Minggu, 29 Mei 2016

Penyesuaian Diri dan Pertumbuhan



PENYESUAIAN DIRI
Penyesuaian diri (adjustment atau personal adjusment) adalah suatu proses dimana individu berusaha untuk dapat berhasil mengatasi kebutuhan-kebutuhan dalam dirinya, ketegangan-ketegangan, konflik-konflik, dan frustrasi yang dialaminya yang menyangkut mental dan tingkah laku, sehingga terwujud tingkat keselarasan atau harmoni antara tuntutan dari dalam diri dengan apa yang diharapkan oleh lingkungan dimana ia tinggal (Schneiders dalam Desmita, 2009:192)
  1. Konsep Penyesuaian Diri
Penyesuaian dapat diartikan atau dideskripsikan sebagai adaptasi dapat mempertahankan eksistensinya atau bisa survive dan memperoleh kesejahteraan jasmaniah dan rohaniah, dan dapat mengadakan relasi yang memuaskan dengan tuntutan sosial. Penyesuaian dapat juga diartikan sebagai konformitas, yang berarti menyesuaikan sesuatu dengan standar atau prinsip. Penyesuaian sebagai penguasaan, yaitu memiliki kemampuan untuk membuat rencana dan mengorganisasi respons-respons sedemikian rupa, sehingga bisa mengatasi segala macam konflik, kesulitan, dan frustrasi-frustrasi secara efisien.
Individu memiliki kemampuan menghadapi realitas hidup dengan cara yang memenuhi syarat. Penyesuaian sebagai penguasaan dan kematangan emosional. Kematangan emosional maksudnya ialah secara positif memiliki responss emosional yang tepat pada setiap situasi. Disimpulkan bahwa penyesuaian adalah usaha manusia untuk mencapai keharmonisan pada diri sendiri dan pada lingkungannya.

PERTUMBUHAN PERSONAL
Manusia mempunyai kapasitas jasmianiah dan rohaniah sebagai suatu kondisi yang menuju ke arah kesempurnaan. Menurut Crow dan Crow, kematanganatau pertumbuhan sejak pembuahan dan seterusnya merupakan gejala alamiah. Pertumbuhan merupakan suaut hasil dari faktor-faktor luar dari individu yang matang atau tumbuh yang biasa ditunjukkan sebagai suatu perkembangan. Jadi  pertumbuhan ialah sebagai akibat dari adanya pengaruh lingkungan.
Kepribadian yang ada pada setiap individu tidak didapatkan dengan mudah, akan tetapi melalui pertumbuhan yang sedikit demi sedikit di dapat melalui proses yang panjang dan dipengaruhi oleh banyak faktor utama yaang mempengaruhi pembentukan kepribadian. Dalam hal ini keluarga adalah faktor yang pasti akan mempengaruhi pertumbuhan kepribadiannya, karena dalam setiap keluarga pasti menerapkan aturan dalam keluarga. Proses ini juga berpengaruh pada lingkungan masyarakat dalam mematuhi norma atau aturan yang berlaku dalam masyarakat tersebut (spirit, 2011). Terjadinya perubahan pada seseorang atau individu secara tahap demi tahap karena  pengaruh baik pengalaman atau empire luar melalui panca indera yang menimbulkan pengalaman dalam mengenaikeadaan batin sendiri yang menimbulkan refleksion.
1.      Penekanan Pertumbuhan, Penyesuaian Diri dan Pertumbuhan
Pertumbuhan adalah perubahan secara fisiologis sebagai hasil dari proses pematangan fungsi-fungsi fisik yang berlangsung secara normal. Pertumbuhan dapat juga diartikan sebagai proses transmisi dari konstitusi fisik (keadaan tubuh atau kondisi jasmaniah) yang herediter dalam bentuk proses aktif secara berkesinambungan. Jadi, pertumbuhan berkaitan dengan perubahan kuantitatif yang menyangkut peningkatan ukuran dan struktur biologis.
Secara umum konsep perkembangan dikemukakan oleh Werner (1957) bahwa perkembangan berjalan dengan prinsip orthogenetis, perkembangan berlangsung dari keadaan global dan kurang dari berdiferensiasi sampai keadaan dimana diferensiasi, artikulasi dan integrasi meningkat secara bertahap. Proses diferensiasi diartikan sebagai prinsip totalitas pada diri anak. Dari penghayatan totalitas itu lambat laun bagian-bagiannya akan menjadi semakin nyata dan bertambah jelas dalam kerangka keseluruhan.
2.      Variasi dalam Pertumbuhan
Pertumbuhan yang di alami dan terjadi pada diri individu bervariasi, pasti tidaklah sama antara individu yang satu dengan yang lain. Dan tidak selamanya individu berhasil dalam melakukan penyesuaian diri, karena terkadang ada rintangan-rintangan tertentu yang menyebabkan tidak berhasil melakukan penyesuaian diri. Rintangan-rintangan itu mungkin terdapat dalam dirinya atau mungkin diluar dirinya. Hal ini yang menyebabkan mengapa adanya variasi dalam pertumbuhan. Variasi Pertumbuhan mencakup kematangan emosional, kematangan intelektual, kematangan sosial dan tanggung jawab dalam hubungan intrapersonal.
3.      Kondisi-kondisi untuk Tumbuh
Faktor lainnya yang memengaruhi proses penyesuaian diri individu yaitu kondisi untuk tumbuh dimana dapat dilihat dari jawaban atas pertanyaan “dimana dan seperti apa kondisi individu untuk tumbuh?”
Lingkungan yang berbeda akan menimbulkan kondisi individu untuk bertumbuh yang berbeda, sehingga menyebabkan penyesuaian diri untuk kondisi lingkungan untuk tumbuh itu juga akan berbeda. Misalkan lingkungan dengan kondisi yang serba berkecukupan, kasih sayang yang diberikan orang tua berlimpah, pola asuh yang demokratis yang diterapkan oleh orang tua juga akan menciptakan penyesuaian diri dengan kondisi bertumbuh yang berbeda dengan kondisi lingkungan dimana kebutuhan ekonomi terkecukupi dengan baik, tetapi kasih sayang yang diberikan dari orangtua ke individu tersebut kurang serta adanya perasaan bahwa dia diabaikan oleh orangtua nya. Walaupun dari tingkat yang sama dilihat dari ekonomi yang setingkat, akan tetapi banyak faktor lain yang membuat penyesuaian diri pada individu menjadi lebih kompleks. Apalagi jika dibandingkan dengan tingkat ekonomi yang jauh lebih rendah, maka penyesuaian diri sesuai dengan kondisi lingkungan tumbuh yang lain pun akan berbeda untuk mengatasi berbagai persoalan hidup yang pelik ini.
Ada beberapa kondisi yang memberi pengaruh besar bagi pertumbuhan diri, yaitu: perubahan fisik dan lingkungan, peristiwa hidup yang signifikan, perubahan dalam diri individu, serta kehidupan pribadi.
4.      Fenomenologi Pertumbuhan
Fenomenologi memandang manusia hidup dalam “dunia kehidupan” yang  dipersepsi dan diinterpretasi secara subyektif. Setiap orang mengalami dunia dengan caranya sendiri. “Alam pengalaman setiap orang berbeda dari alam pengalaman orang lain.” (Brouwer, 1983). Fenomenologi banyak mempengaruhi tulisan – tulisan Carl Rogers. Carl Roger (1961) menyebutkan 3 aspek yang memfasilitasi pertumbuhan personal dalam suatu hubungan :

1. Keikhlasan kemampuan untuk menyadari perasaan sendiri, atau menyadari kenyataan.
2. Menghormati keterpisahan dari orang lain tanpa kecuali.
3. Keinginan yang terus menerus untuk memahami atau berempati terhadap orang lain.

STRESS
1.      Pengertian stress

Stress adalah bentuk ketegangan dari fisik, psikis, emosi maupun mental. Bentuk ketegangan ini mempengaruhi kinerja keseharian seseorang. Bahkan stress dapat membuat produktivitas menurun, rasa sakit dan gangguan-gangguan mental. Pada dasarnya, stress adalah sebuah bentuk ketegangan, baik fisik maupun mental. Sumber stress disebut dengan stressor dan ketegangan yang di akibatkan karena stress, disebut strain.
Hans Selye (dalam Sehnert, 1981) yang mendefinisikan stres sebagai respon yang tidak spesifik dari tubuh pada tiap tuntutan yang dikenakan padanya. Stress adalah suatu keadaan yang bersifat internal, yang bisa disebabkan oleh tuntutan fisik (badan), atau lingkungan, dan situasi sosial, yang berpotensi merusak dan tidak terkontrol.
Menurut Morgan dan King : “…as an internal state which can be caused by physical demands on the body (disease conditions, exercise, extremes of temperature, and the like) or by environmental and social situations which are evaluated as potentially harmful, uncontrollable, or exceeding our resources for coping” (Morgan & King, 1986: 321).
Menurut Lazarus (1976) stres adalah suatu keadaan psikologis individu yang disebabkan karena individu dihadapkan pada situasi internal dan eksternal.
.
  1. Efek-efek dari Stress
Stress dapat menimbulkan dampak-dampak negative, seperti menganggu proses berpikir, mengurangi konsentrasi, dan menganggu proses pembuatan keputusan (Kaplan, 1996). Stress juga dapat mengakibatkan efek-efek subyektif (seperti kelelahan, harga diri meurun), efek tingkah laku (misalnya hilang nafsu makan dan tidak tenang), efek fisiologis (tekanan darah meningkat, kesulitan bernafas) dan efek kognitif (seperti kesulitan berkonsentrasi) (Cardwell, 1996).
3.      Penyebab stress
Menurut Anatan & Ellitan (2009) adapun faktor-faktor penyebab stres meliputi :
  1. Stresor dari luar organisasi (extra organizational stresor ) yang meliputi perubahan sosial dan teknologi yang mengakibatkan perubahan life styleindividu, perubahan ekonomi dan finansial yang mempengaruhi pola kerja individu, mencari the second job.
  2. Stresor dari dalam organisasi (organizational stresor) yang meliputi kondisi kebijakan, strategi administrasi, struktur dan desain organisasi, proses organisasi dan kondisi lingkungan kerja.
  3. Stresor dari kelompok dalam organisasi (group stresor) yang muncul akibat kurangnya kesatuan dalam pelaksanaan tugas kerja terutama terjadi pada level bawah, kurangnya dukungan dari atasan dalam melaksanakan tugas yang dibebankan, munculnya konflik antar personal, interpersonal, dan antar personal.
  4. Stresor dari dalam diri individu (individu stresor) yang muncul akibatrole ambiguity dan konflik. Seperti beban kerja yang terlalu berat dan kurangnya pengawasan pihak perusahaan.

4.      Tipe-tipe Stress
Menurut Hans Selya membagi stress membagi stress dalam 3 tingkatan,yaitu :
  1. Eustress adalah respon stress ringan yang menimbulkan rasa bahagia, senang, menantang, dan menggairahkan. Dalam hal ini tekanan yang terjadi bersifat positif, misalnya lulus dari ujian, atau kondisi menghadapi suatu perkawinan.
  2. Distress merupakan respon stress yang buruk dan menyakitkan sehingga tak mampu lagi diatasi. Sebagai contoh: pertengkaran, kematian pasangan hidup, dan lain-lain.
  3. Optimal stress atau Neustress adalah stress yang berada antara eustress dan distres, merupakan respon stress yang menekan namun masih seimbang untuk menghadapi masalah dan memacu untuk lebih bergairah, berprestasi, meningkatkan produktivitas kerja dan berani bersaing.


5.      Contoh :
Hampir semua orang pernah mengalami stress, begitu juga dengan saya. Saya terkadang mengalami stress karena beberapa tekanan baik dari dalam ataupun dari luar. Sakit hati, merasa tidak nyaman dengan keadaan dan gelisah adalah sebagian contoh yang saya alami. Cara mengatasinya adalah dengan cara ngopi atau merokok, namun jika masih stress, ibadah adalah jalan terbaik.

Referensi:
Indrawati, Endang sri. dan Fauziah, Nailul. “Attachment dan Penyesuaian
Diri Dalam Perkawinan”. Jurnal Psikologi Undip. 11. (1), 42-43.
http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/24670/4/Chapter%20II.pdf
Schultz, Duane. (1991). Psikologi Pertumbuhan : Model-model Kepribadian Sehat.
Yogyakarta : PT Kanisius.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar