Nama : Ilham Pratama Krishnaaji
NPM : 15514184
Dosen : Nita Sri Handayani, S.Psi
I . TEORI TEORI MENGENAI KREATIVITAS
Teori Pendorong
Kreativitas agar dapat terwujud
diperlukan dorongan dari individu (motivasi intrinsik) maupun dorongan dari
lingkungan (motivasi ekstrinsik).
a. Motivasi Intrinsik dari Kreativitas
Setiap individu memiliki
kecenderungan atau dorongan mewujudkan potensinya, mewujudkan dirinya, dorongan
berkembang menjadi matang, dorongan mengungkapkan dan mengaktifkan semua
kapasitasnya.
Dorongan ini merupakan motivasi
primer untuk kreativitas ketika individu membentuk hubungan-hubungan baru
denganlingkungannya dalam upaya manjadi dirinya sepenuhnya. (Rogers dan Vernon
1982)
b. Kondisi eksternal yang mendorong perilaku
kreatif
Kretaivitas memang tidak dapat
dipaksakan, tetapi harus dimungkinkan untuk tumbuh, bibit unggul memerlukan
kokdisi yang memupuk dan memungkinkan bibit itu mengembangkan sendiri
potensinya.
Bagaimana cara menciptakan
lingkungan eksternal yang dapat memupuk dorongan dalam diri anak (internal)
untuk mengembangkan kreativitasnya?
II. Teori yang melandasi Proses Kreatif
a. Teori
Wallas
Wallas dalam bukunya “The Art of
Thought” menyatakan bahwa proses kreatif meliputi 4 tahap :
1.
Tahap Persiapan, memperisapkan diri
untuk memecahkan masalah dengan mengumpulkan data/ informasi, mempelajari pola
berpikir dari orang lain, bertanya kepada orang lain.
1.
Tahap Inkubasi, pada tahap ini
pengumpulan informasi dihentikan, individu melepaskan diri untuk sementara
masalah tersebut. Ia tidak memikirkan masalah tersebut secara sadar, tetapi
“mengeramkannya’ dalam alam pra sadar.
2.
Tahap Iluminasi, tahap ini merupakan
tahap timbulnya “insight” atau “Aha Erlebnis”, saat timbulnya inspirasi atau
gagasan baru.
3.
Tahap Verifikasi, tahap ini
merupakan tahap pengujian ide atau kreasi baru tersebut terhapad realitas.
Disini diperlukan pemikiran kritis dan konvergen. Proses divergensi (pemikiran
kreatif) harus diikuti proses konvergensi (pemikiran kritis).
b. Teori belahan Otak Kiri dan Otak
Kanan
Sejak anak lahir, gerakannya belum
berdifensiasi, selanjutnya baru berkembang menjadi pola dengan kecenderungan
kiri atau kanan. Hampir setiap orang mempunyai sisi yang dominan. Pada umunya
orang lebih biasa menggunakan tangan kanan (dominasi belahan otak kiri), tetapi
ada sebagian orang kidal (dominan otak kanan). Terdapat “dichotomia” yang
membagi fungsi mentala menjadi fungsi belahan otak kanan dan belahan otak kiri.
Teori ini walaupun didukung data
empiris, namun masih memerlukan pengkajian lebih lanjut (Dacey, 1989 : Piirto
1992).
Dikotomi Fungsi Mental
|
Belahan
Otak Kiri
|
Belahan
Otak Kanan
|
|
Intelek
|
Intuisi
|
|
Konvergen
|
Divergen
|
|
Intelektual
|
Emosional
|
|
Rasional
|
Metaforik, intuitif
|
|
Verbal
|
Non Verbal
|
|
Horizontal
|
Vertikal
|
|
Konkret
|
Abstrak
|
|
Realistis
|
Impulsif
|
|
Diarahkan
|
Bebas
|
|
Diferensial
|
Eksistensial
|
|
Sekuensial
|
Multipel
|
|
Historikal
|
Tanpa Batas Waktu
|
|
Analitis
|
Sintesis, Holitik
|
|
Eksplisit
|
Implisit
|
|
Objektif
|
Subjektif
|
|
Suksesif
|
Simultan
|
Sumber : Springer, S.P dan Deutsch,
1981
III. Teori
yang melandasi tentang Produk Kreatif
Pada pribadi yang kreatif, bila
memiliki kondisi pribadi dan lingkungan yang memberi peluang bersibuk diri
secara kreatif (proses), maka dapat diprediksikan bahwa produk kreatifnya akan
muncul.
1. Cropley (1994) menunjukkan
hubungan antara tahap-tahap proses kreatif dari Wallas (persiapan, inkubasi,
iluminasi, verifikasi) dan produk yang psikologis yang berinteraksi :
hasil berpikir konvergen ->
memperoleh pengetahuan dan ketrampilan, jika dihadapkan dengan situasi yang
menuntut tindakan yaitu pemecahan masalah ->individu menggabungkan
unsur-unsur mental sampai timbul “ konfigurasi”. Konfigurasi dapat berupa
gagasan, model, tindakan cara menyusun kata, melodi atau bentuk.
Pemikir divergen (kreatif) mampu
menggabungkan unsur-unsur mental dengan cara-cara yang tidak lazim atau tidak
diduga. Konstruksi konfigurasi tersebut tidak hanya memerlukan berpikir
konvergen dan divergen saja, tetapi juga motivasi, karakteristik pribadi yang
sesuai (misalnya keterbukaan terhadap pembaruan unsur-unsur sosial, ketrampilan
komunikasi). Proses ini disertai perasaan atau emosi yang dapat menunjang atau
menghambat.
b.
Model dari Besemer dan Treffirger
Besemer dan Treffirger menyarankan produk
kreatif digolongkan menjadi 3 kategori :
1. Kebaruan (novelty)
Kebaruan : sejauh mana produk itu
baru, dalam hal jumlah dan luas proses yang baru, teknik baru, bahan baru,
konsep baru, produk kreatif dimasa depan.
Produk itu orisinal : sangat langka
diantara produk yang dibuat orang dengan pengalaman dan pelatihan yang sama,
juga menimbulkan kejutan (suprising) dan juga germinal (dapat menimbulkan
gagasan produk orisinal lainnya
2. Pemecahan (resolution)
Menyangkut derajat sejauh mana
produk itu memenuhi kebutuhan untuk mengatasi masalah.
Ada 3 kriteria dalam dimensi ini :
–
produk harus bermakna
–
produk harus logis
–
produk harus berguna (dapat diterapkan secara praktis).
3. Keterperincian (elaboration) dan sintesis
Dimensi ini merujuk pada derajat
sejauh mana produk itu menggabungkan unsur-unsur yang tidak sama / serupa
menjadi keseluruhan yang canggih dan koheren.
Ada 5 kriteria untuk dimensi ini :
–
produk itu harus organis (mempunyai arti inti dalam penyusunan produk)
–
elegan, yaitu canggih (mempunyai nilai lebih dari yang tampak)
–
kompleks, yaitu berbagai unsur digabung pada satu tingkat atau lebih
–
dapat dipahami (tampil secara jelas)
–
menunjukan ketrampilan atau keahlian
Produk itu tidak perlu menonjol
dalam semua kriteria. Sebagai contoh tabel dibawah ini yaitu Penilaian Dacey
(1989) terhadap tingkat kreativitas penemuan Graham Bell tentang penemuan
pesawat telepon.
c. Model
Penilaian Kreativitas dalam Mengarang
1.
Kelancaran
Jumlah
kata yang saya gunakan dalam tulisan saya berjumlah 1.129 kata. Untuk poin
pertama ini, saya memperoleh skor 5, karena karangan saya lebih dari 200 kata
2. Kelenturan (fleksibilitas)
Fleksibilitas struktur kalimat dalam konten karangan
saya:
·
Ragam bentuk kalimat :
Kalimat yang digunakan dalam karangan ini terdiri dari
beberapa bentuk “Pada saat saya duduk di SD,
saya sangat suka menggambar, terutama gambar-gambar manga (komik)”. (skor 1)
·
Keragaman dalam menggunakan kalimat
:
o Kalimat deklaratif : “Ayah saya berprofesi sebagai dosen, dan guru SLB.
Ibu saya merupakan seorang konselor HIV/AIDS di Klinik Kartika Rumkit Kesdam
Medan”. (skor 1)
o Kalimat Tunggal:
“Kami memanggilnya ‘Petong’”. (skor 1)
o Kalimat Langsung: “Biarkan saja, namanya juga anak band”
ucap ayah saya. (skor 1)
·
Keragaman dalam panjang kalimat : (skor 1)
o Kalimat panjang (lebih dari 10 kata)
“Saya suka mencoreti belakang buku saya, bahkan saya
juga memanfaatkan jatah buku baru yang diberikan oleh orang tua saya, untuk
saya jadikan sebuah buku komik”. (25 kata)
o Kalimat singkat (kurang dari 5 kata)
“Kami memanggilnya
‘Petong’”.
Kelenturan dalam Konten atau Gagasan
·
Imajinasi: Saya cukup mampu
mengembangkan topik karangan (skor 1)
·
Fantasi: Tidak ada pertimbangan
dimensi fantasi pada karangan, sebab karangan ini berisikan fakta. Karangan ini
merupakan analisis diri menggunakan teori. (skor 1)
3. Keaslian (originalitas)
·
Orisinalitas dalam tema: Tema dan
topik karangan cukup lazim digunakan (skor 0)
·
Orisinalitas dalam pemecahan atau
akhir cerita: Karangan pasti akan menceritakan akhir yang berbeda-beda pada
tiap orang, walaupun tema sama. Karena karangan dianalisis berdasarkan
pandangan masing-masing (skor 1)
·
Humor: Tidak ada aspek yang
menggelikan dalam karangan ini (skor 0)
·
Menggunakan kata atau nama baru
untuk mengungkapkan suatu konsep. (skor 1)
“Bahkan ibu saya menyebut
saya ‘bertelor’”
·
Orisinalitas dalam gaya penulisan.
Sama seperti poin orisinalitas dalam pemecahan atau akhir cerita, tentu saja
gaya penulisan dalam setiap karangan berbeda-beda. (skor 1)
4. Kerincian (elaborasi, kekayaan): mampu menghias cerita agar tampak kaya.
·
Mengungkapkan ekspresi; hidup dan
menarik. (skor 1)
·
Emosi; mampu mengungkapkan perasaan.
(skor 1)
·
Empati; secara eksplisit
mengungkapkan perasaan dalam penggambaran tokoh utama. Ini menjadi mudah,
karena karangan ini memang menceritakan pengalaman pribadi. (skor 1)
·
Unsur pribadi. Saya melihat diri
saya dalam kejadian untuk mengungkapkan pendapat dan pengalaman pribadi. (skor
1)
·
Percakapan: kalimat naratif langsung
dengan menggunakan tanda kutip (skor 1)
saya ingat apa ucapan ayah saya: “Biarkan
saja, namanya juga anak band