Rabu, 11 Januari 2017

KARENA AKU SEORANG LAKI-LAKI

KARENA AKU SEORANG LAKI-LAKI
Aku adalah seorang laki-laki berusia 19 tahun. Banyak yang bilang bahwa di umur itu kenakalan seseorang sedang ada di puncaknya dan memang benar. Aku dalam titik puncak kenakalan, dimana aku merokok, pulang malam, seinginnya sendiri, dan tidak memperdulikan yang lain terkecuali apa yang aku inginkan.
Percaya atau tidak, sebenar apapun perkataan seorang anak muda pasti selalu salah di mata orang yang lebih tua, walaupun perkataan orang yang lebih tua itu salah dan perkataan anak muda itu benar. Jika kita menyampaikan sesuatu yang memang benar, pasti selalu salah di mata orang yang lebih tua. How ego’s from adult people!
Banyak pengalamanku yang selalu di anggap salah oleh orang tua. Ingin rasanya aku menyampaikan sesuatu yang sebenarnya, tapi selalu di acuhkan. Apa karena aku sudah 19 tahun? Apa karena aku di anggap tidak berarti untuk kalian? Apa karena kebandelanku yang membuat kalian seperti itu?
Aku hanya ingin menceritakan sebagian kisah hidupku. Kisah yang menceritakan betapa rapuhnya aku, betapa aku menginginkan sesuatu yang telah lama aku tunggu. Berkeluh kesah dengan kehidupanku melalui coretan kecil dalam buku hitamku. Sebuah permintaan yang takkan pernah bisa aku utarakan langsung kepada kalian, pahlawanku, orang tuaku.

  •       Cintailah aku sepenuh hatimu
Tahukah kalian yang paling aku butuhkan adalah kasih sayangmu, bukan perdebatan. Apakah kalian mengetahui bahwa kalian adalah orang yang paling aku sayangi? Orang yang selalu aku banggakan di depan teman-temanku? Aku mencintai kalian melebihi apapun. Namun mengapa aku tidak bisa menunjukan bahwa aku mencintaimu? Singkat, karena aku laki-laki, tidak tahu bagaimana cara membuat kalian mengerti bahwa aku mencintai kalian.

  • Aku ingin jadi diri sendiri, maka hargailah aku.
Inilah aku dengan segala kesempurnaan dan ketidaksempurnaanku. Aku ingin menjadi apa yang aku inginkan. Aku hanya ingin mempunyai sebuah pengalaman dalam hidupku.



  • Cobalah mengerti aku.
Jika menurutmu aku tidak sepeti apa yang kalian harapkan itu karena aku sedang mencoba menjadi seperti apa yang kalian inginkan dengan caraku. Cobalah mengerti aku, mengerti sifatku, mengerti egoku, mengerti semua apa yang telah terjadi padaku. Sekarang aku memang begini adanya, tidak seperti yang kalian bayangkan terdahulu, namun cobalah mengertiku terlebih dahulu.

  • Jangan marahi aku di depan orang banyak.
Aku memang egoistis, sering membuat kalian marah, membuat kalian jengkel dengan tingkahku, namun apakah harus aku di marahi di depan orang banyak? Apakah harus kalian berkoar-koar kepada orang lain tentang keburukanku? Jangan begitu, itu malah membuat aku semakin down. Cobalah curhat kepada tuhan tentangku.

  • Ayah dan Ibu lupa, aku adalah fotokopimu.
Buah jatuh tidak jauh dari pohonnya bukan? Jika aku nakal, jika aku baik, maka lihatlah masa mudamu. Kalian pernah muda jugakan? Pernah merasakan bagaimana transisi masa pubertas? Atau masa remaja? Masa dimana nakal-nakalnya seseorang ingin mengerti dunia luar? Aku sedang mengalaminya sekarang, maka sekali lagi, mengertilah akan keadaanku.

  • Jangan bandingkan aku dengan kakak atau adikku ataupun orang lain.
Jangan pernah bandingkan aku dengan yang lainnya, aku ya aku, dia ya dia, kita berbeda! Setiap orang berbeda dalam menjalani kehidupan masing-masing, memiliki altar kehidupan yang berbeda. Jika kalian melihat anak lain yang menurut kalian lebih baik, maka ya sudah, jangan di bandingkan denganku. Setiap orang punya waktu sendiri untuk berhasil.

  •   Biarkanlah aku mencoba, lalu beritahu jika aku salah.
Biarkan aku mandiri dalam kehidupanku, namun aku masih membutuhkanmu dalam nasehatku. Setiap orang memiliki kesempatan untuk mencoba begitupun denganku. Biarkanlah aku mencoba melihat hidupku, namun ada saatnya kalian memberitahuku jika aku salah.

  • Jangan ungkit-ungkit lagi kesalahanku.
Aku memang selalu melakukan kesalahan yang sama, namun mengerti dan pahami sifatku. Ini yang selalu terjadi dalam kehidupan kita bukan? Aku paling malas jika kalian mengungkit kesalahanku, memang salahku melakukan itu lagi, lagi. Namun berilah inovasi agar aku tidak melakukan kesalahan itu, bukan terus-terusan mengungkitnya.
9.      Jangan memarahiku dengan mengatakan hal-hal buruk terhadapku.
Bukankah setiap ucapanmu adalah doa bagiku? Maka bicaralah yang positif terhadapku walaupun aku melakukan kesalahan, jangan marahi aku, namun berilah nasihat padaku. Berilah sesuatu yang bermanfaat padaku jika aku melakukan suatu tindakan yang salah. Tenang saja, di balik sikapku, aku selalu merenungi setiap nasehat yang kalian berikan padaku.

  • Pahamilah cara belajarku.
Jika aku tidak ingin belajar, bukan berarti aku malas. Aku mengerti kapan waktu yang tepat untuk diriku belajar. Setiap hari belajar bukanlah waktu yang tepat, komputer aja butuh refresh, begitupun otak manusia. Aku juga butuh hiburan untuk memanjakan otakku dari segala kepenatan membaca buku dan memahami sesuatu. Aku tidak pernah masuk sekolah negeri bukan karena aku bodoh, namun itu adalah suatu ketidakmampuan. Aku akan membuktikan padamu, Sekolah swastapun bisa sukses, tidak hanya negeri.

  • Aku adalah lading pahala bagimu.
Tahukah kalian bahwa di setiap doaku adalah nama kalian yang selalu aku sebut pertama dan paling banyak? Di setiap doaku aku selalu mendoakan kalian, semoga tuhan mengampuni dosa kalian, di beri keselamatan dan panjang umur, tuhan selalu menjaga kalian jika aku sedang jauh dari kalian, selalu di berikan kemudahan bagi kalian, dan selalu di murahkan rezeki-Nya kepada kalian. Doa yang selalu aku niatkan dari dulu dan tidak pernah kalian ketahui bukan?

  • Aku mencintaimu Ayah, Ibunda.
Aku hanya ingin mengatakan bahwa aku mencintai kalian, just the way you are. No matter about people thinking about you, I just know that you are my strength, you are my inspiration. Once again, I just want to you know that I love you. Maybe I can’t be perfect. Because I’m a man.

One of the best day of my life



One of the best day of my life

“Ini gaji kamu bulan ini beserta THR-nya ya!”
“Terimakasih ya bos”.
Aku menerima puluhan uang berwarna merah itu, lalu menaruhnya di tasku. Wajahku tersenyum saat menyambut uangnya.
Hari ini adalah hari ke-24 ramadhan atau tanggal 22 Juli 2014. Hari terakhir bekerja dan dua minggu berikutnya adalah libur hari raya.
Sebenarnya aku baru lulus SMA tiga bulan yang lalu, namun aku berfikir untuk bekerja di salah satu usaha pamanku selagi menunggu untuk masuk kuliah.
Aku memang dari jauh hari telah merencanakan akan mudik bersama kawan-kawanku dengan menggunakan sepeda motor. Kami sepakat untuk mudik tanggal 23 Juli 2014, jam 3 pagi berangkat dari SPBU Cileungsi.

****
Malam ini sangat berbeda. Biasanya aku mampu terlelap tidur, namun tidak untuk hari ini. Apa karena esok akan mudik dengan motor? Entahlah.
Jam sudah menunjukan pukul 10 malam. Namun mataku tidak mampu untuk memejamkannya. Akhirnya aku memutuskan untuk pergi ke basecamp.
Suasana basecamp tidak jauh berbeda dengan suasana yang sebelumnya kurasakan. Semuanya seperti terhipnotis dengan keadaan saat ini. Mungkin karena kita sudah terpikirkan akan satu hal, yaitu mudik. Ini sudah hal yang wajar jika seseorang ingin pulang kampung.
Malam itu sangat sepi, hanya terdengar suara jangkrik dan alunan musik yang diputar pada speaker pemilik basecamp ini. Sesekali kami bercanda, bermain kartu, dan membayangkan akan ada kejadian apa sewaktu perjalanan mudik yang akan kita jalani nantinya.
Kami semua ada 10 orang dan 7 motor.
Pertama adalah Tio, dia sendirian dan memakai motor Minerva.
Kedua adalah Abror, sendirian, dan memakai motor Beat.
Ketiga adalah Heri, sendirian, dan memakai motor Smash.
Keempat adalah Hanif, sendirian, dan memakai motor Revo.
Kelima adalah Sendi, berboncengan dengan pacarnya, dan memakai motor Beat.
Keenam adalah Bagas, dia berboncengan dengan Puad, dan memakai motor Vario.
Terakhir aku, berboncengan dengan Jaffar, dan memakai motor Satria FU.

Malam ini juga kami briefing untuk perjalanan mudik besok pagi. Dan setelah itu di dapatkan bahwa Tio, Sendi, dan Aku adalah penanggung jawab perjalanan (Panitia). Kemudian kami di bagi tugas bahwa Tio akan memimpin jalan serta membuka jalan karena dia memakai motor Sport, Sendi berada di tengah-tengah, dan aku sebagai penutup jalan atau bisa di bilang sebagai paling terakhir dalam rombongan karena aku membawa tongkat yang berlampu merah, seperti yang biasa polisi atau tukang parkir gunakan.
Mudik kali ini akan lewat pantura. Rutenya adalah dari Cileungsi à Setu à MM 2100 à Stasiun Lemah Abang à Pantura à  lingkar luar Karawang à Jalan Syeh Quro (Palumbonsari) à Cikalongsari à Pantura (Indramayu, Cirebon, Losari) à Tanjung (Brebes) à  Jl. Cemara (Pertigaan Anggraeni Hotel Tanjung) à Kersana à Ketanggungan à Songgom à Bumiayu à Ajibarang à Rejasari (Purwokerto) à Jl. Veteran à Andhang Pangrenan (Karangklesem, PWT) à Jl. K.H. Wachid Hasyim à Sokaraja à SPBU Kalimanah (belok kanan) à Kedung Menjangan à Pasar Panican à Kembangan à Purworejo Klampok à Gandulekor à Desa Kebanaran, Kecamatan Mandiraja, Kabupaten Banjarnegara.
****

Tak terasa, waktu sudah menunjukan pukul 3 pagi, tanggal 23 Juli 2014. Aku dan teman-temanku prepare. Selepas dari basecamp kami melanjutkan perjalanan ke sebuah SPBU di daerah Cileungsi untuk mengisi bahan bakar.
SPBU ini terasa sepi, hanya ada seorang satpam dan seorang petugas SPBU yang terlihat sedang mengobrol. Ada dua orang lagi di dekat pintu keluar SPBU dan mereka sedang memperhatikan kami.
Sewaktu mengisi bahan bakar dua orang tadi menghampiri kami. Keduanya mengenakan jaket kulit lengkap, seperti ingin melakukan perjalanan jarak jauh. Ternyata mereka ingin mudik ke Pemalang dan meminta untuk bareng bersama kami.
Akhirnya kami memiliki pasukan baru, yaitu Deni, dia berboncengan dengan temannya, dan memakai motor Vixion. Ya setidaknya kami memiliki teman baru. Dengan adanya Deni maka kami menjadi 12 orang dan 8 motor.
Jam menunjukan pukul 03.30 pagi. Sebelum berangkat terjadi kejadian lucu dimana Tio (pemimpin jalan) kurang hafal jalan menuju Stasiun Lemah abang. Akhirnya aku memimpin jalan sementara sampai stasiun Lemah Abang. Hujan rintik-rintik menemani perjalanan kali ini. Sepanjang perjalanan kami berjalan santai, hanya 40-50 Km/jam. Mungkin kami harus pemanasan sebelum mengarungi ganasnya aspal pantura.
Sesampainya di stasiun Lemah abang, aku dan Tio bertukar posisi. Aku kembali ke belakang, sebagai penutup. Aku jalankan motor berkekuatan 150 CC ini mengarah ke Jakarta (karena dari Lemah abang menuju Karawang harus putar balik) untuk mencari putaran balik, sesudah kami menemukan putaran, saat ingin putar balik ada kejadian lucu dimana motorku jatuh, mungkin karena keadaan aspal yang licin karena gerimis yang mengguyur barusan. Motorku jatuh, namun aku dan jaffar tetap berdiri. Aku juga masih binggung hingga kini mengapa motorku terjatuh.
Memasuki pantura aku melajukan motorku sampai 100 km/jam lebih. Semua sesuai dengan briefing semalam. Dimana Tio selalu membuka jalur dan yang lainnya mengikuti sampai aku menutup jalan di belakang.
Ada kisah lucu dimana teman-teman lain sudah jauh, aku dan Heri (bawa motor smash) tertinggal. Aku samakan kecepatanku dengan kecepatannya, namun hanya sampai 70-80 km/jam.
“Mas, raiso banter meneh opo?” tanyaku selepas membuka kaca helm yang aku kenakan.
“Ra iso ham, deleng ki” jawabnya menuruhku tuk melihat gasnya.
Aku lihat tangan kanannya yang sedang memegang gas. Ternyata sudah mentok gasnya, dan kecepatannya sudah tidak bisa di tambah lagi.
Akhirnya kami (Aku, Jaffar, dan Heri) memutuskan untuk membawa motornya untuk ke bengkel. Selang beberapa menit akhirnya kami jalan kembali. Aku menambah kecepatanku untuk menyusul kawan-kawan yang lain, karena kami bertiga sudah tertinggal jauh.
Akhirnya di daerah lingkar luar karawang, kami berhasil menyusul yang lainnya dan kami kembali ke rombongan. Namun para rombongan berhenti karena Mynto dan Puad itu lurus dan tidak berbelok. Akhirnya aku menyusulnya dan menjemputnya kembali, Ini di karenakan Mynto tidak hafal jalanan betul, dan di belokkan sebelumnya, dia tidak melihat Tio berbelok kekiri, sehingga dia lurus melewati jembatan layang.
Dari lingkar luar kami turun ke bawah, mengarah jalan Syeh Quro. Jika ada yang bertanya mengapa kami memilih melalui jalan ini, itu karena jalan Syeh Quro ini walaupun memutar, namun tidak sepadat pantura, karena kami tidak melalui simpang Jomin, dimana di perkirakan akan terjadi kemacetan disana. (Cipali belum ada bos, hehe)
Sekitar Pukul 06.15, kami beristirahat di sebuah SPBU di daerah Cikalongsari. Suasana SPBU ini sangat ramai, karena banyaknya pemudik yang juga beristirahat disini. Kami beristirahat sekitar 20 menit. Ada yang mengopi, merokok, dan memakan makanan ringan yang sengaja kami bawa. Oh iya, kami tidak puasa, jangan contoh kami ya, hehehe.
Setelah beristirahat, kami mengisi kembali bahan bakar dan kembali melanjutkan perjalanan yang di perkirakan 10 menit lagi akan sampai di pertigaan pantura di daerah Cikalongsari.
Akhirnya kami memasuki kembali lajur pantura, dimana benar dugaan kami, disana sudah terjadi kepadatan lalu lintas. Kami berjalan sedang sekitar 60 km/jam, mungkin karena belum panas. Sekitar beberapa menit, akhirnya Tio memberitahukan kepada kami agar pawai dimulai. Perjalanan kini akhirnya dimulai, pikirku.
Tio membuka jalan dan kami mengikutinya di belakang, meliak-liuk kekanan dan kekiri, mencari celah diantara dua mobil. Ku lihat speedometer-ku menunjukan 100km/jam ini menambah gebu semangat di dalam jiwa anak muda ini.
Kami memang mencintai kecepatan, namun bukan berarti kami melanggar peraturan. Itulah prinsip kita selama mudik.
Perjalanan mudik kali ini tidak macet, namun tidaklah lancar, tepatnya padat merayap. Aku dengan setianya menjaga barisan belakang. Kali ini aku di temani oleh Mynto dan Puad di barisan belakang.
Di daerah pamanukan kami berhenti sebentar di daerah pamanukan untuk mengisi bensin, ya mungkin beberapa menit sembari sebat dulu.
Ada kejadian lucu lagi dimana Jaffar, tertidur di belakangku. Motorku yang sedang berjalan cepat itu tertarik kesamping kiri, dan dengan reflek yang aku punya, aku menahan badannya dengan tangan kiriku sehingga dia tidak terjatuh. Ya, mungkin Tuhan masih sayang dengan kami, sehingga kami tidak terjatuh.
Memasuki daerah Eretankulon, di jalan pantura yang di sebelah pantai persis, kami berhenti sejenak di daerah ini. Menikmati suasana pantai dengan alunan angin yang memanjakan tubuh. Di tambah lagi suasana kanan jalan yang disuguhi hamparan sawah yang hampir menguning saat itu. Suasana mudik ini sangat indah, dan memang benar indah ciptaan sang kuasa ini.
Kami juga membeli makan di warung-warung yang khas di bangun pada saat mudik berlangsung. Makanan yang sederhana, namun sangat nikmat kami rasakan pada saat itu. Setelah sekitar kurang lebih sejam kami beristirahat, akhirnya kami memutuskan untuk melanjutkan perjalanan.
Memasuki Kota Cirebon, tepatnya di daerah Tegalsari mulai terjadi kemacetan pada siang hari ini. Berfikir pada siang kali ini sangat panas, kami memutuskan untuk beristirahat kembali di Sebelah kanan bangunan SDN Sunyaragi I – II, sebelum bangunan SD.
Kami istirahat disini lumayan lama, ada yang ngopi, merokok, tidur-tiduran di karpet yang telah di sediakan penjual kopi. Kami disini beristirahat sekitar 1 jam lebih. Namun Deni dan kawannya yang bertemu di SPBU Cileungsi memutuskan untuk duluan melanjutkan perjalanan.
Siang ini sangat terasa terik. Matahari memancarkan cahayanya dengan sempurna. Bahkan Jaffar sampai melaksanakan mandi pada tengah hari itu. Setelah melaksanakan kewajiban pada siang hari, kami melanjutkan perjalanan.
Keadaan jalan saat ini terasa lebih padat, terjadi pasar tumpah dimana-mana. Bahkan perjalanan menuju perbatasan provinsi Jawa tengah dengan Jawa barat itu terjadi kemacetan. Setelah melewati perbatasan, keadaan jalan terasa lebih lancar kembali.
Ada kisah lucu dimana seharusnya saat pertigaan di Tanjung, lebih tepatnya di daerah Anggraeni Hotel, Mynto dan Puad kembali terlewat, sehingga mereka lurus sampai Kota Brebes. Akhirnya Aku kembali menjemput Mynto, sementara kawan-kawan yang lain menunggu di seberang Hotel Anggraeni Tanjung.
Setelah melewati kota Brebes, aku kembali menelpon Mynto dan dia mengatakan sudah ada di Jalan raya Tegal-Margasari. Sehingga dia menyarankan agar kembali ke teman-teman yang lainnya. Ternyata tadi dia tidak melihat kawan-kawan yang lain, sehingga keblablasan sampai kota Tegal. Akhirnya dia mengikuti sebuah sepeda motor ber-plat R.
Setelah mengisi bahan bakar, aku kembali ke kawan-kawanku yang di daerah Tanjung. Sesampainya disana ternyata kawan-kawan sudah tidak ada. Dengan hati yang merasa sakit akhirnya aku jalankan Satria FU ini sampai kecepatan maksimal dari Hotel Anggraeni sampai Kersana.
Setelah beberapa lama, aku melihat kawan-kawanku sedang beristirahat di warung di sekitar pertigaan Slawi. Ternyata mereka menungguku disana. Sebenarnya mereka terkadang menghubungiku, namun ponselku berada di tas sehingga aku tidak mendengarmya.
Jam sudah menunjukan pukul 14.30 sore. Kami kembali melanjutkan perjalanan dengan formasi sebelumnya. Aku tertinggal jauh disini karena Jaffar meminta sebentar untuk buang air kecil. Selang beberapa lama, di daerah Karang Bale, Larangan, aku melihat motor Tio di pinggir jalan. Dia mengakui bahwa motornya mogok, sementara kawan-kawan yang lain sudah duluan.
Setelah mendorong motor beberapa meter, termyata terdapat sebuah bengkel dan montir bengkel itu bisa memperbaikinya, namun harus menunggu sebentar karena ada yang sedang memperbaiki motor.
Selama waktu gabut ini, kami bercanda dan memakan makanan ringan. Banyaknya yang mudik membuat jalur yang biasa di malam hari ini sebagai track para bus malam semakin padat. Mungkin rangkaian mobil, motor dan bus adalah pemandangan kami selama menunggu perbaikan motor.
Tepat pukul 17.00 motor selesai di perbaiki. Aku dan Tio melajukan motor ini secepat-cepatnya. Motor yang sama berkekuatan 150 CC ini seakan sebanding dalam barisan seperti sebuah motor yang sedang balapan di sirkuit.
Menjelang daerah Linggapura, aku dan Jaffar mengalami insiden yang mungkin tidak akan di harapkan oleh semua orang. Ya, aku mengalami kecelakaan. Insidennya adalah saat setelah aku mendahului bus, di arah yang berlawanan terdapat sebuah truk fuso yang panjang. Entah mengapa setelah truk itu, ada sebuah sepeda motor yang terlihat ingin mendahului truk itu. Sehingga motornya menyerempet motorku.
Setelah beberapa menit setelahnya aku berhenti sebentar di sebuah musholla untuk mengecek kondisi motor dan kondisiku dan Jaffar. Ternyata kaki kananku dan kaku kanannya Jaffar merasakan nyeri.
Kami melanjutkan perjalanan kembali, kali ini aku kendarai motorku dengan sangat cepat karena kami merasa tertinggal jauh dengan Tio, dan memang benar ketika kami sampai Paguyangan, masih belum ada tanda-tanda ada Tio di depan.
Waktu menunjukan 17.45 dan menunjukan bahwa sebentar lagi Magrib akan berkumandang. Menjelang daerah Cilongok tiba-tiba Jaffar melihat sebuah papan di pinggir jalan. Tulisannya adalah “Diskon 50% bagi yang berpuasa”. Tiba-tiba aku mengerti maksudnya. Bukan karena kami ingin berbuka puasa, namun karena melihat diskon yang tertera dalam papan.
Akhirnya kami memasuki tempat restoran yang memang kami tergiur akan diskonnya. Kami berpura-pura puasa dan membeli sejumlah makanan khas jawa, seperti sate kambing dan gulai. Kami berdua beristirahat cukup lama, sembari bercerita jika kami telah di tinggal kawan-kawan kami. Bahkan ketika kami hampir melanjutkan perjalanan, kami di hubungi oleh Sendi dan dia mengatakan bahwa telah sampai di rumah dengan selamat.
Pukul 19.00 kami melanjutkan kembali perjalanan. Namun kali ini kami berdua berjalan dengan cukup santai, menikmati malam di sepanjang jalan pulang. Mungkin tidak lebih dari 60 km/jam aku menjalankan motor ini.
Aku memang tidak hafal jalan di kota Purwokerto. Entahlah, dari dulu aku selalu tersesat jika sudah di Kota Purwokerto. Akhirnya dengan pengalaman yang aku milikki dan juga pepatah mengatakan “lebih baik bertanya daripada sesat di jalan” akhirnya aku bertanya pada salah satu pengemudi jalan yang sepertinya warga lokal karena motornya berplat R.
Lalu akhirnya di perempatan Tanjung, kami bertanya pada bapak-bapak di sebelah kanan motor kami. Dan ternyata dia ingin pergi ke Sokaraja, dan dengan senang hati dia menawarkan untuk membututinya hingga Sokaraja, dan kami setuju.
Dari perempatan Tanjung, kami belok kanan menuju jalan Gerilya. Dia berkata kepada kami jika dia memutari kota Purwokerto. Sesampainya di bunderan Andhang Pangrenan, kami belok kanan menuju jalan K.H Wachid Hasyim. Kami terus membututinya hingga pertigaan Sokaraja.
Setelah mengucapkan terimakasih, akhirnya aku melanjutkan perjalanan mengarah Purbalingga dengan kecepatan standar 60 Km/jam. Di pertigaan Pombensin……  kami belok kanan, menuju daerah …….. Suasana terasa sangat sepi di daerah ini pada malam itu. Sesampainya di pasar….. kami belok kiri menuju Wirasaba.
Sesampainya di perempatan wirasaba, kami belok kanan menuju daerah Purwareja Klampok. Di perbatasan kali Serayu ini terdapat gerbang yang bertuliskan ‘Sayonara’. Entahlah sepertinya gerbang perbatasan ini menjadikan simbol di daerah ini.
Sesampainya di Pertigaan Klampok, kami belok kanan hingga di daerah BLK Klampok, kami memutuskan belok kanan untuk melewati jalan ‘Gili Bak’. Mungkin hanya orang-orang di daerah sekitar itu yang tau jalan itu. Dimana jalan gili bak ini sangat cocok untuk lari-lari pagi dan sore karena disuguhi pemandangan sawah dan perbukitan di sebelah kanan dan kiri.
Sesampainya di Purwasaba, kami belok ke kanan menuju desa kami. Di jalan tengah sawah di daerah Glempang, terlihat desa kami. Desa Kebanaran, Mandiraja, Banjarnegara, desa dimana aku dilahirkan, namun dibesarkan ditatar Pasundan, Bogor.
Jam menunjukan pukul 21.00 malam akhirnya kami sampai di rumah kami. Aku dan Jaffar memang bertetangga, hanya beda lima rumah. Ternyata disana telah banyak teman kami di kampung yang sedang menyambut kami.
Aku mengabari teman-temanku yang seperjalanan, dan ternyata kami adalah yang paling terakhir sampai di rumah. Bahkan Sandi dan Mynto telah sampai tujuan sekitar pukul 16.30-17.00 berbanding jauh dengan kami yang terlalu telat untuk sampai di tujuan.
Mungkin menurut sebagian orang ini mungkin pengalaman biasa, namun ini adalah salah satu hari terbaik dalam hidup kami. Memang cerita ini tidak seindah kejadian sewaktu itu karena banyaknya kesalahan dalam penulis.


Teori Kepuasan Kerja



A. Pengertian Kepuasan Kerja
Pada dasarnya kepuasan kerja merupakan hal yang bersifat individual karena setiap individu akan memiliki tingkat  kepuasan yang berbeda-beda sesuai dengan nilai-nilai yang berlaku dalam diri setiap individu. Semakin banyak aspek dalam pekerjaan yang sesuai dengan keinginan individu, maka semakin tinggi tingkat kepuasan yang dirasakan.
Menurut Kreitner dan Kinicki (2001), kepuasan kerja adalah suatu efektifitas atau respons emosional terhadap berbagai aspek pekerjaan.
Menurut Robbins (2003), kepuasan kerja adalah sikap umum terhadap pekerjaan seseorang yang menunjukkan perbedaan antara jumlah penghargaan yang diterima pekerja dan jumlah yang mereka yakini seharusnya mereka terima.

B. Teori Kepuasan Kerja
Teori kepuasan kerja mencoba mengungkapkan apa yang membuat sebagian orang lebih puas terhadap suatu pekerjaan daripada beberapa lainnya.
·         Two Factor Theory
Teori ini menganjurkan bahwa kepuasan dan ketidakpuasan merupakan bagian dari kelompok variabel yang berbeda yaitu motivators dan hygiene factors
·         Value Theory
Menurut teori ini kepuasan kerja terjadi pada tingkatan dimana hasil pekerjaan diterima individu seperti diharapkan. Semakin banyak orang menerima hasil, akan semakin puas dan sebaliknya.

C. Contoh Teori Kepuasan

Azhim adalah lulusan S1 Psikologi. Dia bekerja di PT. Ipeka sebagai staff HRD sudah 5 tahun. Dia mendapatkan gaji beserta tunjangan-tunjangan lainnya sebesar 8 juta per bulan. Dia merasa nyaman bekerja di Ipeka karena pekerjaannya sebanding dengan hasil yang dia peroleh sehingga dia merasa nyaman dan puas akan pekerjaannya di PT. Ipeka.

Referensi :