Ilham
Pratama Krishnaaji
15514184
Psikologi
Manajemen
A.
Teori Kekuasaan
Kekuasaan adalah kemampuan seseorang atau sekelompok manusia
untuk mempengaruhi tingkah lakunya seseorang atau kelompok lain sedemikian rupa
sehingga tingkah laku itu menjadi sesuai dengan keinginan dan tujuan dari orang
yang mempunyai kekuasaan itu. Kekuasaan adalah kemampuan untuk melakukan atau mempengaruhi
sesuatu atau apapun. Kekuasaan dalam konteks ini berhubungan dengan agency, bahawa hal itu
untuk kemampuan seseorang melakukan
perubahan/perbedaan di dunia. Kekuasaan adalah kemampuan yang legal, kapasitas atau kewenangan untuk
bertindak, khususnya pada proses
mendelegasikan kewenangan. Kekuasaan dalam pemahaman ini merujuk pada kewenangan atau hak yang oleh
sebahagian orang harus mendapatkan pihak
lain untuk melakukan segala yang mereka anggap sebagai wewenang.
B.
Teori Leadership (Kepemimpinan)
Pengertian kepemimpinan sebagai
atribut atau kelengkapan suatu kedudukan, diantaranya dikemukakan oleh Janda
(dalam Yukl, 1989), sebagai berikut.
“Leadership is a particular type of power relationship
characterized by a group member’s perception that another group member has the
right to prescribe behavior patterns for the former regarding his activity as a
group member”.
(Kepemimpinan adalah jenis khusus hubungan kekuasaan yang
ditentukan oleh anggapan para anggota kelompok bahwa seorang dari anggota
kelompok itu memiliki kekuasaan untuk menentukan pola perilaku terkait dengan aktivitasnya sebagai
anggota kelompok, pen.).
1.
Path Goal Theory
Teori yang menjelaskan bagaimana pemimpin memotivasi
bawahannya untuk mencapai tujuan yang di tetapkan oleh organisasi. Pemimpin
akan berhasil apabila ia mampu menunjukkan kepada bawahannya bagaimana menjadi
seorang pemimpin dengan gaya yang bersahabat dan merangkul.
2. Contingency Theory:
Teori ini menempatkan pemimpin pada pola kepemimpinan yang
sesuai dengan situasi yang ada. Teori ini mengacu pada dua motivasi, yaitu task
motivation dan relantionship motivation.
3. Situational Theory:
Teori ini disebut juga “manajemen yang berdasarkan situasi”.
Apabila kondisinya baik, maka seseorang akan melakukan tindakan A, namun bila
kondisinya tidak kondusif, ia akan melakukan tindakan B.
4. Participative Theory:
Gaya yang di terapkan pada tugas yang membingungkan.
Pemimpin mengajak pengikut untuk memberikan partisipasi, ide dan opini tentang
bagaimana menggunakan sarana untuk mencapai suatu tujuan.
5. Team Leadership Theory:
Suatu tim/kelompok yang memiliki kemauan dan kemampuan yang
berbeda, bergantung satu sama lain, memiliki tujuan yang sama, dan saling
mengkoordinasikan aktivitas mereka untuk meraih tujuan.
C. Teori Motivasi
Motivasi (Motivation),
Kebutuhan (Need), Dorongan (Drive) : keadaan dalam pribadi seseorang yang
mendorong keinginan individu untuk
melakukan kegiatan tertentu guna mencapai tujuan. Dorongan yang timbul pada
atau di dalam diri seseorang untuk menggerakkan dan mengarahkan perilaku.
Teori Motivasi dibagi menjadi dua;
1. TEORI KEPUASAN :
Memfokuskan perhatian pada faktor-faktor yang mendorong, mengarahkan,
mempertahankan dan menghentikan perilaku. Memusatkan perhatian pada kebutuhan
individu di dalam menjelaskan kepuasan kerja, perilaku kerja dan sistem
imbalan.
A.
Hiraki Kebutuhan Maslow ( dari Abraham Maslow)
Hipotesinya adalah
didalam semua manusia adalah jenjang kebutuhan.
Kebutuhannya antara
lain; Fisiologis, Keamanan dan
keselamatan, Rasa memiliki, Perhargaan, Aktualisasi diri,
B.
Teori X Dan Teori Y
Douglas McGregor mengemukakan
dua pandangan yang jelas berbeda mengenai manusia , secara dasar negatif : TEORI
X dan yang pada dasarnya positif
: TEORI
Y.
C. Teori Motivasi –
Pemeliharaan Dari Herzberg
Faktor-faktor penyebab
kepuasan kerja mempunyai pengaruh pendorong bagi prestasi dan semangat kerja,
sedang factor penyebab ketidak puasan
kerja mempunyai pengaruh negatif.
D. Teori ERG – ADELFER
( dari Clayton Adelfer)
Sependapat dengan
hiraki kebutuhan Maslow, namun hirarki kebutuhannya hanya terdiri dari tiga hal
: Eksistensi (Existence), Keterhubungan/keterkaitan (Relatednes), Pertumbuhan
(Growth)
E. Teori Prestasi dari
McClelland
Memfokuskan pada tiga
kebutuhan : Kebutuhan akan prestasi , Kebutuhan akan kekuasaan, Kebutuhan akan
afiliasi
2. TEORI-TEORI PROSES :
Teori yang memberikan uraian dan analisis dari prose dimana perilaku
mempunyai kekuatan, diarahkan, dipertahankan dan dihentikan.
A. Teori Penguatan \
Teori Pembentukan Perilaku B.F. Skinner
Pendekatan ini
berdasarkan atas hukum pengaruh (law of effect) yang menyatakan bahwa perilaku
yang diikuti dengan konsekuensi-konsekuensi pemuasan cendrung diulang sedangkan
perilaku yang diikuti dengan konsekuensi hukuman cenderung tidak diulang. Individu
dimasa mendatang akan belajar dari pengalaman diwaktu lalu proses pembentukan
perilaku.
B. Teori Pengharapan /
Expectancy Theory
Teori ini menyatakan
bahwa perilaku kerja karyawan dapat dijelaskan dengan kenyataan : para karyawan
menentukan terlebih dahulu apa perilaku mereka yang dapat dijalankan dan nilai
yang diperkirakan sebagai hasil alternatif dari perilakunya
C. Teori Keadilan
Teori ini mengemukakan
bahwa: Orang akan selalu cenderung membandingkan antara (1) masukan masukan
yang mereka berikan pada pekerjaan dalam bentuk pendidikan, pengalaman, latihan
dan usaha dengan (2) hasil hasil atau penghargaan yang mereka terima seperti
juga mereka membandingkan balas jasa yang diterima karyawan lain dengan yang
diterima dirinya untuk pekerjaan yang sama.
D. Teori Penentuan
tujuan dari Edwin Locke
Menyatakan bahwa
maksud-maksud untuk bekerja ke arah suatu tujuan merupakan sumber utama dari
motivasi kerja. Artinya tujuan memberitahu seorang karyawan apa yang perlu
dikerjakan dan berapa banyak upaya yang harus dilakukan.
Gaya Kepemimpinan
Presiden Indonesia
1. Ir. Soekarno
Gaya kepemimpinan yang diterapkan
oleh Ir. Soekarno berorientasi pada moral dan etika ideologi yang mendasari
negara atau partai, sehingga sangat konsisten dan sangat fanatik, cocok
diterapkan pada era tersebut. Sifat kepemimpinan yang juga menonjol dan Ir.
Soekarno adalah percaya diri yang kuat, penuh daya tarik, penuh inisiatif dan
inovatif serta kaya akan ide dan gagasan baru. Sehingga pada puncak
kepemimpinannya, pernah menjadi panutan dan sumber inspirasi pergerakan
kemerdekaan dari bangsa-bangsa Asia dan Afrika serta pergerakan melepas
ketergantungan dari negara-negara Barat (Amerika dan Eropa).
Ir. Soekarno adalah pemimpin yang
kharismatik, memiliki semangat pantang menyerah dan rela berkorban demi
persatuan dan kesatuan serta kemerdekaan bangsanya. Namun berdasarkan
perjalanan sejarah kepemimpinannya, ciri kepemimpinan yang demikian ternyata
mengarah pada figur sentral dan kultus individu. Menjelang akhir
kepemimpinannya terjadi tindakan politik yang sangat bertentangan dengan UUD
1945, yaitu mengangkat Ketua MPR (S) juga.
2. Soeharto
2. Soeharto
Gaya Kepemimpinan Presiden Soeharto
merupakan gabungan dari gaya kepemimpinan Proaktif-Ekstraktif dengan
Adaptif-Antisipatif, yaitu gaya kepemimpinan yang mampu menangkap peluang dan
melihat tantangan sebagai sesuatu yang berdampak positif serta mempunyal visi
yang jauh ke depan dan sadar akan perlunya langkah-langkah penyesuaian.
Tahun-tahun pemerintahan Suharto
diwarnai dengan praktik otoritarian di mana tentara memiliki peran dominan di
dalamnya. Kebijakan dwifungsi ABRI memberikan kesempatan kepada militer untuk
berperan dalam bidang politik di samping perannya sebagai alat pertahanan
negara. Demokrasi telah ditindas selama hampir lebih dari 30 tahun dengan
mengatasnamakan kepentingan keamanan dalam negeri dengan cara pembatasan jumlah
partai politik, penerapan sensor dan penahanan lawan-lawan politik. Sejumlah
besar kursi pada dua lembaga perwakilan rakyat di Indonesia diberikan kepada
militer, dan semua tentara serta pegawai negeri hanya dapat memberikan suara
kepada satu partai penguasa Golkar Bila melihat dari penjelasan singkat di atas
maka jelas sekali terlihat bahwa mantan Presiden Soeharto memiliki gaya
kepemimpinan yang otoriter, dominan, dan sentralistis
3. Susilo Bambang Yudhoyono
Beliau
ini presiden pertama yang dipilih oleh rakyat. Orangnya mampu dan bisa menjadi
presiden. Juga cukup bersih, kemajuan ekonomi dan stabilitas negara terlihat
membaik. Sayang tidak mendapat dukungan yang kuat di Parlemen. Membuat beliau
tidak leluasa mengambil keputusan karena harus mempertimbangkan dukungannya di
parlemen.
SBY sebagai pemimpin yang mampu
mengambil keputusan kapanpun, di manapun, dan dalam kondisi apapun. Sangat jauh
dari anggapan sementara kalangan yang menyebut SBY sebagai figur peragu,
lambat, dan tidak "decisive" (tegas). Sosok yang demokratis,
menghargai perbedaan pendapat, tetapi selalu defensif terhadap kritik. Hanya
sayang, konsistensi Yudhoyono dinilai buruk. Ia dipandang sering berubah-ubah
dan membingungkan publik.
4. Jokowi
Presiden yang terkenal dengan
mblusukan ini menjadi Presiden Republik Indonesia pada tahun 2014 setelah
mengalahkan Prabowo dalam pemilu pilpres 2014. Awalnya disebut sebagai pengikut
Megawati, namun akhirnya menyatakan bahwa dia sendiri untuk memerintahkan.
Indonesia.
Gaya kepemimpinan yang menganut sistem
mendekati rakyat atau merangkul rakyat membuat Jokowi lebih dekat dengan
rakyat. Sikap rendah hati, berwibawa dan tegas mampu membakar para pembenci
pada awal pemerintahannya.
Referensi:
http://www.academia.edu/5434255/Teori_-_teori_Leadership
(Minggu, 16-10-2016, Jam 00.33)
https://www.google.com/url?sa=t&rct=j&q=&esrc=s&source=web&cd=3&cad=rja&uact=8&ved=0ahUKEwiS-NHZwt_PAhWLMo8KHWmrAj4QFggtMAI&url=http%3A%2F%2Fendang_setya.staff.gunadarma.ac.id%2FDownloads%2Ffiles%2F35889%2FPK_MOTIVASI.doc&usg=AFQjCNEphUYKMivDTcqEgDo54EdEtwYLRg&sig2=O8ROQ_BAcAx7ipjzCzLgUg&bvm=bv.135974163,d.c2I
atau http://endang_setya.staff.gunadarma.ac.id
(Minggu, 16-10-2016, jam 23.00)
http://digilib.uinsby.ac.id/2360/5/Bab%202.pdf
(Sabtu, 15-06-2016, jam 18.30)
http://www.kompasiana.com/hennysovya/mengenal-gaya-kepemimpinan-presiden-di-indonesia_552c5c1c6ea834f7738b4571
(Minggu, 16-10-2016, jam 23.50)
