Topik :Ich Liebe Dich,
Tema :Percintaan.
“hey, sudah siapkah kamu
untuk menghadiri pernikahannya malam ini?”
“Ya”
Bagaimana
rasanya jika wanita yang sangat kamu cintai dan sudah bersama-sama semenjak SMA
tiba-tiba memberitahumu akan menikah dengan pria lain? Memang, kita tidaklah menjalin
sebuah hubungan berpacaran yang lama, namun apakah dia tidak mengetahui bahwa aku
sangat mencintainya? Tidak cukup pekakah dia sebagai wanita untuk mengetahui bahwa
kenyataannya ada seorang sahabat laki-lakinya yang mencintainya? Ya, aku mencintai
sahabatku, Anandasekar Tunjung.
Malam
ini, sebuah pesta pernikahan di gelar sangat mewah di sebuah hotel di kota Bekasi.
Tidak besar, namun cukup mewah untuk sebuah pernikahan. Di depan qgedung hotel
terdapat karangan bunga pernikahan bertuliskan ‘selamat menikah Anugerah Rizki dan
Anandasekar Tunjung’. Sebuah kalimat singkat yang mampu membuat perasaan sedikit
menyakiti hatiku.
Aku
memasuki sebuah ruangan dimana pesta pernikahan itu di gelar dan ternyata sudah
banyak tamu undangan yang hadir. Aku datang bersama sahabatku, Azhim, Iqbal,
dan Herika. Aku langsung duduk di sebuah meja dekat dengan panggung pernikahan.
Kulihat sekitarku dan tak kudapati calon pengantin disana, ternyata pesta belum
dimulai.
“Kita
bertaruh, siapa yang berani menjengkalkan kaki si pengantin pria, maka kita traktir
makan” tawar Azhim kepada kami. “Ide
yang cemerlang” jawabku dengan semangat. “Mengapa kalian begitu jahat?” Tanya
herika kepada kami. “Mana ada pria yang mengikhlaskan wanita yang paling di
cintainya menikah dengan pria lain?” jawab Iqbal. Ya, kita memang bersahabat,
namun kami mencintai orang yang sama, Anandasekar Tunjung. Namun aku yang
beruntung, Karena aku mencintainya dan dia dulu sempat pernah mencintaku.
Tidak
seberapa lama, sepasang pengantin memasuki ruang pernikahan, wanita dengan gaun
berwarna putih. Wajahnya yang cantik dan mampu membuatku jatuh cinta di sinari lampu-lampu
pesta membuatnya lebih dari seorang wanita yang biasa aku lihat. Hari ini dia sangat
terlihat sempurna, sungguh beruntung pria yang dapat menjadi pasangannya.
Malam
ini pula aku menyadari bahwa hal terindah itu bukanlah memaksakan dia agar
menjadi pasangan kita kelak, namun hal terindah adalah saat kita melihat dia tersenyum
dan bahagia karena dia telah menemukan pasangan hidupnya. Kita juga pasti akan mendoakan
yang terbaik untuknya, karena sekarang aku mengerti ‘cinta itu tidak harus memiliki’.
“bagaimana
perasaanmu?” Tanya Herika kepadaku. “Hancur namun bahagia” jawabku. “kenapa?” tanyanya lagi. “Aku mencintainya
dan apakah aku mampu melepaskannya?” jawabku dibalik dengan kebimbangan hatiku.
“Asal kamu tau, dia pun sangat mencintaimu, ya sekar sangat mencintaimu”
kalimatnya tertahan sebentar “hanya saja kamu terlambat dan menyiakannya sehingga
dia memilih pria lain” lanjutya lagi. “Ya, aku tau” jawabku dengan mata berkaca-kaca.
Perasaan
yang saat ini aku punya masih sama seperti dulu, ya aku masih mencintainya.
Teringat kembali masa-masa dimana kami saling berbagi dan menghabiskan waktu bersama.
Senyuman dan cintanya yang dahulu adalah milikku, kini sudah bukan lagi milikku.
Kini, hanya ada satu yang tersisa, yaitu cinta. Aku masih memiliki cintanya walau
raga tidak bisa saling memiliki.
Sebuah
kenangan yang dahulu pernah membuataku bahagia kini tidaklah lagi ada. Hidup dengan
kesendirian, kini hanya ada penyesalan yang tidak bisa aku tolak lagi takdirnya.
Apakah dia mampu membuatmu bahagia sayang? Membuatmu tenang disaat kamu gundah,
dan mampu membuatmu tersenyum disaat kamu gelisah?
Aku
tau dia memberimu mahar yang sangat tidak mungkin aku berikan kepadamu, pesta pernikahan
yang begitu mewah tidak mungkin aku selenggarakan jika aku yang menjadi mempelai
prianya. Dia memberimu segalanya yang takkan mampu aku cukupkan kepadamu. Apalah
dayaku yang hanya bisa memberikan cinta dan
kasih sayang yang tulus kepadamu.
Tidak
terasa waktu sudah menunjukkan pukul 11 malam. Satu persatu tamu undangan sudah
meninggalkan ruangan pesta hanya tinggal aku, sahabatku, dan beberapa tamu undangan
lain. “Kita harus pulang, sebelumnya kita harus berfoto dengan pengantin,
sebagai kenang-kenangan” kata Herika. Kami
bertiga pun seperti anak yang menuruti induknya, hanya menuruti saja.
Waktu
sesi foto, aku berdiri di pojok, jauh dengan Sekar. Aku hanya tidak tahu harus bagaimana
lagi, menatap wajahnya pun aku sudah tidak berani lagi. Sehabis foto, Herika mengucapkan
selamat kepada Sekar. “Selamat Sekar, semoga menjadi keluarga sakinah, mawadah,
dan warohman” kata Herika di barengi dengan Iqbal dan Azhim. “Kau tidak mengatakan
sesuatu?” Tanya Herika kepadaku. Aku hanya menjawabnya dengan senyuman.
“Maafkan
aku sekar” tenggorokanku semakin tercekat. “Semoga menjadi keluarga yang
sakinah mawadah warahmah.” Kataku dengan sedikit tercekat. Aku pandangi lekat matanya,
aku tau ada yang ingin dia katakan kepadaku, namun tertahan. Wajahnya hari ini sangat
cantik namun itu bukan milikku. Pesta pernikahan yang dahulu aku bayangkan adalah
milikku dan miliknya kini bukanlah seperti apa yang aku bayangkan. Itu berbeda.
Saat
aku dan sahabatku ingin turun dari panggung, tiba-tiba tangan Sekar memegang lenganku.
Aku lalu berbalik menghadapnya dan dia memelukku. Sebuah pelukkan yang
menyakinkanku bahwa ternyata dugaanku selama ini salah. Aku kira dia tidak mempedulikanku,
tidak peka, ternyata aku tau dia sangat mencintaiku. Akhirnya pelukannya terlepas.
Mungkin ini adalah pelukan terakhir darinya. “Ich Liebe Dich, Ilham” katanya dengan
mata yang sayu. “Ich Liebe Dich Auch, Sekar” kataku kembali sembari pergi dari ruangan
dengan masih menyimpan senyum yang tidak pernah hilang dari bibirku.
karya : Ilham Pratama Krishnaaji,
NPM : 15514184, Kelas : 1PA15.
NB :Ich Liebe Dich =
Aku cinta kamu.