Minggu, 16 Oktober 2016

Teori Dan Analisis Kepemimpinan



Ilham Pratama Krishnaaji
15514184
Psikologi Manajemen

A. Teori Kekuasaan
Kekuasaan adalah kemampuan seseorang atau sekelompok manusia untuk mempengaruhi tingkah lakunya seseorang atau kelompok lain sedemikian rupa sehingga tingkah laku itu menjadi sesuai dengan keinginan dan tujuan dari orang yang mempunyai kekuasaan itu. Kekuasaan adalah kemampuan untuk melakukan atau mempengaruhi sesuatu atau apapun. Kekuasaan dalam konteks ini  berhubungan dengan agency, bahawa hal itu untuk kemampuan seseorang  melakukan perubahan/perbedaan di dunia. Kekuasaan adalah kemampuan  yang legal, kapasitas atau kewenangan untuk bertindak, khususnya pada  proses mendelegasikan kewenangan. Kekuasaan dalam pemahaman ini  merujuk pada kewenangan atau hak yang oleh sebahagian orang harus  mendapatkan pihak lain untuk melakukan segala yang mereka anggap  sebagai wewenang.

B. Teori Leadership (Kepemimpinan)
Pengertian kepemimpinan sebagai atribut atau kelengkapan suatu kedudukan, diantaranya dikemukakan oleh Janda (dalam Yukl, 1989), sebagai berikut.
“Leadership is a particular type of power relationship characterized by a group member’s perception that another group member has the right to prescribe behavior patterns for the former regarding his activity as a group member”.
(Kepemimpinan adalah jenis khusus hubungan kekuasaan yang ditentukan oleh anggapan para anggota kelompok bahwa seorang dari anggota kelompok itu memiliki kekuasaan untuk menentukan pola  perilaku terkait dengan aktivitasnya sebagai anggota kelompok, pen.).
1. Path Goal Theory„
Teori yang menjelaskan bagaimana pemimpin memotivasi bawahannya untuk mencapai tujuan yang di tetapkan oleh organisasi. Pemimpin akan berhasil apabila ia mampu menunjukkan kepada bawahannya bagaimana menjadi seorang pemimpin dengan gaya yang bersahabat dan merangkul.

2. Contingency Theory:
Teori ini menempatkan pemimpin pada pola kepemimpinan yang sesuai dengan situasi yang ada. Teori ini mengacu pada dua motivasi, yaitu task motivation dan relantionship motivation.
3. Situational Theory:
Teori ini disebut juga “manajemen yang berdasarkan situasi”. Apabila kondisinya baik, maka seseorang akan melakukan tindakan A, namun bila kondisinya tidak kondusif, ia akan melakukan tindakan B.
4. Participative Theory:
Gaya yang di terapkan pada tugas yang membingungkan. Pemimpin mengajak pengikut untuk memberikan partisipasi, ide dan opini tentang bagaimana menggunakan sarana untuk mencapai suatu tujuan.
5. Team Leadership Theory:
Suatu tim/kelompok yang memiliki kemauan dan kemampuan yang berbeda, bergantung satu sama lain, memiliki tujuan yang sama, dan saling mengkoordinasikan aktivitas mereka untuk meraih tujuan.


C. Teori Motivasi
Motivasi (Motivation), Kebutuhan (Need), Dorongan (Drive) : keadaan dalam pribadi seseorang yang mendorong  keinginan individu untuk melakukan kegiatan tertentu guna mencapai tujuan. Dorongan yang timbul pada atau di dalam diri seseorang untuk menggerakkan dan mengarahkan perilaku.
Teori Motivasi dibagi menjadi dua;
1. TEORI KEPUASAN  :
Memfokuskan perhatian pada faktor-faktor yang mendorong, mengarahkan, mempertahankan dan menghentikan perilaku. Memusatkan perhatian pada kebutuhan individu di dalam menjelaskan kepuasan kerja, perilaku kerja dan sistem imbalan.

A. Hiraki Kebutuhan Maslow ( dari Abraham Maslow)
Hipotesinya adalah didalam semua manusia adalah jenjang kebutuhan.
Kebutuhannya antara lain;  Fisiologis, Keamanan dan keselamatan, Rasa memiliki, Perhargaan, Aktualisasi diri,

B. Teori X Dan Teori Y
Douglas McGregor mengemukakan dua pandangan yang jelas berbeda mengenai manusia , secara dasar negatif : TEORI X dan  yang pada dasarnya positif : TEORI Y.
C. Teori Motivasi – Pemeliharaan Dari Herzberg
Faktor-faktor penyebab kepuasan kerja mempunyai pengaruh pendorong bagi prestasi dan semangat kerja, sedang factor penyebab ketidak puasan  kerja mempunyai pengaruh negatif.
D. Teori ERG – ADELFER ( dari Clayton Adelfer)
Sependapat dengan hiraki kebutuhan Maslow, namun hirarki kebutuhannya hanya terdiri dari tiga hal : Eksistensi (Existence), Keterhubungan/keterkaitan (Relatednes), Pertumbuhan (Growth)
E. Teori Prestasi dari McClelland
Memfokuskan pada tiga kebutuhan : Kebutuhan akan prestasi , Kebutuhan akan kekuasaan, Kebutuhan akan afiliasi



2. TEORI-TEORI PROSES :
Teori yang memberikan uraian dan analisis dari prose dimana perilaku mempunyai kekuatan, diarahkan, dipertahankan dan dihentikan.

A. Teori Penguatan \ Teori Pembentukan Perilaku B.F. Skinner
Pendekatan ini berdasarkan atas hukum pengaruh (law of effect) yang menyatakan bahwa perilaku yang diikuti dengan konsekuensi-konsekuensi pemuasan cendrung diulang sedangkan perilaku yang diikuti dengan konsekuensi hukuman cenderung tidak diulang. Individu dimasa mendatang akan belajar dari pengalaman diwaktu lalu proses pembentukan perilaku.
B. Teori Pengharapan / Expectancy Theory
Teori ini menyatakan bahwa perilaku kerja karyawan dapat dijelaskan dengan kenyataan : para karyawan menentukan terlebih dahulu apa perilaku mereka yang dapat dijalankan dan nilai yang diperkirakan sebagai hasil alternatif dari perilakunya
C. Teori Keadilan
Teori ini mengemukakan bahwa: Orang akan selalu cenderung membandingkan antara (1) masukan masukan yang mereka berikan pada pekerjaan dalam bentuk pendidikan, pengalaman, latihan dan usaha dengan (2) hasil hasil atau penghargaan yang mereka terima seperti juga mereka membandingkan balas jasa yang diterima karyawan lain dengan yang diterima dirinya untuk pekerjaan yang sama.
D. Teori Penentuan tujuan dari Edwin Locke
Menyatakan bahwa maksud-maksud untuk bekerja ke arah suatu tujuan merupakan sumber utama dari motivasi kerja. Artinya tujuan memberitahu seorang karyawan apa yang perlu dikerjakan dan berapa banyak upaya yang harus dilakukan.



Gaya Kepemimpinan Presiden Indonesia
1. Ir. Soekarno
Gaya kepemimpinan yang diterapkan oleh Ir. Soekarno berorientasi pada moral dan etika ideologi yang mendasari negara atau partai, sehingga sangat konsisten dan sangat fanatik, cocok diterapkan pada era tersebut. Sifat kepemimpinan yang juga menonjol dan Ir. Soekarno adalah percaya diri yang kuat, penuh daya tarik, penuh inisiatif dan inovatif serta kaya akan ide dan gagasan baru. Sehingga pada puncak kepemimpinannya, pernah menjadi panutan dan sumber inspirasi pergerakan kemerdekaan dari bangsa-bangsa Asia dan Afrika serta pergerakan melepas ketergantungan dari negara-negara Barat (Amerika dan Eropa).

Ir. Soekarno adalah pemimpin yang kharismatik, memiliki semangat pantang menyerah dan rela berkorban demi persatuan dan kesatuan serta kemerdekaan bangsanya. Namun berdasarkan perjalanan sejarah kepemimpinannya, ciri kepemimpinan yang demikian ternyata mengarah pada figur sentral dan kultus individu. Menjelang akhir kepemimpinannya terjadi tindakan politik yang sangat bertentangan dengan UUD 1945, yaitu mengangkat Ketua MPR (S) juga.

2. Soeharto

Gaya Kepemimpinan Presiden Soeharto merupakan gabungan dari gaya kepemimpinan Proaktif-Ekstraktif dengan Adaptif-Antisipatif, yaitu gaya kepemimpinan yang mampu menangkap peluang dan melihat tantangan sebagai sesuatu yang berdampak positif serta mempunyal visi yang jauh ke depan dan sadar akan perlunya langkah-langkah penyesuaian.

Tahun-tahun pemerintahan Suharto diwarnai dengan praktik otoritarian di mana tentara memiliki peran dominan di dalamnya. Kebijakan dwifungsi ABRI memberikan kesempatan kepada militer untuk berperan dalam bidang politik di samping perannya sebagai alat pertahanan negara. Demokrasi telah ditindas selama hampir lebih dari 30 tahun dengan mengatasnamakan kepentingan keamanan dalam negeri dengan cara pembatasan jumlah partai politik, penerapan sensor dan penahanan lawan-lawan politik. Sejumlah besar kursi pada dua lembaga perwakilan rakyat di Indonesia diberikan kepada militer, dan semua tentara serta pegawai negeri hanya dapat memberikan suara kepada satu partai penguasa Golkar Bila melihat dari penjelasan singkat di atas maka jelas sekali terlihat bahwa mantan Presiden Soeharto memiliki gaya kepemimpinan yang otoriter, dominan, dan sentralistis

3. Susilo Bambang Yudhoyono

Beliau ini presiden pertama yang dipilih oleh rakyat. Orangnya mampu dan bisa menjadi presiden. Juga cukup bersih, kemajuan ekonomi dan stabilitas negara terlihat membaik. Sayang tidak mendapat dukungan yang kuat di Parlemen. Membuat beliau tidak leluasa mengambil keputusan karena harus mempertimbangkan dukungannya di parlemen.

SBY sebagai pemimpin yang mampu mengambil keputusan kapanpun, di manapun, dan dalam kondisi apapun. Sangat jauh dari anggapan sementara kalangan yang menyebut SBY sebagai figur peragu, lambat, dan tidak "decisive" (tegas). Sosok yang demokratis, menghargai perbedaan pendapat, tetapi selalu defensif terhadap kritik. Hanya sayang, konsistensi Yudhoyono dinilai buruk. Ia dipandang sering berubah-ubah dan membingungkan publik.

4. Jokowi

Presiden yang terkenal dengan mblusukan ini menjadi Presiden Republik Indonesia pada tahun 2014 setelah mengalahkan Prabowo dalam pemilu pilpres 2014. Awalnya disebut sebagai pengikut Megawati, namun akhirnya menyatakan bahwa dia sendiri untuk memerintahkan.
Indonesia.

Gaya kepemimpinan yang menganut sistem mendekati rakyat atau merangkul rakyat membuat Jokowi lebih dekat dengan rakyat. Sikap rendah hati, berwibawa dan tegas mampu membakar para pembenci pada awal pemerintahannya.









Referensi:
http://digilib.uinsby.ac.id/2360/5/Bab%202.pdf (Sabtu, 15-06-2016, jam 18.30)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar