Selasa, 15 November 2016

Sejarah Makam Kedunglumbu, Kebanaran. Kecamatan Mandiraja, Kab Banjarnegara, Jawa Tengah.



KISAH /YANG DIMAKAMKAN DI DESA KEBANARAN
[MAKAM KEDUNGLUMBU]

            Bambang Bragola adalah putra dari ki Ageng Penjawi [senopati mataram] yang dalam legenda Bambana Bragola mempunyai kesaktian yang luar biasa, punya seekor kuda yang larinya tak ada yang biasa mengalahkannya. Sang raja takut kalo kalo pemerintahannya akan dakalahkan oleh putra Ki Ageng Penjawi, Untuk menyingkirkan Bambang Bragola, sang Prabu mengadakan sayembara, yaitu balapan kuda dengan persyaratan bila sayembara Bambang Bragola dapat memenangkan pembalap kuda kerajaan, Bambang Bragola akan dinaikkan pangkatnya menjadi Adipati di mataram, sebaliknya bila kalah, harus enyah dari Mataram.
            Pada saat yang telah ditentukan dimulailah pertandingan balap kuda /pacuan kuda Yang kuda punggawa kerajaan semuanya kalah, mendengar kuda kuda kerajaan kalah, sanga raja memerintahkan kuda Bambang Bragola diganti dengan kerbau, yang selanjutnya kerbau itu harus diadu kecepatannya dengan kuda kuda kerajaan, Dalam pelaksanaan tersebut kuda kuda kerajaan tetap kalah dengan larinya kerbau milik Bambang Bragola.
            Karena raja merasa malu, maka memerintahkan kepada punggawanya untuk membunuh kerbau itu. Dalam pelaksanaannya kerbau tersebut tidak dapat dibunuh karena kesaktiannya [Kerbau itu dinamai kerbau lando] Sesakti apapun karena berkali kali dikeroyok oleh pasukan Mataram akhirnya kerbau lando berbicara pada sang majikan [Bambang  Bragola] saya mau mati tetapi harus bersama dengam sang majikan. Benar juga pada pengeroyokan yang terakhir, Bambang Bragola dan kerbaunya mati seketika.
            Sang ayah melihat kematian anaknya, merasa malu jangan jangan dianggap mejadi pemberontak Akhirnya Ki Ageng Penjawi melarikan diri dari kerajaan. Pertama pergi kearah barat menuju ke Kebumen, lalu ke Gombong. Disitu beliau bingung, kemana akan melanjutkan perjalanan ,karena belum ada manusia didaerah tersebut. Pada saat kebingungan, melihat arah utara ada asap, dalam hati berkata kalau ada asap berarti ada kehidupan manusia disana.
            Akhirnya pergi menuju ke utara, pada saat di gundukan tanah yang tinggi beliau melihat kanan kiri [ngileng basa jawa] yang akhirnya tempat tersebut dinamai Desa Ketileng. Terus berjalan ke utara menyeberangi sungai sapi, yang  palungnya yang amat dalam [kedung basa jawa] dan disinya ada tanaman talas [lumbu] yang pohonnya ditimur sungai dan daunnya di sebelah sungai, akhirnya tempat itu diberi nama Kedunglumbu.
             Pasa saat istirahat, bertemu dengan seorang kakek kakek yang memakai lancingan  yang akhirnya orang itu disebut mbah tuan lancing. Yang konon disuruh mampir seterusnya Ki Ageng Penjawi dinobatkan sebagai guru dari Tuan  Lancing  Dipedepokan kedunglumbu mempunyai seorang murid yang bernama Nitipraja. Pada saat trukah ke Somawangi, bila setelah selesai kerja  Nitipraja langsung mandi dengan api yang membara.
            Waktu ada undangan ke Banyumas Ki Ageng Penjawi mewakilkan kepada murid kesayangannya yaitu Nitipraja .Pada saat sarasean di pendopo. Nitipraja dikerjain [dijaili] Yang pada saat berdiri ia tidak dapat pantantnya lengket ke tikar. Karena kesaktiannya maka berdoa, yang akhirnya dapat berdiri seperti semula .Pada saat iti ia langsung menyumpahi pada pada orang orang  banyumas Besok orang orang Banyumas bila datang ke Kebanaran akan terjadi musibah.
Ini dulu versi sejarah kedung lumbu.
Disadur oleh (Alm. K.Khusbandi)
Disalurkan oleh (I.P. Krishnaaji)

4 komentar:

  1. Njenengan aslinya mana mas?

    Kalo boleh tau k. Khusbandi itu orang mana?

    BalasHapus
  2. asli desa kebanaran mas,
    K. Khusbandi ya asli Kebanaran juga mas.

    BalasHapus
  3. HAI COWOK KENAL IKEE NDAAAAA

    BalasHapus
  4. Aku lair nang gajahuling gede nang gajahuling ning nembe tau krungu kisah kie.

    BalasHapus