Minggu, 16 Oktober 2016

Teori Dan Analisis Kepemimpinan



Ilham Pratama Krishnaaji
15514184
Psikologi Manajemen

A. Teori Kekuasaan
Kekuasaan adalah kemampuan seseorang atau sekelompok manusia untuk mempengaruhi tingkah lakunya seseorang atau kelompok lain sedemikian rupa sehingga tingkah laku itu menjadi sesuai dengan keinginan dan tujuan dari orang yang mempunyai kekuasaan itu. Kekuasaan adalah kemampuan untuk melakukan atau mempengaruhi sesuatu atau apapun. Kekuasaan dalam konteks ini  berhubungan dengan agency, bahawa hal itu untuk kemampuan seseorang  melakukan perubahan/perbedaan di dunia. Kekuasaan adalah kemampuan  yang legal, kapasitas atau kewenangan untuk bertindak, khususnya pada  proses mendelegasikan kewenangan. Kekuasaan dalam pemahaman ini  merujuk pada kewenangan atau hak yang oleh sebahagian orang harus  mendapatkan pihak lain untuk melakukan segala yang mereka anggap  sebagai wewenang.

B. Teori Leadership (Kepemimpinan)
Pengertian kepemimpinan sebagai atribut atau kelengkapan suatu kedudukan, diantaranya dikemukakan oleh Janda (dalam Yukl, 1989), sebagai berikut.
“Leadership is a particular type of power relationship characterized by a group member’s perception that another group member has the right to prescribe behavior patterns for the former regarding his activity as a group member”.
(Kepemimpinan adalah jenis khusus hubungan kekuasaan yang ditentukan oleh anggapan para anggota kelompok bahwa seorang dari anggota kelompok itu memiliki kekuasaan untuk menentukan pola  perilaku terkait dengan aktivitasnya sebagai anggota kelompok, pen.).
1. Path Goal Theory„
Teori yang menjelaskan bagaimana pemimpin memotivasi bawahannya untuk mencapai tujuan yang di tetapkan oleh organisasi. Pemimpin akan berhasil apabila ia mampu menunjukkan kepada bawahannya bagaimana menjadi seorang pemimpin dengan gaya yang bersahabat dan merangkul.

2. Contingency Theory:
Teori ini menempatkan pemimpin pada pola kepemimpinan yang sesuai dengan situasi yang ada. Teori ini mengacu pada dua motivasi, yaitu task motivation dan relantionship motivation.
3. Situational Theory:
Teori ini disebut juga “manajemen yang berdasarkan situasi”. Apabila kondisinya baik, maka seseorang akan melakukan tindakan A, namun bila kondisinya tidak kondusif, ia akan melakukan tindakan B.
4. Participative Theory:
Gaya yang di terapkan pada tugas yang membingungkan. Pemimpin mengajak pengikut untuk memberikan partisipasi, ide dan opini tentang bagaimana menggunakan sarana untuk mencapai suatu tujuan.
5. Team Leadership Theory:
Suatu tim/kelompok yang memiliki kemauan dan kemampuan yang berbeda, bergantung satu sama lain, memiliki tujuan yang sama, dan saling mengkoordinasikan aktivitas mereka untuk meraih tujuan.


C. Teori Motivasi
Motivasi (Motivation), Kebutuhan (Need), Dorongan (Drive) : keadaan dalam pribadi seseorang yang mendorong  keinginan individu untuk melakukan kegiatan tertentu guna mencapai tujuan. Dorongan yang timbul pada atau di dalam diri seseorang untuk menggerakkan dan mengarahkan perilaku.
Teori Motivasi dibagi menjadi dua;
1. TEORI KEPUASAN  :
Memfokuskan perhatian pada faktor-faktor yang mendorong, mengarahkan, mempertahankan dan menghentikan perilaku. Memusatkan perhatian pada kebutuhan individu di dalam menjelaskan kepuasan kerja, perilaku kerja dan sistem imbalan.

A. Hiraki Kebutuhan Maslow ( dari Abraham Maslow)
Hipotesinya adalah didalam semua manusia adalah jenjang kebutuhan.
Kebutuhannya antara lain;  Fisiologis, Keamanan dan keselamatan, Rasa memiliki, Perhargaan, Aktualisasi diri,

B. Teori X Dan Teori Y
Douglas McGregor mengemukakan dua pandangan yang jelas berbeda mengenai manusia , secara dasar negatif : TEORI X dan  yang pada dasarnya positif : TEORI Y.
C. Teori Motivasi – Pemeliharaan Dari Herzberg
Faktor-faktor penyebab kepuasan kerja mempunyai pengaruh pendorong bagi prestasi dan semangat kerja, sedang factor penyebab ketidak puasan  kerja mempunyai pengaruh negatif.
D. Teori ERG – ADELFER ( dari Clayton Adelfer)
Sependapat dengan hiraki kebutuhan Maslow, namun hirarki kebutuhannya hanya terdiri dari tiga hal : Eksistensi (Existence), Keterhubungan/keterkaitan (Relatednes), Pertumbuhan (Growth)
E. Teori Prestasi dari McClelland
Memfokuskan pada tiga kebutuhan : Kebutuhan akan prestasi , Kebutuhan akan kekuasaan, Kebutuhan akan afiliasi



2. TEORI-TEORI PROSES :
Teori yang memberikan uraian dan analisis dari prose dimana perilaku mempunyai kekuatan, diarahkan, dipertahankan dan dihentikan.

A. Teori Penguatan \ Teori Pembentukan Perilaku B.F. Skinner
Pendekatan ini berdasarkan atas hukum pengaruh (law of effect) yang menyatakan bahwa perilaku yang diikuti dengan konsekuensi-konsekuensi pemuasan cendrung diulang sedangkan perilaku yang diikuti dengan konsekuensi hukuman cenderung tidak diulang. Individu dimasa mendatang akan belajar dari pengalaman diwaktu lalu proses pembentukan perilaku.
B. Teori Pengharapan / Expectancy Theory
Teori ini menyatakan bahwa perilaku kerja karyawan dapat dijelaskan dengan kenyataan : para karyawan menentukan terlebih dahulu apa perilaku mereka yang dapat dijalankan dan nilai yang diperkirakan sebagai hasil alternatif dari perilakunya
C. Teori Keadilan
Teori ini mengemukakan bahwa: Orang akan selalu cenderung membandingkan antara (1) masukan masukan yang mereka berikan pada pekerjaan dalam bentuk pendidikan, pengalaman, latihan dan usaha dengan (2) hasil hasil atau penghargaan yang mereka terima seperti juga mereka membandingkan balas jasa yang diterima karyawan lain dengan yang diterima dirinya untuk pekerjaan yang sama.
D. Teori Penentuan tujuan dari Edwin Locke
Menyatakan bahwa maksud-maksud untuk bekerja ke arah suatu tujuan merupakan sumber utama dari motivasi kerja. Artinya tujuan memberitahu seorang karyawan apa yang perlu dikerjakan dan berapa banyak upaya yang harus dilakukan.



Gaya Kepemimpinan Presiden Indonesia
1. Ir. Soekarno
Gaya kepemimpinan yang diterapkan oleh Ir. Soekarno berorientasi pada moral dan etika ideologi yang mendasari negara atau partai, sehingga sangat konsisten dan sangat fanatik, cocok diterapkan pada era tersebut. Sifat kepemimpinan yang juga menonjol dan Ir. Soekarno adalah percaya diri yang kuat, penuh daya tarik, penuh inisiatif dan inovatif serta kaya akan ide dan gagasan baru. Sehingga pada puncak kepemimpinannya, pernah menjadi panutan dan sumber inspirasi pergerakan kemerdekaan dari bangsa-bangsa Asia dan Afrika serta pergerakan melepas ketergantungan dari negara-negara Barat (Amerika dan Eropa).

Ir. Soekarno adalah pemimpin yang kharismatik, memiliki semangat pantang menyerah dan rela berkorban demi persatuan dan kesatuan serta kemerdekaan bangsanya. Namun berdasarkan perjalanan sejarah kepemimpinannya, ciri kepemimpinan yang demikian ternyata mengarah pada figur sentral dan kultus individu. Menjelang akhir kepemimpinannya terjadi tindakan politik yang sangat bertentangan dengan UUD 1945, yaitu mengangkat Ketua MPR (S) juga.

2. Soeharto

Gaya Kepemimpinan Presiden Soeharto merupakan gabungan dari gaya kepemimpinan Proaktif-Ekstraktif dengan Adaptif-Antisipatif, yaitu gaya kepemimpinan yang mampu menangkap peluang dan melihat tantangan sebagai sesuatu yang berdampak positif serta mempunyal visi yang jauh ke depan dan sadar akan perlunya langkah-langkah penyesuaian.

Tahun-tahun pemerintahan Suharto diwarnai dengan praktik otoritarian di mana tentara memiliki peran dominan di dalamnya. Kebijakan dwifungsi ABRI memberikan kesempatan kepada militer untuk berperan dalam bidang politik di samping perannya sebagai alat pertahanan negara. Demokrasi telah ditindas selama hampir lebih dari 30 tahun dengan mengatasnamakan kepentingan keamanan dalam negeri dengan cara pembatasan jumlah partai politik, penerapan sensor dan penahanan lawan-lawan politik. Sejumlah besar kursi pada dua lembaga perwakilan rakyat di Indonesia diberikan kepada militer, dan semua tentara serta pegawai negeri hanya dapat memberikan suara kepada satu partai penguasa Golkar Bila melihat dari penjelasan singkat di atas maka jelas sekali terlihat bahwa mantan Presiden Soeharto memiliki gaya kepemimpinan yang otoriter, dominan, dan sentralistis

3. Susilo Bambang Yudhoyono

Beliau ini presiden pertama yang dipilih oleh rakyat. Orangnya mampu dan bisa menjadi presiden. Juga cukup bersih, kemajuan ekonomi dan stabilitas negara terlihat membaik. Sayang tidak mendapat dukungan yang kuat di Parlemen. Membuat beliau tidak leluasa mengambil keputusan karena harus mempertimbangkan dukungannya di parlemen.

SBY sebagai pemimpin yang mampu mengambil keputusan kapanpun, di manapun, dan dalam kondisi apapun. Sangat jauh dari anggapan sementara kalangan yang menyebut SBY sebagai figur peragu, lambat, dan tidak "decisive" (tegas). Sosok yang demokratis, menghargai perbedaan pendapat, tetapi selalu defensif terhadap kritik. Hanya sayang, konsistensi Yudhoyono dinilai buruk. Ia dipandang sering berubah-ubah dan membingungkan publik.

4. Jokowi

Presiden yang terkenal dengan mblusukan ini menjadi Presiden Republik Indonesia pada tahun 2014 setelah mengalahkan Prabowo dalam pemilu pilpres 2014. Awalnya disebut sebagai pengikut Megawati, namun akhirnya menyatakan bahwa dia sendiri untuk memerintahkan.
Indonesia.

Gaya kepemimpinan yang menganut sistem mendekati rakyat atau merangkul rakyat membuat Jokowi lebih dekat dengan rakyat. Sikap rendah hati, berwibawa dan tegas mampu membakar para pembenci pada awal pemerintahannya.









Referensi:
http://digilib.uinsby.ac.id/2360/5/Bab%202.pdf (Sabtu, 15-06-2016, jam 18.30)

Selasa, 04 Oktober 2016

Makalah Psikologi Manajemen


PSIKOLOGI MANAJEMEN

Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas kelompok pada mata kuliah


Disusun oleh :
Ilham Pratama Krishnaaji (15514184)
Mutiara Nugraheni Adi (17514687)
Nurmalinda Rusanti (18514235)
Reza Aulia (1C514840)
Sandi Pramuditha Siregar (19514980)



UNIVERSITAS GUNADARMA
FAKULTAS PSIKOLOGI
2016


PENDAHULUAN

Pengertian Managemen merupakan perpaduan ilmu dan seni. Manajemen adalah proses perencanaan, pengorganisasian, kepemimpinan, dan pengendalian kegiatan anggota organisasi dan proses penggunaan sumber daya organisasi lainnya untuk mencapai tujuan organisasi yang telah di tetapkan.
Pengertian singkat tentang psikologi ditinjau dari segi bahasa, kata psikologi berasal dari kata psyche dan logos yang artinya ilmu pengetahuan jiwa.  Psikologi adalah ilmu pengetahuan tentang jiwa atau ilmu jiwa. Menurut Wundt (dalam Heru, 2008) Psikologi itu merupakan ilmu tentang kesadaran manusia, dimana keadaan jiwa direfleksikan dalam kesadaran manusia.
Jadi, psikologi manajemen dapat diartikan sebagai suatu studi tentang tingkah laku manusia yang terlibat dalam proses manajemen dalam rangka melaksanakan fungsi-fungsi manajemen untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan sebelumnya.




TEORI
1. Psikologi Manajemen

            Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) Manajemen adalah orang yg mengatur pekerjaan atau kerja sama di antara berbagai kelompok atau sejumlah orang untuk mencapai sasaran atau orang yg berwenang dan bertanggung jawab membuat rencana, mengatur, memimpin, dan mengendalikan pelaksanaannya untuk mencapai sasaran tertentu.
            Psikologi manajemen adalah ilmu tentang bagaimana mengatur sumber daya yang ada untuk memenuhi kebutuhan. Kaitannya dengan psikologi yaitu dengan ditemukan dan dikembangkannya ilmu psikologi, diketahui bahwa unsur SDM ternyata merupakan yang terpenting dari ketiga modal kerja perusahaan manapun.
            Ilmu psikologi memang berpusat pada manusia, mampu mengintervensi berbagai faktor internal manusia seperti motivasi, sikap kerja, keterampilan, dsb dengan berbagai macam teknik dan metode, sehingga bisa dicapai kinerja SDM yang setinggi-tingginya untuk produktivitas perusahaan. Dengan adanya psikologi manajemen, kinerja SDM akan terkontrol dengan baik dan tingkat produktivitas meningkat.



2. Organisasi

            Pengertian Organisasi menurut Stoner, organisasi adalah suatu pola hubungan-hubungan yang melalui mana orang-orang di bawah pengarahan manajer mengejar tujuan bersama.
            Sedangkan menurut James D. Mooney, organisasi adalah bentuk setiap perserikatan manusia untuk mencapai tujuan bersama.
            Lalu, menurut Chester I. Bernard, organisasi merupakan suatu sistem aktivitas kerja sama yang dilakukan oleh dua orang atau lebih.
             Jadi dapat disimpulkan bahwa Organisasi adalah penyusunan dan pengaturan bagian-bagian hingga menjadi suatu kesatuan; sususan dan aturan dari berbagai bagian sehingga merupakan kesatuan yang teratur; gabungan kerja sama (untuk mencapai tujuan tertentu).
            Tujuan Organisasi adalah tiap-tiap manusia mempunyai kebutuhan serta tujuan yang tidak sama, hal itu jadi sebab ada tujuan dalam organisasi, dengan menjadikan satu kebutuhan serta tujuan yang tidak sama untuk jadi kebutuhan serta tujuan yang sama. tujuan organisasi punya pengaruh dalam meningkatkan organisasi baik dalam perekrutan anggota, serta pencapaian apa yang menginginkan dikerjakan dalam berjalannya organisasi itu.

3. Definisi Komunikasi

            Komunikasi menurut Harold (1997) adalah saluran mereka untuk mempengaruhi serta mekanisme mereka untuk melakukan perubahan. 
            Rogers (dalam Cangara, 2005) mengatakan komunikasi adalah proses dimana suatu ide dialihkan dari sumber kepada satu penerima atau lebih, dengan maksud untuk mengubah tingkah laku mereka. 
            Sedangkan menurut Stoner et. al. (dalam Bangun, 2012) komunikasi adalah proses yang dipergunakan oleh manusia untuk mencari kesamaan arti melalui transmisi simbolik.

4. Dimensi-Dimensi Komunikasi

            Berikut ini terdapat beberapa dimensi utama dari proses komunikasi menurut Harlod (1997) :
A. Isi
            Ketika dua orang berbicara, pastilah mereka berbicara tentang sesuatu. Dari proses tersebut mempunyai suatu isi. Mungkin pembicaraan dua orang itu tentang tayangan televisi atau tentang hobi mereka. Apabila kita terlibat dalam suatu percakapan, biasanya isinya mengenai diri kita sendiri. Kita juga dapat melihat pembagian golongan dalam hal isi, misalnya apakah hal itu merupakan fakta atau perasaan (emosi). 
B. Bising (noise)
            Percakapan ada yang terjadi dengan bising sedangkan yang lain terjadi tanpa bising. Bising berarti hal-hal yang mengganggu pengiriman informasi. Misalnya saat kita menelepon seseorang terjadi gangguan sinyal sehingga orang yang kita telepon tidak dapat dengan jelas mendengar informasi yang kita katakan.
C. Jaringan komunikasi
            Kita akan berfikir percakapan antara dua orang terjadi secara langsung. Tetapi banyak percakapan antara dua orang yang terjadi terutama di dalam organisasi, ditengahi oleh orang lain.
D. Arah Komunikasi
            Apapun yang mungkin dikatakan oleg seseorang dengan temannya, sejauh mana gangguan suara (bising) ikut terlibat, bagaimana pun jaringannya, ada perbedaan cara dalam penyampaiannya. Apakah orang ini menggunakan komunikasi satu arah yaitu satu orang berbicara dan lainnya hanya mendengarkan atau menggunakan komunikasi dua arah yaitu satu orang berbicara dan lainnya membalas berbicara kembali.


5. Definisi Pengaruh

            Pengaruh adalah daya yang ada atau timbul dari sesuatu (orang atau benda) yang ikut membentuk watak kepercayaan dan perbuatan seseorang.
Pengaruh adalah suatu keadaan ada hubungan timbal balik, atau hubungan sebab akibat antara apa yang mempengaruhi dengan apa yang di pengaruhi. Di sisi lain pengaruh adalah berupa daya yang bisa memicu sesuatu, menjadikan sesuatu berubah. Maka jika salah satu yang disebut pengaruh tersebut berubah, maka akan ada akibat yang ditimbulkannya.

6. Kunci-Kunci Perubahan Perilaku

            Tim ahli WHO (1984), menganalisis bahwa yang menyebabkan seseorang itu berperilaku ada empat alasan pokok, yaitu :
a.                   Pemikiran dan perasaan Bentuk pemikiran dan perasaan ini adalah pengetahuan, kepercayaan, sikap dan lain-lain.
b.                  Orang penting sebagai referensi Apabila seseorang itu penting bagi kita, maka apapun yang ia katakan dan lakukan cendrung untuk kita contoh. Orang inilah yang dianggap kelompok referensi seperti : guru, kepala suku dan lain-lain.
c.                   Sumber-sumber daya Yang termasuk adalah fasilitas-fasilitas misalnya : waktu, uang, tenaga kerja, ketrampilan dan pelayanan. Pengaruh sumber daya terhadap perilaku dapat bersifat positif maupun negatif.
d.                  Kebudayaan Perilaku normal, kebiasaan, nilai-nilai dan pengadaan sumber daya di dalam suatu masyarakat akan menghasilkan suatu pola hidup yang disebut kebudayaan. Perilaku yang normal adalah salah satu aspek dari kebudayaan dan selanjutnya kebudayaan mempunyai pengaruh yang dalam terhadap perilaku.

7. Bagaimana Mempengaruhi Orang Lain

            Beberapa teori dan formulasi tentang taktik atau teknik memengaruhi telah bermunculan sejak 20 tahun yang lalu (Kipnis-1980;Schriesheim-1990;Yulk-1992, Ferris-1997). Dari persetuan pendapat yang ada, boleh dikatakan yang banyak diterapkan dan dimutasikan dalam penlitian lanjutan adalah metode Influence Behavior Questionanaire(IBQ).  Suatau metode yang dikembangakan oleh penelitiyang bernama Gry Yukl(1992), profesor di University at Albany, Amerika. Metode IBQ memformulasikan sembilan strategi dan teknik memengaruhi orang lain.
            Rational Persuasion adalah siasat meyakinkan orang lain dengan menggunakan argumen yang logis dan rasional. Seorang doker yang memberikan nasihat kepada pasien peroko berat , dengan menjelaskan efek buruk merokok bagi paru-paru dan hasil penelitian yang membuktikan bahwa para perokok lebih rentan menderita penyait kronis lain, adalah salah satu contoh rational persuasion ini.
            Inspiration Appeals Tactics adalah siasat dengan meminta ide atau proposal untuk membangkitkan rasa antusias dan semangat dari target person. Contohnya nyata penerapannya adalah seorang menteri yang membawakan departemen komunikasi dan informasi (kominfo), yang membuka kesempatan kepada seluruh komunitas IT untuk membuat proposal dan ide tentang penerapan e-goverment di suatu negeri.
            Consultation Tactics terjadi ketika kita meminta target person untuk berpartisipasi aktif dalam kegiatan yang kita agendakan. Misalnya adalah menteri kominfo tersebut yang kembali berkonsultasi kepada seluruh komunitas IT d suatu negeri dalam upaya mengajak partisipasi aktif dalam implementasi cetak biru ­e-goverment yang telah diproduksi oleh departemenya.
            Ingratiation Tactics adalah suatu siasat di mana ia berusaha membuat senang target person, sebelum mengajukan permintaan yang sebenarnya. Senda gurau seorang salesman terhadap bawahan sebelum memberikan tugas baru, atapun traktiran makan seorang patner bisnis adalah termasuk dalam ingratiation tactic ini.
            Personal Appeals Tactics terjadi ketika kita berusaha mempengaruhi target person denganlandasan hubungan persahabatan, pertemanan atau hal yang bersifat personal lainnya. Kita bisa mengimlemantasikannya dengan memulai pembicaraan, misalnya dengan , " saya sebenarnya nggak enak mau ngomong seperti ini, tapi karena kita sudah bersahabat cukup lama dan saya yakin kamu sudah paham mengenai diri saya ......"
            Exchange Tactics adalah mirip dengan personal appeal tactics, namun sifatnya adalah bukan karena adanya proses pertukaran pemahaman terhadap kesuksesan, kesenangan, hobi, dan sebagainya diantara kita dan target person.
            Coalition Tactics adalah suatu siasat di mana kita berkoalisi dan meminta bantuan pihak lain untuk mempengaruhi target person.  Startegi kemenangan karena jumlah pengikut dipakai dalam siasat ini.
            Pressure Tactics terjadi di mana kita memengaruhi target person dengan peringatan ataupun ancaman yang menekan. Seorang komandan pasukan yang memberikan ancaman penurunan pangkat bagi prajurit yang mengulangi kesalahan serupa merupakan contoh implemantasi pressure tactics ini.
            Legitimizing Tactics adalah satu siasat di mana kitamenggunaan otoritas dan kedudukan kita untuk memengaruhi target person. Presiden yang meminta seorang mentri untuk menyusun rancangan undang-undang, kepala sekolah yang meminta guru menyusun kurikulum pendidikan adalah beberapa  contoh  penerapan  legitimizing  tactics.

8. Wewenang

            Pengertian Wewenang adalah hak yang dimiliki seseorang atau badan hukum yang dimana dengan hak tersebut seseorang atau badan hukum dapat memerintah atau menyuruh untuk berbuat sesuatu.
           
            Wewenang merupakan kekuasaan yang sah. Max Weber yang dianggap sebagai bapak birokrasi mengungkapkan tiga macam tipe ideal wewenang, yaitu :
1. Wewenang tradisional
2. Wewenang karismatik
3. Wewenang legal-rasional

            Wewenang Tradisional adalah wewenang yang dapat dimiliki oleh manusia maupun kelompok manusia. Wewenang ini dimiliki oleh orang orang yang sudah lama sekali memiliki kekuasaan di dalam masyarakat. Wewenang ini dimiliki oleh seseorang atau kelompok orang bukan karena memiliki kemampuan khusus, namun wewenang ini dimiliki karena memiliki kekuasaan dan wewenang yang telah melembaga bahkan telah menjiwai masyarakat.

            Wewenang Karismatik adalah wewenang yang tidak diatur oleh kaidah atau aturan, baik yang tradisional maupun yang rasional. Sifat dari wewenang karismatik cenderung irasional atau tidak masuk akal. Terkadang karisma tersebut hilang karena masyarakat yang berubah dan memiliki paham yang berlainan. Namun perubahan inilah menjadi faktor yang tidak dapat diikuti oleh orang-orang yang memiliki wewenang karismatik, sehingga dia tertinggal oleh kemajuan dan perkembangan masyarakat.

            Wewenang Legal-Rasional adalah wewenang yang disandarkan pada sistem atau aturan hukum yang berlaku di dalam masyarakat. Wewenang inilah yang menjadi basis wewenang pemerintahan. Oleh karena itu, birokrasi didominasi oleh semangat formalistic-impersonality. Segala kewenangan yang dimiliki oleh seseorang didasarkan pada hukum yang berlaku, hal ini diatur juga agar pemilik kewenangan itu tidak berlaku semena-mena.


KESIMPULAN

            Ilmu Psikologi adalah ilmu tentang jiwa. Ilmu yang mempelajari bahwa psikologis itu sangat berhubungan dengan ilmu-ilmu lain seperti ilmu manajemen. Dengan ditemukan dan dikembangkannya ilmu psikologi, diketahui bahwa unsur SDM ternyata merupakan yang terpenting modal kerja perusahaan manapun.
            Pasalnya, ilmu psikologi yg memang berpusat pada manusia, mampu mengintervensi berbagai faktor internal manusia seperti motivasi, sikap kerja, keterampilan, dan sebagainya. dengan berbagai macam teknik dan metode, sehingga bisa dicapai kinerja SDM yang setinggi-tingginya untuk produktivitas perusahaan.

Referensi:

Ali. (2011). Memahami Riset Perilaku dan Sosial. Bandung: CV. Pustaka Cendekia Utama.

Bangun, W. (2012). Manajemen Sumber Daya Manusia. Jakarta:  Erlangga

Basuki, Heru. (2008). Psikologi Umum. Jakarta: Universitas Gunadarma.

Cangara, H. (2005). Pengantar ilmu komunikasi. Jakarta: Pt Raja Grafindo Persada

Depdikbud. (2012). Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Depdikbud.

Hanafi, Mamduh M. (2011). Manajemen. Edisi Ketiga. Yogyakarta: UPP Sekolah Tinggi Ilmu Manajemen YKPN.

Herujito, Yayat M. (2001). Dasar-Dasar Manajemen. Bogor: PT. Grasindo

Leavitt, Harold. (1997). Psikologi manajemen.  Jakarta: Erlangga
 
Manullang, M. (1983). Dasar-Dasar Manajemen. Cetakan Kesepuluh. Jakarta: Ghalia Indonesia.

Taliziduhu, Ndraha. (2003). Kybernologi : Ilmu Pemerintahan Baru. Jakarta: Rineka Cipta