi ya asli Kebanaran juga mas.
HAI COWOK KENAL IKEE NDAAAAA
BalasHapusAku lair nang gajahuling gede nang gajahuling ning nembe tau krungu kisah kie.
BalasHapus