Senin, 20 April 2015

Ich Liebe Dich



Topik :Ich Liebe Dich,
Tema :Percintaan.

“hey, sudah siapkah kamu untuk menghadiri pernikahannya malam ini?”
“Ya”
Bagaimana rasanya jika wanita yang sangat kamu cintai dan sudah bersama-sama semenjak SMA tiba-tiba memberitahumu akan menikah dengan pria lain? Memang, kita tidaklah menjalin sebuah hubungan berpacaran yang lama, namun apakah dia tidak mengetahui bahwa aku sangat mencintainya? Tidak cukup pekakah dia sebagai wanita untuk mengetahui bahwa kenyataannya ada seorang sahabat laki-lakinya yang mencintainya? Ya, aku mencintai sahabatku, Anandasekar Tunjung.
Malam ini, sebuah pesta pernikahan di gelar sangat mewah di sebuah hotel di kota Bekasi. Tidak besar, namun cukup mewah untuk sebuah pernikahan. Di depan qgedung hotel terdapat karangan bunga pernikahan bertuliskan ‘selamat menikah Anugerah Rizki dan Anandasekar Tunjung’. Sebuah kalimat singkat yang mampu membuat perasaan sedikit menyakiti hatiku.
Aku memasuki sebuah ruangan dimana pesta pernikahan itu di gelar dan ternyata sudah banyak tamu undangan yang hadir. Aku datang bersama sahabatku, Azhim, Iqbal, dan Herika. Aku langsung duduk di sebuah meja dekat dengan panggung pernikahan. Kulihat sekitarku dan tak kudapati calon pengantin disana, ternyata pesta belum dimulai.
“Kita bertaruh, siapa yang berani menjengkalkan kaki si pengantin pria, maka kita traktir makan”  tawar Azhim kepada kami. “Ide yang cemerlang” jawabku dengan semangat. “Mengapa kalian begitu jahat?” Tanya herika kepada kami. “Mana ada pria yang mengikhlaskan wanita yang paling di cintainya menikah dengan pria lain?” jawab Iqbal. Ya, kita memang bersahabat, namun kami mencintai orang yang sama, Anandasekar Tunjung. Namun aku yang beruntung, Karena aku mencintainya dan dia dulu sempat pernah mencintaku.
Tidak seberapa lama, sepasang pengantin memasuki ruang pernikahan, wanita dengan gaun berwarna putih. Wajahnya yang cantik dan mampu membuatku jatuh cinta di sinari lampu-lampu pesta membuatnya lebih dari seorang wanita yang biasa aku lihat. Hari ini dia sangat terlihat sempurna, sungguh beruntung pria yang dapat menjadi pasangannya.
Malam ini pula aku menyadari bahwa hal terindah itu bukanlah memaksakan dia agar menjadi pasangan kita kelak, namun hal terindah adalah saat kita melihat dia tersenyum dan bahagia karena dia telah menemukan pasangan hidupnya. Kita juga pasti akan mendoakan yang terbaik untuknya, karena sekarang aku mengerti ‘cinta itu tidak harus memiliki’.
“bagaimana perasaanmu?” Tanya Herika kepadaku. “Hancur namun bahagia”  jawabku. “kenapa?” tanyanya lagi. “Aku mencintainya dan apakah aku mampu melepaskannya?” jawabku dibalik dengan kebimbangan hatiku. “Asal kamu tau, dia pun sangat mencintaimu, ya sekar sangat mencintaimu” kalimatnya tertahan sebentar “hanya saja kamu terlambat dan menyiakannya sehingga dia memilih pria lain” lanjutya lagi. “Ya, aku tau” jawabku dengan mata berkaca-kaca.
Perasaan yang saat ini aku punya masih sama seperti dulu, ya aku masih mencintainya. Teringat kembali masa-masa dimana kami saling berbagi dan menghabiskan waktu bersama. Senyuman dan cintanya yang dahulu adalah milikku, kini sudah bukan lagi milikku. Kini, hanya ada satu yang tersisa, yaitu cinta. Aku masih memiliki cintanya walau raga tidak bisa saling memiliki.
Sebuah kenangan yang dahulu pernah membuataku bahagia kini tidaklah lagi ada. Hidup dengan kesendirian, kini hanya ada penyesalan yang tidak bisa aku tolak lagi takdirnya. Apakah dia mampu membuatmu bahagia sayang? Membuatmu tenang disaat kamu gundah, dan mampu membuatmu tersenyum disaat kamu gelisah?
Aku tau dia memberimu mahar yang sangat tidak mungkin aku berikan kepadamu, pesta pernikahan yang begitu mewah tidak mungkin aku selenggarakan jika aku yang menjadi mempelai prianya. Dia memberimu segalanya yang takkan mampu aku cukupkan kepadamu. Apalah dayaku  yang hanya bisa memberikan cinta dan kasih sayang yang tulus kepadamu.
Tidak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 11 malam. Satu persatu tamu undangan sudah meninggalkan ruangan pesta hanya tinggal aku, sahabatku, dan beberapa tamu undangan lain. “Kita harus pulang, sebelumnya kita harus berfoto dengan pengantin, sebagai kenang-kenangan”  kata Herika. Kami bertiga pun seperti anak yang menuruti induknya, hanya menuruti saja.
Waktu sesi foto, aku berdiri di pojok, jauh dengan Sekar. Aku hanya tidak tahu harus bagaimana lagi, menatap wajahnya pun aku sudah tidak berani lagi. Sehabis foto, Herika mengucapkan selamat kepada Sekar. “Selamat Sekar, semoga menjadi keluarga sakinah, mawadah, dan warohman” kata Herika di barengi dengan Iqbal dan Azhim. “Kau tidak mengatakan sesuatu?” Tanya Herika kepadaku. Aku hanya menjawabnya dengan senyuman.
“Maafkan aku sekar” tenggorokanku semakin tercekat. “Semoga menjadi keluarga yang sakinah mawadah warahmah.” Kataku dengan sedikit tercekat. Aku pandangi lekat matanya, aku tau ada yang ingin dia katakan kepadaku, namun tertahan. Wajahnya hari ini sangat cantik namun itu bukan milikku. Pesta pernikahan yang dahulu aku bayangkan adalah milikku dan miliknya kini bukanlah seperti apa yang aku bayangkan. Itu berbeda.
Saat aku dan sahabatku ingin turun dari panggung, tiba-tiba tangan Sekar memegang lenganku. Aku lalu berbalik menghadapnya dan dia memelukku. Sebuah pelukkan yang menyakinkanku bahwa ternyata dugaanku selama ini salah. Aku kira dia tidak mempedulikanku, tidak peka, ternyata aku tau dia sangat mencintaiku. Akhirnya pelukannya terlepas. Mungkin ini adalah pelukan terakhir darinya. “Ich Liebe Dich, Ilham” katanya dengan mata yang sayu. “Ich Liebe Dich Auch, Sekar” kataku kembali sembari pergi dari ruangan dengan masih menyimpan senyum yang tidak pernah hilang dari bibirku.

karya : Ilham Pratama Krishnaaji, NPM : 15514184, Kelas : 1PA15.

NB :Ich Liebe Dich = Aku cinta kamu.
Ich Liebe Dich Auch = Aku juga mencintaimu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar