One of the best day of my life
“Ini
gaji kamu bulan ini beserta THR-nya ya!”
“Terimakasih
ya bos”.
Aku
menerima puluhan uang berwarna merah itu, lalu menaruhnya di tasku. Wajahku
tersenyum saat menyambut uangnya.
Hari
ini adalah hari ke-24 ramadhan atau tanggal 22 Juli 2014. Hari terakhir bekerja
dan dua minggu berikutnya adalah libur hari raya.
Sebenarnya
aku baru lulus SMA tiga bulan yang lalu, namun aku berfikir untuk bekerja di
salah satu usaha pamanku selagi menunggu untuk masuk kuliah.
Aku
memang dari jauh hari telah merencanakan akan mudik bersama kawan-kawanku
dengan menggunakan sepeda motor. Kami sepakat untuk mudik tanggal 23 Juli 2014,
jam 3 pagi berangkat dari SPBU Cileungsi.
****
Malam
ini sangat berbeda. Biasanya aku mampu terlelap tidur, namun tidak untuk hari
ini. Apa karena esok akan mudik dengan motor? Entahlah.
Jam
sudah menunjukan pukul 10 malam. Namun mataku tidak mampu untuk memejamkannya.
Akhirnya aku memutuskan untuk pergi ke basecamp.
Suasana
basecamp tidak jauh berbeda dengan suasana yang sebelumnya kurasakan. Semuanya
seperti terhipnotis dengan keadaan saat ini. Mungkin karena kita sudah
terpikirkan akan satu hal, yaitu mudik. Ini sudah hal yang wajar jika seseorang
ingin pulang kampung.
Malam
itu sangat sepi, hanya terdengar suara jangkrik dan alunan musik yang diputar
pada speaker pemilik basecamp ini. Sesekali kami bercanda, bermain kartu, dan
membayangkan akan ada kejadian apa sewaktu perjalanan mudik yang akan kita
jalani nantinya.
Kami
semua ada 10 orang dan 7 motor.
Pertama adalah Tio, dia sendirian dan
memakai motor Minerva.
Kedua adalah Abror, sendirian, dan
memakai motor Beat.
Ketiga adalah Heri, sendirian, dan
memakai motor Smash.
Keempat adalah Hanif, sendirian, dan
memakai motor Revo.
Kelima adalah Sendi, berboncengan dengan
pacarnya, dan memakai motor Beat.
Keenam adalah Bagas, dia berboncengan
dengan Puad, dan memakai motor Vario.
Terakhir aku, berboncengan dengan
Jaffar, dan memakai motor Satria FU.
Malam
ini juga kami briefing untuk perjalanan mudik besok pagi. Dan setelah itu di
dapatkan bahwa Tio, Sendi, dan Aku adalah penanggung jawab perjalanan
(Panitia). Kemudian kami di bagi tugas bahwa Tio akan memimpin jalan serta
membuka jalan karena dia memakai motor Sport, Sendi berada di tengah-tengah, dan
aku sebagai penutup jalan atau bisa di bilang sebagai paling terakhir dalam
rombongan karena aku membawa tongkat yang berlampu merah, seperti yang biasa
polisi atau tukang parkir gunakan.
Mudik
kali ini akan lewat pantura. Rutenya adalah dari Cileungsi à
Setu à
MM 2100 à
Stasiun Lemah Abang à Pantura à lingkar luar Karawang à
Jalan Syeh Quro (Palumbonsari) à Cikalongsari à
Pantura (Indramayu, Cirebon, Losari) à Tanjung
(Brebes) à
Jl. Cemara (Pertigaan Anggraeni Hotel
Tanjung) à
Kersana à
Ketanggungan à
Songgom à
Bumiayu à
Ajibarang à
Rejasari (Purwokerto) à Jl. Veteran à
Andhang Pangrenan (Karangklesem, PWT) à Jl. K.H. Wachid
Hasyim à
Sokaraja à
SPBU Kalimanah (belok kanan) à Kedung Menjangan à
Pasar Panican à
Kembangan à
Purworejo Klampok à Gandulekor à
Desa Kebanaran, Kecamatan Mandiraja, Kabupaten Banjarnegara.
****
Tak
terasa, waktu sudah menunjukan pukul 3 pagi, tanggal 23 Juli 2014. Aku dan
teman-temanku prepare. Selepas dari basecamp kami melanjutkan perjalanan ke
sebuah SPBU di daerah Cileungsi untuk mengisi bahan bakar.
SPBU
ini terasa sepi, hanya ada seorang satpam dan seorang petugas SPBU yang
terlihat sedang mengobrol. Ada dua orang lagi di dekat pintu keluar SPBU dan
mereka sedang memperhatikan kami.
Sewaktu
mengisi bahan bakar dua orang tadi menghampiri kami. Keduanya mengenakan jaket
kulit lengkap, seperti ingin melakukan perjalanan jarak jauh. Ternyata mereka
ingin mudik ke Pemalang dan meminta untuk bareng bersama kami.
Akhirnya
kami memiliki pasukan baru, yaitu Deni, dia berboncengan dengan temannya, dan
memakai motor Vixion. Ya setidaknya kami memiliki teman baru. Dengan adanya
Deni maka kami menjadi 12 orang dan 8 motor.
Jam
menunjukan pukul 03.30 pagi. Sebelum berangkat terjadi kejadian lucu dimana Tio
(pemimpin jalan) kurang hafal jalan menuju Stasiun Lemah abang. Akhirnya aku
memimpin jalan sementara sampai stasiun Lemah Abang. Hujan rintik-rintik
menemani perjalanan kali ini. Sepanjang perjalanan kami berjalan santai, hanya
40-50 Km/jam. Mungkin kami harus pemanasan sebelum mengarungi ganasnya aspal
pantura.
Sesampainya
di stasiun Lemah abang, aku dan Tio bertukar posisi. Aku kembali ke belakang,
sebagai penutup. Aku jalankan motor berkekuatan 150 CC ini mengarah ke Jakarta
(karena dari Lemah abang menuju Karawang harus putar balik) untuk mencari
putaran balik, sesudah kami menemukan putaran, saat ingin putar balik ada
kejadian lucu dimana motorku jatuh, mungkin karena keadaan aspal yang licin
karena gerimis yang mengguyur barusan. Motorku jatuh, namun aku dan jaffar
tetap berdiri. Aku juga masih binggung hingga kini mengapa motorku terjatuh.
Memasuki
pantura aku melajukan motorku sampai 100 km/jam lebih. Semua sesuai dengan
briefing semalam. Dimana Tio selalu membuka jalur dan yang lainnya mengikuti
sampai aku menutup jalan di belakang.
Ada
kisah lucu dimana teman-teman lain sudah jauh, aku dan Heri (bawa motor smash)
tertinggal. Aku samakan kecepatanku dengan kecepatannya, namun hanya sampai
70-80 km/jam.
“Mas,
raiso banter meneh opo?” tanyaku selepas membuka kaca helm yang aku kenakan.
“Ra
iso ham, deleng ki” jawabnya menuruhku tuk melihat gasnya.
Aku
lihat tangan kanannya yang sedang memegang gas. Ternyata sudah mentok gasnya, dan
kecepatannya sudah tidak bisa di tambah lagi.
Akhirnya
kami (Aku, Jaffar, dan Heri) memutuskan untuk membawa motornya untuk ke
bengkel. Selang beberapa menit akhirnya kami jalan kembali. Aku menambah
kecepatanku untuk menyusul kawan-kawan yang lain, karena kami bertiga sudah
tertinggal jauh.
Akhirnya
di daerah lingkar luar karawang, kami berhasil menyusul yang lainnya dan kami
kembali ke rombongan. Namun para rombongan berhenti karena Mynto dan Puad itu
lurus dan tidak berbelok. Akhirnya aku menyusulnya dan menjemputnya kembali,
Ini di karenakan Mynto tidak hafal jalanan betul, dan di belokkan sebelumnya,
dia tidak melihat Tio berbelok kekiri, sehingga dia lurus melewati jembatan
layang.
Dari
lingkar luar kami turun ke bawah, mengarah jalan Syeh Quro. Jika ada yang
bertanya mengapa kami memilih melalui jalan ini, itu karena jalan Syeh Quro ini
walaupun memutar, namun tidak sepadat pantura, karena kami tidak melalui
simpang Jomin, dimana di perkirakan akan terjadi kemacetan disana. (Cipali
belum ada bos, hehe)
Sekitar
Pukul 06.15, kami beristirahat di sebuah SPBU di daerah Cikalongsari. Suasana
SPBU ini sangat ramai, karena banyaknya pemudik yang juga beristirahat disini.
Kami beristirahat sekitar 20 menit. Ada yang mengopi, merokok, dan memakan
makanan ringan yang sengaja kami bawa. Oh iya, kami tidak puasa, jangan contoh
kami ya, hehehe.
Setelah
beristirahat, kami mengisi kembali bahan bakar dan kembali melanjutkan
perjalanan yang di perkirakan 10 menit lagi akan sampai di pertigaan pantura di
daerah Cikalongsari.
Akhirnya
kami memasuki kembali lajur pantura, dimana benar dugaan kami, disana sudah
terjadi kepadatan lalu lintas. Kami berjalan sedang sekitar 60 km/jam, mungkin
karena belum panas. Sekitar beberapa menit, akhirnya Tio memberitahukan kepada
kami agar pawai dimulai. Perjalanan kini akhirnya dimulai, pikirku.
Tio
membuka jalan dan kami mengikutinya di belakang, meliak-liuk kekanan dan
kekiri, mencari celah diantara dua mobil. Ku lihat speedometer-ku menunjukan
100km/jam ini menambah gebu semangat di dalam jiwa anak muda ini.
Kami
memang mencintai kecepatan, namun bukan berarti kami melanggar peraturan.
Itulah prinsip kita selama mudik.
Perjalanan
mudik kali ini tidak macet, namun tidaklah lancar, tepatnya padat merayap. Aku
dengan setianya menjaga barisan belakang. Kali ini aku di temani oleh Mynto dan
Puad di barisan belakang.
Di
daerah pamanukan kami berhenti sebentar di daerah pamanukan untuk mengisi
bensin, ya mungkin beberapa menit sembari sebat dulu.
Ada
kejadian lucu lagi dimana Jaffar, tertidur di belakangku. Motorku yang sedang
berjalan cepat itu tertarik kesamping kiri, dan dengan reflek yang aku punya,
aku menahan badannya dengan tangan kiriku sehingga dia tidak terjatuh. Ya,
mungkin Tuhan masih sayang dengan kami, sehingga kami tidak terjatuh.
Memasuki
daerah Eretankulon, di jalan pantura yang di sebelah pantai persis, kami
berhenti sejenak di daerah ini. Menikmati suasana pantai dengan alunan angin
yang memanjakan tubuh. Di tambah lagi suasana kanan jalan yang disuguhi
hamparan sawah yang hampir menguning saat itu. Suasana mudik ini sangat indah,
dan memang benar indah ciptaan sang kuasa ini.
Kami
juga membeli makan di warung-warung yang khas di bangun pada saat mudik
berlangsung. Makanan yang sederhana, namun sangat nikmat kami rasakan pada saat
itu. Setelah sekitar kurang lebih sejam kami beristirahat, akhirnya kami
memutuskan untuk melanjutkan perjalanan.
Memasuki
Kota Cirebon, tepatnya di daerah Tegalsari mulai terjadi kemacetan pada siang
hari ini. Berfikir pada siang kali ini sangat panas, kami memutuskan untuk
beristirahat kembali di Sebelah kanan bangunan SDN Sunyaragi I – II, sebelum
bangunan SD.
Kami
istirahat disini lumayan lama, ada yang ngopi, merokok, tidur-tiduran di karpet
yang telah di sediakan penjual kopi. Kami disini beristirahat sekitar 1 jam lebih.
Namun Deni dan kawannya yang bertemu di SPBU Cileungsi memutuskan untuk duluan
melanjutkan perjalanan.
Siang
ini sangat terasa terik. Matahari memancarkan cahayanya dengan sempurna. Bahkan
Jaffar sampai melaksanakan mandi pada tengah hari itu. Setelah melaksanakan
kewajiban pada siang hari, kami melanjutkan perjalanan.
Keadaan
jalan saat ini terasa lebih padat, terjadi pasar tumpah dimana-mana. Bahkan
perjalanan menuju perbatasan provinsi Jawa tengah dengan Jawa barat itu terjadi
kemacetan. Setelah melewati perbatasan, keadaan jalan terasa lebih lancar
kembali.
Ada
kisah lucu dimana seharusnya saat pertigaan di Tanjung, lebih tepatnya di
daerah Anggraeni Hotel, Mynto dan Puad kembali terlewat, sehingga mereka lurus
sampai Kota Brebes. Akhirnya Aku kembali menjemput Mynto, sementara kawan-kawan
yang lain menunggu di seberang Hotel Anggraeni Tanjung.
Setelah
melewati kota Brebes, aku kembali menelpon Mynto dan dia mengatakan sudah ada
di Jalan raya Tegal-Margasari. Sehingga dia menyarankan agar kembali ke
teman-teman yang lainnya. Ternyata tadi dia tidak melihat kawan-kawan yang
lain, sehingga keblablasan sampai kota Tegal. Akhirnya dia mengikuti sebuah
sepeda motor ber-plat R.
Setelah
mengisi bahan bakar, aku kembali ke kawan-kawanku yang di daerah Tanjung.
Sesampainya disana ternyata kawan-kawan sudah tidak ada. Dengan hati yang
merasa sakit akhirnya aku jalankan Satria FU ini sampai kecepatan maksimal dari
Hotel Anggraeni sampai Kersana.
Setelah
beberapa lama, aku melihat kawan-kawanku sedang beristirahat di warung di
sekitar pertigaan Slawi. Ternyata mereka menungguku disana. Sebenarnya mereka
terkadang menghubungiku, namun ponselku berada di tas sehingga aku tidak
mendengarmya.
Jam
sudah menunjukan pukul 14.30 sore. Kami kembali melanjutkan perjalanan dengan
formasi sebelumnya. Aku tertinggal jauh disini karena Jaffar meminta sebentar
untuk buang air kecil. Selang beberapa lama, di daerah Karang Bale, Larangan,
aku melihat motor Tio di pinggir jalan. Dia mengakui bahwa motornya mogok,
sementara kawan-kawan yang lain sudah duluan.
Setelah
mendorong motor beberapa meter, termyata terdapat sebuah bengkel dan montir
bengkel itu bisa memperbaikinya, namun harus menunggu sebentar karena ada yang
sedang memperbaiki motor.
Selama
waktu gabut ini, kami bercanda dan memakan makanan ringan. Banyaknya yang mudik
membuat jalur yang biasa di malam hari ini sebagai track para bus malam semakin
padat. Mungkin rangkaian mobil, motor dan bus adalah pemandangan kami selama
menunggu perbaikan motor.
Tepat
pukul 17.00 motor selesai di perbaiki. Aku dan Tio melajukan motor ini
secepat-cepatnya. Motor yang sama berkekuatan 150 CC ini seakan sebanding dalam
barisan seperti sebuah motor yang sedang balapan di sirkuit.
Menjelang
daerah Linggapura, aku dan Jaffar mengalami insiden yang mungkin tidak akan di
harapkan oleh semua orang. Ya, aku mengalami kecelakaan. Insidennya adalah saat
setelah aku mendahului bus, di arah yang berlawanan terdapat sebuah truk fuso
yang panjang. Entah mengapa setelah truk itu, ada sebuah sepeda motor yang
terlihat ingin mendahului truk itu. Sehingga motornya menyerempet motorku.
Setelah
beberapa menit setelahnya aku berhenti sebentar di sebuah musholla untuk
mengecek kondisi motor dan kondisiku dan Jaffar. Ternyata kaki kananku dan kaku
kanannya Jaffar merasakan nyeri.
Kami
melanjutkan perjalanan kembali, kali ini aku kendarai motorku dengan sangat
cepat karena kami merasa tertinggal jauh dengan Tio, dan memang benar ketika
kami sampai Paguyangan, masih belum ada tanda-tanda ada Tio di depan.
Waktu
menunjukan 17.45 dan menunjukan bahwa sebentar lagi Magrib akan berkumandang. Menjelang
daerah Cilongok tiba-tiba Jaffar melihat sebuah papan di pinggir jalan.
Tulisannya adalah “Diskon 50% bagi yang berpuasa”. Tiba-tiba aku mengerti
maksudnya. Bukan karena kami ingin berbuka puasa, namun karena melihat diskon
yang tertera dalam papan.
Akhirnya
kami memasuki tempat restoran yang memang kami tergiur akan diskonnya. Kami
berpura-pura puasa dan membeli sejumlah makanan khas jawa, seperti sate kambing
dan gulai. Kami berdua beristirahat cukup lama, sembari bercerita jika kami
telah di tinggal kawan-kawan kami. Bahkan ketika kami hampir melanjutkan
perjalanan, kami di hubungi oleh Sendi dan dia mengatakan bahwa telah sampai di
rumah dengan selamat.
Pukul
19.00 kami melanjutkan kembali perjalanan. Namun kali ini kami berdua berjalan
dengan cukup santai, menikmati malam di sepanjang jalan pulang. Mungkin tidak
lebih dari 60 km/jam aku menjalankan motor ini.
Aku
memang tidak hafal jalan di kota Purwokerto. Entahlah, dari dulu aku selalu
tersesat jika sudah di Kota Purwokerto. Akhirnya dengan pengalaman yang aku
milikki dan juga pepatah mengatakan “lebih baik bertanya daripada sesat di
jalan” akhirnya aku bertanya pada salah satu pengemudi jalan yang sepertinya warga
lokal karena motornya berplat R.
Lalu
akhirnya di perempatan Tanjung, kami bertanya pada bapak-bapak di sebelah kanan
motor kami. Dan ternyata dia ingin pergi ke Sokaraja, dan dengan senang hati
dia menawarkan untuk membututinya hingga Sokaraja, dan kami setuju.
Dari
perempatan Tanjung, kami belok kanan menuju jalan Gerilya. Dia berkata kepada
kami jika dia memutari kota Purwokerto. Sesampainya di bunderan Andhang
Pangrenan, kami belok kanan menuju jalan K.H Wachid Hasyim. Kami terus
membututinya hingga pertigaan Sokaraja.
Setelah
mengucapkan terimakasih, akhirnya aku melanjutkan perjalanan mengarah
Purbalingga dengan kecepatan standar 60 Km/jam. Di pertigaan Pombensin…… kami belok kanan, menuju daerah …….. Suasana
terasa sangat sepi di daerah ini pada malam itu. Sesampainya di pasar….. kami
belok kiri menuju Wirasaba.
Sesampainya
di perempatan wirasaba, kami belok kanan menuju daerah Purwareja Klampok. Di
perbatasan kali Serayu ini terdapat gerbang yang bertuliskan ‘Sayonara’.
Entahlah sepertinya gerbang perbatasan ini menjadikan simbol di daerah ini.
Sesampainya
di Pertigaan Klampok, kami belok kanan hingga di daerah BLK Klampok, kami
memutuskan belok kanan untuk melewati jalan ‘Gili Bak’. Mungkin hanya
orang-orang di daerah sekitar itu yang tau jalan itu. Dimana jalan gili bak ini
sangat cocok untuk lari-lari pagi dan sore karena disuguhi pemandangan sawah
dan perbukitan di sebelah kanan dan kiri.
Sesampainya
di Purwasaba, kami belok ke kanan menuju desa kami. Di jalan tengah sawah di
daerah Glempang, terlihat desa kami. Desa Kebanaran, Mandiraja, Banjarnegara,
desa dimana aku dilahirkan, namun dibesarkan ditatar Pasundan, Bogor.
Jam
menunjukan pukul 21.00 malam akhirnya kami sampai di rumah kami. Aku dan Jaffar
memang bertetangga, hanya beda lima rumah. Ternyata disana telah banyak teman
kami di kampung yang sedang menyambut kami.
Aku
mengabari teman-temanku yang seperjalanan, dan ternyata kami adalah yang paling
terakhir sampai di rumah. Bahkan Sandi dan Mynto telah sampai tujuan sekitar
pukul 16.30-17.00 berbanding jauh dengan kami yang terlalu telat untuk sampai
di tujuan.
Mungkin
menurut sebagian orang ini mungkin pengalaman biasa, namun ini adalah salah
satu hari terbaik dalam hidup kami. Memang cerita ini tidak seindah kejadian
sewaktu itu karena banyaknya kesalahan dalam penulis.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar