Minggu, 17 Mei 2015

Teori Kreativitas



Nama : Ilham Pratama Krishnaaji      
NPM : 15514184
Dosen : Nita Sri Handayani, S.Psi

I . TEORI TEORI MENGENAI KREATIVITAS
Teori Pendorong
Kreativitas agar dapat terwujud diperlukan dorongan dari individu (motivasi intrinsik) maupun dorongan dari lingkungan (motivasi ekstrinsik).
a.    Motivasi Intrinsik dari Kreativitas
Setiap individu memiliki kecenderungan atau dorongan mewujudkan potensinya, mewujudkan dirinya, dorongan berkembang menjadi matang, dorongan mengungkapkan dan mengaktifkan semua kapasitasnya.
Dorongan ini merupakan motivasi primer untuk kreativitas ketika individu membentuk hubungan-hubungan baru denganlingkungannya dalam upaya manjadi dirinya sepenuhnya. (Rogers dan Vernon 1982)
b.    Kondisi eksternal yang mendorong perilaku kreatif
Kretaivitas memang tidak dapat dipaksakan, tetapi harus dimungkinkan untuk tumbuh, bibit unggul memerlukan kokdisi yang memupuk dan memungkinkan bibit itu mengembangkan sendiri potensinya.
Bagaimana cara menciptakan lingkungan eksternal yang dapat memupuk dorongan dalam diri anak (internal) untuk mengembangkan kreativitasnya?

 II. Teori yang melandasi Proses Kreatif
a.   Teori Wallas
Wallas dalam bukunya “The Art of Thought” menyatakan bahwa proses kreatif meliputi 4 tahap :
1.    Tahap Persiapan, memperisapkan diri untuk memecahkan masalah dengan mengumpulkan data/ informasi, mempelajari pola berpikir dari orang lain, bertanya kepada orang lain.
1.    Tahap Inkubasi, pada tahap ini pengumpulan informasi dihentikan, individu melepaskan diri untuk sementara masalah tersebut. Ia tidak memikirkan masalah tersebut secara sadar, tetapi “mengeramkannya’ dalam alam pra sadar.
2.  Tahap Iluminasi, tahap ini merupakan tahap timbulnya “insight” atau “Aha Erlebnis”, saat timbulnya inspirasi atau gagasan baru.
3.  Tahap Verifikasi, tahap ini merupakan tahap pengujian ide atau kreasi baru tersebut terhapad realitas. Disini diperlukan pemikiran kritis dan konvergen. Proses divergensi (pemikiran kreatif) harus diikuti proses konvergensi (pemikiran kritis).
b. Teori belahan Otak Kiri dan Otak Kanan
Sejak anak lahir, gerakannya belum berdifensiasi, selanjutnya baru berkembang menjadi pola dengan kecenderungan kiri atau kanan. Hampir setiap orang mempunyai sisi yang dominan. Pada umunya orang lebih biasa menggunakan tangan kanan (dominasi belahan otak kiri), tetapi ada sebagian orang kidal (dominan otak kanan). Terdapat “dichotomia” yang membagi fungsi mentala menjadi fungsi belahan otak kanan dan belahan otak kiri.
Teori ini walaupun didukung data empiris, namun masih memerlukan pengkajian lebih lanjut (Dacey, 1989 : Piirto 1992).
Dikotomi Fungsi Mental
Belahan Otak Kiri
Belahan Otak Kanan
Intelek
Intuisi
Konvergen
Divergen
Intelektual
Emosional
Rasional
Metaforik, intuitif
Verbal
Non Verbal
Horizontal
Vertikal
Konkret
Abstrak
Realistis
Impulsif
Diarahkan
Bebas
Diferensial
Eksistensial
Sekuensial
Multipel
Historikal
Tanpa Batas Waktu
Analitis
Sintesis, Holitik
Eksplisit
Implisit
Objektif
Subjektif
Suksesif
Simultan
Sumber : Springer, S.P dan Deutsch, 1981

 III. Teori  yang melandasi tentang Produk Kreatif
Pada pribadi yang kreatif, bila memiliki kondisi pribadi dan lingkungan yang memberi peluang bersibuk diri secara kreatif (proses), maka dapat diprediksikan bahwa produk kreatifnya akan muncul.
1. Cropley (1994) menunjukkan hubungan antara tahap-tahap proses kreatif dari Wallas (persiapan, inkubasi, iluminasi, verifikasi) dan produk yang psikologis yang berinteraksi :
hasil berpikir konvergen -> memperoleh pengetahuan dan ketrampilan, jika dihadapkan dengan situasi yang menuntut tindakan yaitu pemecahan masalah ->individu menggabungkan unsur-unsur mental sampai timbul “ konfigurasi”. Konfigurasi dapat berupa gagasan, model, tindakan cara menyusun kata, melodi atau bentuk.
Pemikir divergen (kreatif) mampu menggabungkan unsur-unsur mental dengan cara-cara yang tidak lazim atau tidak diduga. Konstruksi konfigurasi tersebut tidak hanya memerlukan berpikir konvergen dan divergen saja, tetapi juga motivasi, karakteristik pribadi yang sesuai (misalnya keterbukaan terhadap pembaruan unsur-unsur sosial, ketrampilan komunikasi). Proses ini disertai perasaan atau emosi yang dapat menunjang atau menghambat.
b.  Model dari Besemer dan Treffirger
Besemer dan Treffirger menyarankan produk kreatif digolongkan menjadi 3 kategori :
1. Kebaruan (novelty)
Kebaruan : sejauh mana produk itu baru, dalam hal jumlah dan luas proses yang baru, teknik baru, bahan baru, konsep baru, produk kreatif dimasa depan.
Produk itu orisinal : sangat langka diantara produk yang dibuat orang dengan pengalaman dan pelatihan yang sama, juga menimbulkan kejutan (suprising) dan juga germinal (dapat menimbulkan gagasan produk orisinal lainnya
2. Pemecahan (resolution)
Menyangkut derajat sejauh mana produk itu memenuhi kebutuhan untuk mengatasi masalah.
Ada 3 kriteria dalam dimensi ini :
–          produk harus bermakna
–          produk harus logis
–          produk harus berguna (dapat diterapkan secara praktis).
3. Keterperincian (elaboration) dan sintesis
Dimensi ini merujuk pada derajat sejauh mana produk itu menggabungkan unsur-unsur yang tidak sama / serupa menjadi keseluruhan yang canggih dan koheren.
Ada 5 kriteria untuk dimensi ini :
–          produk itu harus organis (mempunyai arti inti dalam penyusunan produk)
–          elegan, yaitu canggih (mempunyai nilai lebih dari yang tampak)
–          kompleks, yaitu berbagai unsur digabung pada satu tingkat atau lebih
–          dapat dipahami (tampil secara jelas)
–          menunjukan ketrampilan atau keahlian
Produk itu tidak perlu menonjol dalam semua kriteria. Sebagai contoh tabel dibawah ini yaitu Penilaian Dacey (1989) terhadap tingkat kreativitas penemuan Graham Bell tentang penemuan pesawat telepon.
c.  Model Penilaian Kreativitas dalam Mengarang
      1.       Kelancaran
Jumlah kata yang saya gunakan dalam tulisan saya berjumlah 1.129 kata. Untuk poin pertama ini, saya memperoleh skor 5, karena karangan saya lebih dari 200 kata
2.       Kelenturan (fleksibilitas)
Fleksibilitas struktur kalimat dalam konten karangan saya:
·         Ragam bentuk kalimat :
Kalimat yang digunakan dalam karangan ini terdiri dari beberapa bentuk “Pada saat saya duduk di SD, saya sangat suka menggambar, terutama gambar-gambar manga (komik)”. (skor 1)
·         Keragaman dalam menggunakan kalimat :
o   Kalimat deklaratif : “Ayah saya berprofesi sebagai dosen, dan guru SLB. Ibu saya merupakan seorang konselor HIV/AIDS di Klinik Kartika Rumkit Kesdam Medan”. (skor 1)
o   Kalimat Tunggal: “Kami memanggilnya ‘Petong’”. (skor 1)
o   Kalimat Langsung:  “Biarkan saja, namanya juga anak band” ucap ayah saya. (skor 1)
·         Keragaman dalam panjang kalimat : (skor 1)
o   Kalimat panjang (lebih dari 10 kata)
Saya suka mencoreti belakang buku saya, bahkan saya juga memanfaatkan jatah buku baru yang diberikan oleh orang tua saya, untuk saya jadikan sebuah buku komik”. (25 kata)
o   Kalimat singkat (kurang dari 5 kata)
Kami memanggilnya ‘Petong’”.
                Kelenturan dalam Konten atau Gagasan
·         Imajinasi: Saya cukup mampu mengembangkan topik karangan (skor 1)
·         Fantasi: Tidak ada pertimbangan dimensi fantasi pada karangan, sebab karangan ini berisikan fakta. Karangan ini merupakan analisis diri menggunakan teori. (skor 1)
3.       Keaslian (originalitas)
·         Orisinalitas dalam tema: Tema dan topik karangan cukup lazim digunakan (skor 0)
·         Orisinalitas dalam pemecahan atau akhir cerita: Karangan pasti akan menceritakan akhir yang berbeda-beda pada tiap orang, walaupun tema sama. Karena karangan dianalisis berdasarkan pandangan masing-masing (skor 1)
·         Humor: Tidak ada aspek yang menggelikan dalam karangan ini (skor 0)
·         Menggunakan kata atau nama baru untuk mengungkapkan suatu konsep. (skor 1)
Bahkan ibu saya menyebut saya ‘bertelor’”
·         Orisinalitas dalam gaya penulisan. Sama seperti poin orisinalitas dalam pemecahan atau akhir cerita, tentu saja gaya penulisan dalam setiap karangan berbeda-beda. (skor 1)
4.       Kerincian (elaborasi, kekayaan): mampu menghias cerita agar tampak kaya.
·         Mengungkapkan ekspresi; hidup dan menarik. (skor 1)
·         Emosi; mampu mengungkapkan perasaan. (skor 1)
·         Empati; secara eksplisit mengungkapkan perasaan dalam penggambaran tokoh utama. Ini menjadi mudah, karena karangan ini memang menceritakan pengalaman pribadi. (skor 1)
·         Unsur pribadi. Saya melihat diri saya dalam kejadian untuk mengungkapkan pendapat dan pengalaman pribadi. (skor 1)
·         Percakapan: kalimat naratif langsung dengan menggunakan tanda kutip (skor 1)
saya ingat apa ucapan ayah saya: “Biarkan saja, namanya juga anak band

Tidak ada komentar:

Posting Komentar