PENYESUAIAN
DIRI
Penyesuaian diri (adjustment atau personal
adjusment) adalah suatu proses dimana individu berusaha untuk dapat
berhasil mengatasi kebutuhan-kebutuhan dalam dirinya, ketegangan-ketegangan, konflik-konflik,
dan frustrasi yang dialaminya yang menyangkut mental dan tingkah laku, sehingga
terwujud tingkat keselarasan atau harmoni antara tuntutan dari dalam diri
dengan apa yang diharapkan oleh lingkungan dimana ia tinggal (Schneiders
dalam Desmita, 2009:192)
- Konsep Penyesuaian Diri
Penyesuaian dapat diartikan atau dideskripsikan sebagai
adaptasi dapat mempertahankan eksistensinya atau bisa survive dan
memperoleh kesejahteraan jasmaniah dan rohaniah, dan dapat mengadakan relasi
yang memuaskan dengan tuntutan sosial. Penyesuaian dapat juga diartikan sebagai
konformitas, yang berarti menyesuaikan sesuatu dengan standar atau prinsip.
Penyesuaian sebagai penguasaan, yaitu memiliki kemampuan untuk membuat rencana
dan mengorganisasi respons-respons sedemikian rupa, sehingga bisa mengatasi
segala macam konflik, kesulitan, dan frustrasi-frustrasi secara efisien.
Individu memiliki kemampuan menghadapi realitas hidup dengan
cara yang memenuhi syarat. Penyesuaian sebagai penguasaan dan kematangan
emosional. Kematangan emosional maksudnya ialah secara positif memiliki
responss emosional yang tepat pada setiap situasi. Disimpulkan bahwa
penyesuaian adalah usaha manusia untuk mencapai keharmonisan pada diri sendiri
dan pada lingkungannya.
PERTUMBUHAN
PERSONAL
Manusia
mempunyai kapasitas jasmianiah dan rohaniah sebagai suatu kondisi yang menuju
ke arah kesempurnaan. Menurut Crow dan Crow, kematanganatau pertumbuhan
sejak pembuahan dan seterusnya merupakan gejala alamiah. Pertumbuhan merupakan
suaut hasil dari faktor-faktor luar dari individu yang matang atau tumbuh yang
biasa ditunjukkan sebagai suatu perkembangan. Jadi pertumbuhan ialah
sebagai akibat dari adanya pengaruh lingkungan.
Kepribadian
yang ada pada setiap individu tidak didapatkan dengan mudah, akan tetapi
melalui pertumbuhan yang sedikit demi sedikit di dapat melalui proses yang
panjang dan dipengaruhi oleh banyak faktor utama yaang mempengaruhi pembentukan
kepribadian. Dalam hal ini keluarga adalah faktor yang pasti akan mempengaruhi
pertumbuhan kepribadiannya, karena dalam setiap keluarga pasti menerapkan
aturan dalam keluarga. Proses ini juga berpengaruh pada lingkungan masyarakat
dalam mematuhi norma atau aturan yang berlaku dalam masyarakat tersebut (spirit,
2011). Terjadinya perubahan pada seseorang atau individu secara tahap
demi tahap karena pengaruh baik pengalaman atau empire luar melalui panca
indera yang menimbulkan pengalaman dalam mengenaikeadaan batin sendiri yang
menimbulkan refleksion.
1.
Penekanan Pertumbuhan, Penyesuaian
Diri dan Pertumbuhan
Pertumbuhan
adalah perubahan secara fisiologis sebagai hasil dari proses pematangan
fungsi-fungsi fisik yang berlangsung secara normal. Pertumbuhan dapat juga
diartikan sebagai proses transmisi dari konstitusi fisik (keadaan tubuh atau
kondisi jasmaniah) yang herediter dalam bentuk proses aktif secara
berkesinambungan. Jadi, pertumbuhan berkaitan dengan perubahan kuantitatif yang
menyangkut peningkatan ukuran dan struktur biologis.
Secara
umum konsep perkembangan dikemukakan oleh Werner (1957) bahwa perkembangan
berjalan dengan prinsip orthogenetis, perkembangan berlangsung dari
keadaan global dan kurang dari berdiferensiasi sampai keadaan dimana
diferensiasi, artikulasi dan integrasi meningkat secara bertahap. Proses diferensiasi
diartikan sebagai prinsip totalitas pada diri anak. Dari penghayatan totalitas
itu lambat laun bagian-bagiannya akan menjadi semakin nyata dan bertambah jelas
dalam kerangka keseluruhan.
2.
Variasi dalam Pertumbuhan
Pertumbuhan
yang di alami dan terjadi pada diri individu bervariasi, pasti tidaklah sama
antara individu yang satu dengan yang lain. Dan tidak selamanya individu
berhasil dalam melakukan penyesuaian diri, karena terkadang ada
rintangan-rintangan tertentu yang menyebabkan tidak berhasil melakukan
penyesuaian diri. Rintangan-rintangan itu mungkin terdapat dalam dirinya atau
mungkin diluar dirinya. Hal ini yang menyebabkan mengapa adanya variasi dalam
pertumbuhan. Variasi Pertumbuhan mencakup kematangan emosional, kematangan
intelektual, kematangan sosial dan tanggung jawab dalam hubungan intrapersonal.
3.
Kondisi-kondisi untuk Tumbuh
Faktor
lainnya yang memengaruhi proses penyesuaian diri individu yaitu kondisi untuk
tumbuh dimana dapat dilihat dari jawaban atas pertanyaan “dimana dan
seperti apa kondisi individu untuk tumbuh?”
Lingkungan
yang berbeda akan menimbulkan kondisi individu untuk bertumbuh yang berbeda,
sehingga menyebabkan penyesuaian diri untuk kondisi lingkungan untuk tumbuh itu
juga akan berbeda. Misalkan lingkungan dengan kondisi yang serba berkecukupan,
kasih sayang yang diberikan orang tua berlimpah, pola asuh yang demokratis yang
diterapkan oleh orang tua juga akan menciptakan penyesuaian diri dengan kondisi
bertumbuh yang berbeda dengan kondisi lingkungan dimana kebutuhan ekonomi
terkecukupi dengan baik, tetapi kasih sayang yang diberikan dari orangtua ke
individu tersebut kurang serta adanya perasaan bahwa dia diabaikan oleh
orangtua nya. Walaupun dari tingkat yang sama dilihat dari ekonomi yang
setingkat, akan tetapi banyak faktor lain yang membuat penyesuaian diri pada
individu menjadi lebih kompleks. Apalagi jika dibandingkan dengan tingkat
ekonomi yang jauh lebih rendah, maka penyesuaian diri sesuai dengan kondisi
lingkungan tumbuh yang lain pun akan berbeda untuk mengatasi berbagai persoalan
hidup yang pelik ini.
Ada
beberapa kondisi yang memberi pengaruh besar bagi pertumbuhan diri, yaitu:
perubahan fisik dan lingkungan, peristiwa hidup yang signifikan, perubahan
dalam diri individu, serta kehidupan pribadi.
4.
Fenomenologi Pertumbuhan
Fenomenologi memandang manusia hidup
dalam “dunia kehidupan” yang dipersepsi dan diinterpretasi secara
subyektif. Setiap orang mengalami dunia dengan caranya sendiri. “Alam
pengalaman setiap orang berbeda dari alam pengalaman orang lain.” (Brouwer,
1983). Fenomenologi banyak mempengaruhi tulisan – tulisan Carl Rogers. Carl
Roger (1961) menyebutkan 3 aspek yang memfasilitasi pertumbuhan personal dalam
suatu hubungan :
1. Keikhlasan kemampuan untuk
menyadari perasaan sendiri, atau menyadari kenyataan.
2. Menghormati keterpisahan dari
orang lain tanpa kecuali.
3. Keinginan yang terus menerus
untuk memahami atau berempati terhadap orang lain.
STRESS
1.
Pengertian
stress
Stress adalah bentuk ketegangan dari fisik, psikis, emosi
maupun mental. Bentuk ketegangan ini mempengaruhi kinerja keseharian seseorang.
Bahkan stress dapat membuat produktivitas menurun, rasa sakit dan
gangguan-gangguan mental. Pada dasarnya, stress adalah sebuah bentuk
ketegangan, baik fisik maupun mental. Sumber stress disebut dengan stressor dan
ketegangan yang di akibatkan karena stress, disebut strain.
Hans Selye
(dalam Sehnert, 1981) yang mendefinisikan stres sebagai respon yang tidak
spesifik dari tubuh pada tiap tuntutan yang dikenakan padanya. Stress adalah
suatu keadaan yang bersifat internal, yang bisa disebabkan oleh tuntutan fisik
(badan), atau lingkungan, dan situasi sosial, yang berpotensi merusak dan tidak
terkontrol.
Menurut Morgan
dan King : “…as an internal state which can be caused by physical demands on
the body (disease conditions, exercise, extremes of temperature, and the like)
or by environmental and social situations which are evaluated as potentially
harmful, uncontrollable, or exceeding our resources for coping” (Morgan &
King, 1986: 321).
Menurut Lazarus
(1976) stres adalah suatu keadaan psikologis individu yang disebabkan karena
individu dihadapkan pada situasi internal dan eksternal.
.
- Efek-efek dari Stress
Stress
dapat menimbulkan dampak-dampak negative, seperti menganggu proses berpikir,
mengurangi konsentrasi, dan menganggu proses pembuatan keputusan (Kaplan,
1996). Stress juga dapat mengakibatkan efek-efek subyektif (seperti kelelahan,
harga diri meurun), efek tingkah laku (misalnya hilang nafsu makan dan tidak
tenang), efek fisiologis (tekanan darah meningkat, kesulitan bernafas) dan efek
kognitif (seperti kesulitan berkonsentrasi) (Cardwell, 1996).
3.
Penyebab stress
Menurut
Anatan & Ellitan (2009) adapun faktor-faktor penyebab stres meliputi :
- Stresor dari luar organisasi (extra organizational stresor ) yang meliputi perubahan sosial dan teknologi yang mengakibatkan perubahan life styleindividu, perubahan ekonomi dan finansial yang mempengaruhi pola kerja individu, mencari the second job.
- Stresor dari dalam organisasi (organizational stresor) yang meliputi kondisi kebijakan, strategi administrasi, struktur dan desain organisasi, proses organisasi dan kondisi lingkungan kerja.
- Stresor dari kelompok dalam organisasi (group stresor) yang muncul akibat kurangnya kesatuan dalam pelaksanaan tugas kerja terutama terjadi pada level bawah, kurangnya dukungan dari atasan dalam melaksanakan tugas yang dibebankan, munculnya konflik antar personal, interpersonal, dan antar personal.
- Stresor dari dalam diri individu (individu stresor) yang muncul akibatrole ambiguity dan konflik. Seperti beban kerja yang terlalu berat dan kurangnya pengawasan pihak perusahaan.
4.
Tipe-tipe Stress
Menurut
Hans Selya membagi stress membagi stress dalam 3 tingkatan,yaitu :
- Eustress adalah respon stress ringan yang menimbulkan rasa bahagia, senang, menantang, dan menggairahkan. Dalam hal ini tekanan yang terjadi bersifat positif, misalnya lulus dari ujian, atau kondisi menghadapi suatu perkawinan.
- Distress merupakan respon stress yang buruk dan menyakitkan sehingga tak mampu lagi diatasi. Sebagai contoh: pertengkaran, kematian pasangan hidup, dan lain-lain.
- Optimal stress atau Neustress adalah stress yang berada antara eustress dan distres, merupakan respon stress yang menekan namun masih seimbang untuk menghadapi masalah dan memacu untuk lebih bergairah, berprestasi, meningkatkan produktivitas kerja dan berani bersaing.
5. Contoh
:
Hampir semua orang
pernah mengalami stress, begitu juga dengan saya. Saya terkadang mengalami
stress karena beberapa tekanan baik dari dalam ataupun dari luar. Sakit hati,
merasa tidak nyaman dengan keadaan dan gelisah adalah sebagian contoh yang saya
alami. Cara mengatasinya adalah dengan cara ngopi atau merokok, namun jika
masih stress, ibadah adalah jalan terbaik.
Referensi:
Indrawati, Endang sri. dan Fauziah, Nailul. “Attachment dan Penyesuaian
Diri Dalam Perkawinan”. Jurnal Psikologi Undip. 11. (1), 42-43.
Diri Dalam Perkawinan”. Jurnal Psikologi Undip. 11. (1), 42-43.
http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/24670/4/Chapter%20II.pdf
Schultz, Duane. (1991). Psikologi Pertumbuhan : Model-model Kepribadian Sehat.
Yogyakarta : PT Kanisius.
Yogyakarta : PT Kanisius.