Hari
itu tidak seperti biasanya. Siang yang lazimnya begitu panas tanpa satupun
awan, kini terasa berbeda. Kumpulan awan-awan hitam terlihat di seluruh bagian
langit kota yang terkenal akan es dawet ayu-nya. Tengah hari itu terasa seperti
petang. Tidak ada sinar matahari yang masuk ke permukaan bumi untuk menyinari
segala isinya.
Hingga
akhirnya satu-persatu isi dari awan hitam itu mulai jatuh ke tanah. Dengan
perlahan mengguyur permukaan tanah dan alam di sekitarnya. Aspal jalanan itu
yang sebelumnya kering karena debu kotor tiba-tiba menjadi basah dengan
meninggalkan bau jalanan yang menyengat.
Aku
parkirkan motor matik 125CC besutan pabrikan Jepang dengan slogan semakin di
depan ini ke sebuah kedai kopi di pinggir jalan raya. Kedai kopi yang letaknya
di jantung kota Mandiraja ini terlihat startegis karena berada di sekitar
pasar, kantor polisi, ruko-ruko perbelanjaan, dan terminal.
Suara
adzan dzuhur berkumandang di masjid berwarna hijau tepat di belakang kedai
kopi. Suara muadzin terdengar merdu, bahkan melebihi merdunya suara penyanyi
pria yang terkenal akan lagu bukan cinta biasa. Masjid yang bergaya jawa dengan
satu menara di samping masjid ini terlihat begitu indahnya.
Perempatan
jalan kota Mandiraja yang biasanya ramai kini terasa sepi. Pengguna sepeda
motor yang biasanya mendominasi jalanan, kini tiada hilang dalam sekejap. Hanya
beberapa kendaraan roda empat yang berlalu lalang di jalur yang menghubungkan
kota Purbalingga dan Banjarnegara tersebut.
Di
seberang jalan raya bagian selatan warung kopi tersebut terdapat hamparan
sawah-sawah yang padinya mulai menguning dengan beberapa orang yang sedang
meneduh di sebuah pondok di dekat persawahan. Pemandangan itu terasa lengkap
dengan background perbukitan yang
memisahkan kabupaten Banjarnegara dengan Kebumen tersebut.
Sementara
di bagian utara kedai kopi ini tampak sungai serayu di kejauhan yang
samar-samar terhalangi oleh sawah dan rumah-rumah penduduk di sekitarnya. Tidak
lupa latar belakang perbukitan yang panjangnya sejauh mata memandang dengan
ujungnya gunung Slamet di bagian barat dan dataran tinggi dieng di bagian
timurnya.
Aku
pesankan secangkir kopi hitam kepada penjual laki-laki itu dan mengambil satu
pisang goreng yang masih hangat. Perpaduan manisnya pisang dan gurihnya tepung
terasa nikmat di lidah putra Jawa ini yang notabennya memang pencinta manis.
Kopi
hitam pesananku tak lama datang. Aku lantas menyeruput perlahan kopi hitam
bermerek angkutan laut dan mengambil tempat duduk di bangku terujung di dalam
kedai kopi itu lalu menyalakan sebatang rokok filter yang lambangnya sebuah
pabrik dan jalur kereta.
Disebelahku
terdapat dua orang pria yang usianya mungkin sudah melewati setengah abad.
Mereka mengenakan topi caping dan membawa pacul yang kotor bekas menyangkul
tanah. Kedua bapak-bapak itu juga berkulit legam mungkin karena sedari kecil
mereka bekerja di sawah.
Salah
seorang dari mereka yang memakai baju merah sedang menghisap rokok kretek khas
dari pabrikkan kota kelahiran dari orang terkaya di Indonesia. Sedangkan yang
satunya lagi memakai baju berwarna putih yang di bagian depannya sedikit kotor
sedang memakan gorengan dengan di tangan satunya lagi memegang cabai berwarna
hijau yang ranum.
Tetesan
air hujan semakin deras menimbulkan sepinya jalanan yang biasanya ramai akan
kendaraan roda dua. Bulir-bulir air hujan tampak terlihat dalam genangan air di
pinggiran aspal. Tanah-tanah yang sebelumnya kering kini menjadi basah dan
becek serta berlumpur.
Kedua
mata ini lalu memandang kesekitar terminal yang letaknya sedikit ke barat dari
kedai kopi. Terdapat beberapa bis yang sedang terparkir dengan megah dan
kehujanan di dalam terminal yang notabennya adalah bis yang di kenal dengan
pelanginya.
Disebelah
timur terminal terlihat beberapa becak dan dokar yang pemiliknya sedang
berteduh di sebuah bangunan dinas perhubungan dengan warnanya yang khas, yaitu
biru tua dan putih. Terlihat juga beberapa petugas dinas perhubungan yang
sedang menikmati kopinya.
Di
seberang jalan tepat di depan kedai kopi ini pasar Mandiraja berdiri dengan
indahnya. Pertokoan yang di sekitar pasar terlihat sepi, hanya ada beberapa
penjual yang sedang berada di depan tokonya yang sedang berbincang-bincang
dengan penjual lainnya.
Kantor
polisi sektor Mandiraja juga terlihat sepi seperti tidak ada kehidupan di
dalamnya. Hanya terlihat beberapa mobil dinas polisi dan dua sepeda motor bebek
yang sedang terparkir di halaman kantor. Di pos polisi hanya ada satu polisi
berpangkat ajun inspektur polisi dua yang terlihat sedang melihat ke arah
jalanan.
Tanpa
sengaja sepasang bola mata ini melihat ke arah bangunan warung sembako yang
sedang tutup di depan kedai kopi. Alat
panca menangkap sepasang pemuda-pemudi yang aku kenal sedang meneduh dari
derasnya hujan siang ini. Tiba-tiba pikiranku langsung terbawa ke masa lalu
seperti hempasan asap rokok yang terbawa angin hujan.