KONSEP
SEHAT
DEFINISI SEHAT
Sehat
merupakan sebuah keadaan yang tidak hanya terbebas daripenyakit akan tetapi
juga meliputi seluruh aspek kehidupan manusia yang meliputi aspek fisik, emosi,
sosial dan spiritual. Menurut WHO (1947) Definisi Sehat Dalam Keperawatan Sehat
: Perwujudan individu yang diperoleh melalui kepuasan dalam berhubungan dengan
orang lain (Aktualisasi). Perilaku yang sesuai dengan tujuan, perawatan
diri yang kompeten sedangkan penyesesuaian diperlukan untuk mempertahankan
stabilitas dan integritas struktural. (Pender (1982))Sehat : Fungsi efektif
dari sumber-sumber perawatan diri (self care Resouces)yang menjamin tindakan
untuk perawatan diri ( self care Aktions) secara adekual.Self care Resoureces :
mencangkup pengetahuan, keterampilan dan sikap. Self care Aktions : Perilaku
yang sesuai dengan tujuan diperlukan untuk memperoleh, mempertahan kan dan
menigkatkan fungsi psicososial da piritual.(Paune (1983) Kesehatan menyatakan
bahwa: Kesehatan adalah keadaan sejahtera dari badan, jiwa dan sosial yang
memungkinkan hidup produktif secara sosialdan ekonomi (UU No.23,1992)
CIRI-CIRI
SEHAT
Kesehatan
fisik terwujud apabila sesorang tidak merasa dan mengeluh sakit atau tidak
adanya keluhan dan memang secara objektif tidak tampak sakit. Semua organ
tubuh berfungsi normal atau tidak mengalami gangguan.Kesehatan mental (jiwa)
mencakup 3 komponen, yakni pikiran,emosional, dan spiritual.
1.Pikiran
sehat tercermin dari cara berpikir atau jalan pikiran.
2.Emosional
sehat tercermin dari kemampuan seseorang untuk mengekspresikan emosinya,
misalnya takut, gembira, kuatir, sedih dan sebagainya.
3.Spiritual
sehat tercermin dari cara seseorang dalam mengekspresikan rasasyukur, pujian,
kepercayaan dan sebagainya terhadap sesuatu di luar alam fanaini, yakni Tuhan
Yang Maha Kuasa. Misalnya sehat spiritual dapat dilihat dari praktik keagamaan
seseorang.
4.Kesehatan
sosial terwujud apabila seseorang mampu berhubungan dengan orang lain atau
kelompok lain secara baik, tanpa membedakan ras, suku,agama atau kepercayan,
status sosial, ekonomi, politik, dan sebagainya, serta saling toleran dan
menghargai.
5.Kesehatan
dari aspek ekonomi terlihat bila seseorang (dewasa) produktif,dalam arti
mempunyai kegiatan yang menghasilkan sesuatu yang dapat menyokong terhadap
hidupnya sendiri atau keluarganya secara finansial. Bagimereka yang belum
dewasa (siswa atau mahasiswa) dan usia lanjut (pensiunan), dengan
sendirinya batasan ini tidak berlaku. Oleh sebab itu, bagikelompok tersebut,
yang berlaku adalah produktif secara sosial, yakni mempunyai kegiatan yang
berguna bagi kehidupan mereka nanti, misalnya berprestasi bagi siswa atau
mahasiswa, dan kegiatan sosial, keagamaan, atau pelayanan kemasyarakatan
lainnya bagi usia lanjut. Aspek-aspek pendukung kesehatan.
SEJARAH
PERKEMBANGAN KESEHATAN MENTAL
Seperti
kesehatan fisik, kesehatan mental merupakan aspek yang sangat penting bagi
setiap fase kehidupan manusia.Kesehatan mental terkadang mengalami siklus baik
dan buruk. Setiap orang, dalam hidupnya mengalami kedua sisi tersebut.Kadang
mentalnya sehat, terkadang sebaliknya. Pada saat mengalami masalah kesehatan
mental, seseorang membutuhkanpertolongan orang lain untuk mengatasi masalah
yang dihadapinya. Kesalahan mental dapat memberikan dampak terhadapkehidupan
sehari-hari atau masa depan seseorang, termasuk anak-anak dan remaja. Merawat
dan melindungi keshatanmental anak-anak merupakan aspek yang sangat penting,
yang dapat membantu perkembangan anak yang lebih baik di masadepan.Seperti
disiplin ilmu-ilmu yang telah ada,”Kesehatan Mental” berawal dari fenomena atau
realita yang terjadi pada dirimanusia sejak zaman pra
Ilmiah. Menurut Marx Webeer, manusia memasuki zaman atau era sejarah
ketika mentalitas dariindividu-individu itu sendiri telah tertata dengan rapi
dan didukung dari segala aspek lingkungan yang memungkinkan. Olehkarena itu,
manusia dapat menghasilkan kebudayaan untuk pertama kalinya sebagai penanda
adanya era baru (sejarah). Halitu berarti tanpa kesehatan mental yang tertata
dengan rapi, maka tidak akan ada kebudayaan yang lahir. Tanpa
kebudayaantersebut, maka manusia pun tidak akan pernah memasuki era ini. Kesehatan
mental adalah kunci dari mobilitas personal dansosial
manusia. Klasifikasi, sebaran, dan banyaknya versi tentang sejarah
perkembangan kesehatan mental membuat makalah inidibatasi atas garis besar
haluan sejarahnya saja, yaitu dari era pra ilmiah, kemunculan naturalisme (era
Yunani dan Romawikuno), era Ilmiah (modern) dan tidak lupa tentang perkembangan
serta peranan dari peradaban Islam sendiri tentangKesehatan Mental, yang
kesemuanya terangkum pada bagan klasifikasi sejarah yang ada.
PERKEMBANGAN
KESEHATAN MENTAL PRA ILMIAH
1.Masa Animisme
Sejak
zaman dulu, sikap terhadap gangguan kepribadian atau mental telah muncul dalam
konsep primitif animisme. Ada kepercayaan bahwa dunia
ini diawasi atau dikuasai oleh roh-roh atau dewa-dewa. Orang primitive
percaya bahwa angin bertiup, ombak mengalun, batu berguling, dan pohon
tumbuh karena pengaruh roh yang tinggal dalam benda-benda tersebut. Orang
Yunani percaya bahwa gangguan mental terjadi karena dewa marah dan membawa
pergi jiwanya. Untuk menghindari kemarahannya, maka mereka mengadakan
perjamuan pesta (sesaji) dengan mantra dari korban yang mereka
persembahkan.Praktik-praktik semacam tersebut berlangsung mulai dari abad 7-5
SM. Setelah kemunculan naturalisme, maka praktik semacam itupun kian
berkurang, walaupun kepercayaan tentang penyakit mental tersebut berasal dari
roh-roh jahat tetap bertahan sampai abad pertengahan.
2.Kemunculan Naturalisme
Perubahan
sikap terhadap tradisi animisme terjadi pada zaman Hipocrates (460-467). Dia
dan pengikutnyamengembangkan pandangan revolusioner dalam pengobatan, yaitu
dengan menggunakan pendekatan ”Naturalisme”. Aliranini berpendapat bahwa
gangguan mentalatau fisik merupakan akibat dari alam. Hipocrates menolak
pengaruh roh, dewa,setan atau hantu sebagai penyebab sakit. Dia menyatakan:
”Jika Anda memotong batok kepala, maka Anda akan menemukanotak yang basah, dan
memicu bau yang amis, tetapi Anda tidak akan melihat roh, dewa atau hantu yang
melukai badan Anda.”Ide naturalistik ini kemudian dikembangkan oleh Galen,
seorang tabib dalam lapangan pekerjaan pemeriksaan ataupembedahan hewan.Dalam
perkembangan selanjutnya, pendekatan naturalistik ini tidak dipergunakan lagi
di kalangan orang-orang Kristen.Seorang dokter Perancis, Philipe Pinel (1745-1826) menggunakan filasafat politik
dan sosial yang baru untuk memecahkanproblem penyakit mental. Dia telah
terpilih menjadi kepala Rumah Sakit Bicetre di Paris. Di rumah sakit ini, para
pasiennya(yang maniak) dirantai, diikat di tembok dan di tempat tidur. Para
pasien yang telah dirantai selama 20 tahun atau lebihkarena dipandang sangat
berbahaya dibawa jalan-jalan di sekitar rumah sakit. Akhirnya, di antara mereka
banyak
yang berhasil. Mereka tidak lagi menunjukkan kecenderungan untuk melukai atau merusak dirinya sendiri
PERKEMBANGAN
KESEHATAN MENTAL ERA MODERN
Perubahan
yang sangat berarti dalam sikap dan pengobatan gangguan mental, yaitu dari
animisme (irrasional) dan tradisional ke sikap dan cara yang
rasional (ilmiah), terjadi pada saat berkembangnya psikologi abnormal dan
psikiatri di Amerika
Serikat, yaitu pada tahun 1783. Ketika itu, Benyamin Rush (1745-1813) menjadi anggota staff medis di rumah sakit
Pensylvania. Di rumah sakit ini, ada 24 pasien yang dianggap
sebagai lunatics
(orang-orang
gila atau sakit ingatan). Pada waktu itu, sedikit sekali pengetahuan tentang
penyakit kegilaan tersebut, dan kurang mengetahui caramenyembuhkannya. Sebagai
akibatnya, pasien-pasien tersebut didukung dalam sel yang kurang sekali alat
ventilasinya, danmereka sekali-sekali diguyur dengan air.Rush melakukan usaha
yang sangat berguna untuk memahami orang-orang yang menderita gangguan mental
tersebut.Cara yang ditempuhnya adalah dengan melalui penulisan artikel-artikel
dalam koran, ceramah, dan pertemuan-pertemuanlainnya. Akhirnya, setelah usaha
itu dilakukan (selama 13tahun), yaitu pada tahun 1796, di rumah mental, ruangan
inidibedakan untuk pasien wanita dan pria.Secara berkesenimbungan, Rush
mengadakan pengobatan kepada para pasiendengan memberikan dorongan (motivasi)
untuk mau bekerja, rekreasi, dan mencari kesenangan.Perkembangan psikologi
abnormal dan pskiatri ini memberikan pengaruh kepada lahirnya ”mentalhygiene”
yang berkembang menjadi suatu ”Body of Knowledge”
beserta gerakan-gerakan yang terorganisir.Perkembangan
kesehatan mental dipengaruhi oleh gagasan, pemikiran dan inspirasi para ahli,
terutama dari dua tokohperintis, yaitu Dorothea Lynde Dixdan Clifford
Whittingham Beers. Kedua orang ini banyak mendedikasikan hidupnya
dalam bidang pencegahan gangguan mental dan pertolongan bagi
orang-orang miskin dan lemah. Dorthea Lynde Dix lahir padatahun
1802 dan meninggal dunia tanggal 17 Juli 1887. Dia adalah seorang guru sekolah
di Massachussets, yang menaruhperhatian terhadap orang-orang yang mengalami
gangguan mental. Sebagian perintis (pioneer), selama 40 tahun,
dia berjuang untuk memberikan pengorbanan terhadap orang-orang gila secara lebih manusiawi.Usahanya,
mula-mula diarahkan pada para pasien mental di rumah sakit. Kemudian diperluas
kepada para penderitagangguan mental yang dikurung di rumah-rumah penjara.
Pekerjaan Dix ini merupakan faktor penting dalam membangun kesadaran
masyarakat umum untuk memperhatikan kebutuhan para penderita gangguan mental.
Berkat usahanya yang tak kenal lelah, di Amerika Serikat didirikan 32
rumah sakit jiwa. Dia layak mendapat pujian sebagai salah seorang wanita besar
diabad ke-19.Pada tahun 1909, gerakan kesehatan mental secara formal mulai
muncul. Selama dekade 1900-1909,
beberapaorganisasi kesehatan mental telah didirikan,
seperti American Social Hygiene Associatin (ASHA),
dan American Federation for Sex Hygiene. Perkembangan
gerakan-gerakan di bidang kesehatanmental ini tidak lepas dari jasa
Clifford Whittingham Beers (1876-1943). Bahkan, karena jasa-jasanya itulah, dia
dinobatkan sebagai ”The Founder Of The Mental Hygiene Movement” .
Diaterkenal karena pengalamannya yang luas dalam bidang pencegahan dan
pengobatan gangguan mental dengan cara yangsangat manusiawi.Dedikasi Beers yang
begitu kuat dalam kesehatan mental dipengaruhi oleh pengalamannya sebagai
pasien di beberaparumah sakit jiwa yang berbeda. Selama di rumah sakit, dia
mendapatkan pelayanan atau pengobatan yang keras dan kasar(kurang manusiawi). Kondisi
seperti ini terjadi karena pada masa itu belum ada perhatian terhadap masalah
gangguanmental, apalagi pengobatannya.Setelah dua tahun mendapatkan perawatan
di rumah sakit, dia mulai memperbaiki dirinya. Selama tahun terakhirnyasebagai
pasien, dia mulai mengembangkan gagasan untuk membuat gerakan untuk melindungi
orang-orang yang mengalamigangguan mental atau orang gila (insane). Setelah dia
kembali dalam kehidupan yang normal (sembuh dari penyakitnya),pada tahun 1908,
dia menindaklanjuti gagasannya dengan mempublikasikan tulisan autobiografinya
yang berjudul A Mind That Found It Self . Kehadiran buku
ini disambut baik oleh Willian James, sebagai seorang pakar psikologi. Dalam
buku ini, diamemberikan koreksi terhadap program pelayanan, perlakuan
atau ”treatment” yang diberikan kepada para pasien di rumah
sakit yang dipandangnya kurang manusiawi. Di samping itu, dia merupakan
reformator terhadap lembaga yang memberikan perawatan gangguan mental.
Beers
meyakini bahwa penyakit atau gangguan mental dapat dicegah atau disembuhkan.
Dia merancang suatu
program yang bersifat nasional, yang tujuannya adalah:
1.Mereformasi
program perawatan dan pengobatan terhadap pengidap penyakit jiwa;
2.Melakukan
penyebaran informasi kepada masyarakat agar mereka memiliki
pemahaman dan sikap yang positif terhadap para pasien yang mengidap
gangguan atau penyakit jiwa;
3.Mendorong dilakukannya berbagai penelitian
tentang kasus-kasus dan obat gangguan mental; dan
4.Mengembangkan
praktik-praktik untuk mencegah gangguan mental.
Program
Beers ini ternyata mendapat respon positif dari kalangan masyarakat, terutama
kalangan para ahli seperti William
James dan seorang psikiatris ternama, Adolf Mayer.
Begitu tertariknya terhadap gagasan Beers, Adolf Mayermenyarankan
untuk menamai gerakan itu dengan nama ”Mental Hygiene”.
Dengan demikian, yangmempopulerkan istilah”Mental Hygiene” adalah Mayer.
Belum
lama setelah buku itu diterbitkan pada tahun 1908, sebuah organisasi pertama
didirikan,
bernama”Connectievt Society For Mental Hygiene”.Satu
tahu kemudian, didirikanlah”National Commite Society For Mental Hygiene” ,
dan Beers diangkat menjadi sekretarisnya. Organisasi ini bertujuan:
1.Melindungi kesehatan mental masyarakat;
2.Menyusun
standard perawatan para pengidap gangguan mental;
3.Meningkatkan studi
tentang gangguan mental dalam segala bentuknya dan berbagi aspek
yang terkait dengannya;
4.Menyebarkan
pengetahuan tentang kasus gangguan mental, pencegahan dan penobatannya; dan
5.Mengkoordinasikan lembaga-lembaga perawatan yang ada.
Terkait
dengan perkembangan gerakan kesehatan mental ini, Deutsch mengemukakan bahwa
pada masanya dan pasca Perang Dunia I, gerakan kesehatan mental ini
mengkonsentarsikan programnya untuk membantu mereka yang mengalami masalah
serius. Setelah perang usai, gerakan kesehatan mental semakin berkembang dan
cakupan garapannya meliputi berbagai bidang kegiatan, seperti pendidikan,
kesehatan masyarakat, pengobatan umum, industri, kriminologi, dan
kerjasosial.Secara hukum, gerakan kesehatan mental ini mendapatkan pengukuhannya
pada tanggal 3 Juli 1946, yaitu ketikapresiden Amerika Serikat
menandatangani ”The National Mental Helath Act.
Beberapa
tujuan yang terkandung dalam dokumen tersebut meliputi:
1.Meningkatkan kesehatan mental seluruh warga
masyarakat Amerika Serikat, melalui penelitian, inevestigasi,eksperimen
penanganan kasus-kasus, diagnosis dan pengobatan;
2.Membantu lembaga-lembaga pemerintah
dan swasta yang melakukan kegiatan penelitian dan
meningkatkankoordinasi antara para peneliti dalam melakukan kegiatan penelitian
dan meningkatkan kegiatan danmengaplikasikan hasil-hasil penelitiannya;
3.Memberikan
latihan terhadap para personel tentang kesehatan mental; dan
4.Mengembangkan dan membantu negara dalam menerapkan
berbagai metode pencegahan, diagnosis, dan obat terhadap para
pengidap gangguan mental. Pada tahun 1950, organisasi kesehatan mental terus
bertambah, yaitu dengan berdirinya ”National Association
For Mental Health” yang bekerjasama dengan tiga organisasi swadaya masyarakat lainnya, yaitu ”National
Committee For Mental Hygiene”, ”National Mental
Health Foundation”,dan ”Psychiatric Foundation” .Gerakan
kesehatan mental ini terus berkembang sehingga pada tahun 1075 di Amerika
Serikat terdapat lebih dari seribu tempat perkumpulan kesehatan mental. Di
belahan dunia lainnya, gerakan ini dikembangkan melalui ”The World
Federation For Mental Health” dan “The World Health
Organization”.
Klasifikasi Sejarah Masa Perkembangan Bimbingan Konseling dalam
Perspektif Barat
PENDEKATAN
KESEHATAN MENTAL
Orientasi
Klasik
Orientasi
klasik yang umumnya digunakan dalam kedokteran termasuk psikiatri mengartikan
sehat sebagai kondisi tanpa keluhan, baik fisik maupun mental. Orang yang sehat
adalah orang yang tidak mempunyai keluhan tentang keadaan fisik dan mentalnya.
Sehat fisik artinya tidak ada keluhan fisik. Sedang sehat mental artinya tidak
ada keluhan mental. Dalam ranah psikologi, pengertian sehat seperti ini banyak
menimbulkan masalah ketika kita berurusan dengan orang-orang yang mengalami
gangguan jiwa yang gejalanya adalah kehilangan kontak dengan realitas.
Orang-orang seperti itu tidak merasa ada keluhan dengan dirinya meski hilang
kesadaran dan tak mampu mengurus dirinya secara layak. Pengertian sehat mental
dari orientasi klasik kurang memadai untuk digunakan dalam konteks psikologi.
Mengatasi kekurangan itu dikembangkan pengertian baru dari kata ‘sehat’. Sehat
atau tidaknya seseorang secara mental belakangan ini lebih ditentukan oleh
kemampuan penyesuaian diri terhadap lingkungan. Orang yang memiliki kemampuan
menyesuaikan diri dengan lingkungannya dapat digolongkan sehat mental.
Sebaliknya orang yang tidak dapat menyesuaikan diri digolongkan sebagai tidak
sehat mental.
Orientasi
Penyesuaian Diri
Dengan
menggunakan orientasi penyesuaian diri, pengertian sehat mental tidak dapat
dilepaskan dari konteks lingkungan tempat individu hidup. Oleh karena kaitannya
dengan standar norma lingkungan terutama norma sosial dan budaya, kita tidak
dapat menentukan sehat atau tidaknya mental seseorang dari kondisi kejiwaannya
semata. Ukuran sehat mental didasarkan juga pada hubungan antara individu
dengan lingkungannya. Seseorang yang dalam masyarakat tertentu digolongkan
tidak sehat atau sakit mental bisa jadi dianggap sangat sehat mental dalam
masyarakat lain. Artinya batasan sehat atau sakit mental bukan sesuatu yang
absolut. Berkaitan dengan relativitas batasan sehat mental, ada gejala lain
yang juga perlu dipertimbangkan. Kita sering melihat seseorang yang menampilkan
perilaku yang diterima oleh lingkungan pada satu waktu dan menampilkan perilaku
yang bertentangan dengan norma lingkungan di waktu lain. Misalnya ia melakukan
agresi yang berakibat kerugian fisik pada orang lain pada saat suasana hatinya
tidak enak tetapi sangat dermawan pada saat suasana hatinya sedang enak. Dapat
dikatakan bahwa orang itu sehat mental pada waktu tertentu dan tidak sehat
mental pada waktu lain. Lalu secara keseluruhan bagaimana kita menilainya?
Sehatkah mentalnya? Atau sakit? Orang itu tidak dapat dinilai sebagai sehat
mental dan tidak sehat mental sekaligus.
Dengan
contoh di atas dapat kita pahami bahwa tidak ada garis yang tegas dan universal
yang membedakan orang sehat mental dari orang sakit mental. Oleh karenanya kita
tidak dapat begitu saja memberikan cap ‘sehat mental’ atau ‘tidak sehat mental’
pada seseorang. Sehat atau sakit mental bukan dua hal yang secara tegas
terpisah. Sehat atau tidak sehat mental berada dalam satu garis dengan derajat
yang berbeda. Artinya kita hanya dapat menentukan derajat sehat atau tidaknya
seseorang. Dengan kata lain kita hanya bicara soal ‘kesehatan mental’ jika kita
berangkat dari pandangan bahwa pada umumnya manusia adalah makhluk sehat
mental, atau ‘ketidak-sehatan mental’ jika kita memandang pada umumnya manusia
adalah makhluk tidak sehat mental. Berdasarkan orientasi penyesuaian diri,
kesehatan mental perlu dipahami sebagai kondisi kepribadian seseorang secara
keseluruhan. Penentuan derajat kesehatan mental seseorang bukan hanya
berdasarkan jiwanya tetapi juga berkaitan dengan proses pertumbuhan dan
perkembangan seseorang dalam lingkungannya.
Orientasi
Pengembangan diri
Seseorang
dikatakan mencapai taraf kesehatan jiwa, bila ia mendapat kesempatan
untuk mengembangkan potensialitasnya menuju kedewasaan, ia bisa dihargai oleh
orang lain dan dirinya sendiri. Dalam psiko-terapi (Perawatan Jiwa) ternyata
yang menjadi pengendali utama dalam setiap tindakan dan perbuatan seseorang
bukanlah akal pikiran semata-mata, akan tetapi yang lebih penting dan
kadang-kadang sangat menentukan adalah perasaan. Telah terbukti bahwa tidak selamanya
perasaan tunduk kepada pikiran, bahkan sering terjadi sebaliknya, pikiran
tunduk kepada perasaan. Dapat dikatakan bahwa keharmonisan antara pikiran dan
perasaanlah yang membuat tindakan seseorang tampak matang dan wajar.
Sehingga
dapat dikatakan bahwa tujuan Hygiene mental atau kesehatan mental adalah
mencegah timbulnya gangguan mental dan gangguan emosi, mengurangi atau
menyembuhkan penyakit jiwa serta memajukan jiwa. Menjaga hubungan sosial akan
dapat mewujudkan tercapainya tujuan masyarakat membawa kepada tercapainya
tujuan-tujuan perseorangan sekaligus. Kita tidak dapat menganggap bahwa
kesehatan mental hanya
sekedar
usaha untuk mencapai kebahagiaan masyarakat, karena kebahagiaan masyarakat itu
tidak akan menimbulkan kebahagiaan dan kemampuan individu secara otomatis,
kecuali jika kita masukkan dalam pertimbangan kita, kurang bahagia dan kurang
menyentuh aspek individu, dengan sendirinya akan mengurangi kebahagiaan dan
kemampuan sosial.
TEORI
KEPRIBADIAN SEHAT
1. Aliran Psikoanalisa
Menurut teori psikoanalitik Sigmund Freud,
kepribadian terdiri dari tiga elemen. Ketiga unsur kepribadian itu dikenal
sebagai Id, Ego, dan Superego, yang bekerja sama untuk menciptakan perilaku
manusia yang kompleks. Aliran psikoanalisa melihat manusia dari sisi negatif,
alam bawah sadar (id, ego, super ego), mimpi dan masa lalu. Aliran ini
mengabaikan Potensi yang dimiliki oleh manusia. Manusia pada dasarnya
ditentukan oleh energi psikis dan pengalaman-pengalaman dini. Id merupakan
system kepribadian yang asli.
Id merupakan segala sesuatu yang diwariskan dari lahir,
termasuk insting-insting. Ego merupakan kebutuhan-kebutuhan yang timbul karenma
organism memerlukan transaksi yang sesuai dengan kenyataan, sedangkan superego
merupakan perwujudan internal dari nilai-nilai dan cita-cita tradisional
masyarakat sebagaimana diterangkan kepada orangtua kepada anak, dan
dilaksanakan dengan cara memberinya hadiah atau hukuman. Tetapi dengan adanya
superego tersebut isu bisa menyebabkan gangguan kesehatan mental. Kenapa begitu
karena apabila superego jauh lebih dominan keinginan orangtua dari pada
keinginan anak, maka anak tersebut dapat menjadi agresif karena sifat yang
telah ditanamkan oleh orang tuanya tersebut. Freud (1930) berteori bahwa
manusia lahir dengan memiliki insting (instinct) untuk hidup yang
disebut Eros, dan juga insting untuk mati yang disebut Thanatos.
Thanatos ini yang mendorong tindakan-tindakan agresi. Freud meyakini bahwa
energy agresif harus disalurkan. Pernyataannya Freud mengenai hal ini disebut
sebagai ‚teori hidrolik (hydraulic theory)‛ yang analog dengan keadaan
air yang tertekan dan meluap ke atas di dalam suatu tempat: Bila tidak ada
pelepasan energy maka akan terjadi suatu ledakan (eksplosi).
Menurut Freud, masyarakat memiliki fungsi untuk meregulasi
insting mati dan membantu orang-orang menyublimasikan-nya, sehingga energi
agresif berubah menjadi perilaku yang dapat diterima atau bermanfaat. Misalnya,
Freud yakin bahwa di balik kreasi artistik atau inovatif adalah sublimasi
(perubahan wujud) dari energi agresif (atau seksual).
2. Aliran Behavioristik
Teori ini di prakarsai oleh John B Watson (1879-1958)
yang lama di universitas John Hopkins. Watson menolak bahwa pikiran
sebagai subjek psikologi dan bersikeras bahwa psokilogi dibatasi pada studi
tentang perilaku dari kegiatan-kegiatan manusia dan binatang yang dapat di
observasi. Tokoh behaviorisme lainnya adalah B.F. Skinner, Ivan Pavlov.
Aliran behaviorisme ini mempunyai 3 ciri penting :
- Menekankan pada respon-respon yang dikondisikan sebagai elemen-elemen atau bangunan perilaku
- Menekankan pada perilaku yang dipelajari daripada perilaku yang tidak dipelajari. Behaviorisme kecenderungan menolak perilaku bawaan
- Difokuskan pada perilaku binatang. Tidak ada perbedaan esensial antara perilaku manusia dan perilaku binatang dan bahwa kita dapat belajar banyak tentang perilaku kita sendiri dari studi tentang apa yang dilakukan binatang.
Kepribadian yang sehat adalah kepribadian yang dapat mempelajari sifat dan
perilaku dari mana saja baik dari sesama manusia maupun binatang sendiri, tapi
kita juga dapat memilih yang mana yang baik dan yang mana yang tidak.
Aliran behaviorisme memperlakukan manusia sebagai mesin, yaitu di
dalam suatu system kompleks yang bertigkah laku menurut cara-cara yang sesuai
dengan hukum. Dalam pandangan kaum behavioris, individu digambarkan sebagai
suatu organisme yang bersifat baik, teratur, dan ditentukan sebelumnya, dengan
banyak spontanitas, kegembiraan hidup, berkreativitas, seperti alat pengatur
panas.
3. Aliran Humanistik
Humanistik mulai muncul sebagai sebuah gerakan
besar psikologi dalam tahun 1950-an. Aliran humanistik merupakan konstribusi
dari psikolog-psikolog terkenal seperti Gordon Allport, Abraham Maslow dan Carl
Rogers.
Menurut aliran humanistik kepribadian yang sehat, individu
dituntut untuk mengembangkan potensi yang terdapat didalam dirinya sendiri.
Bukan saja mengandalakan pengalaman-pengalaman yang terbentuk pada masa lalu
dan memberikan diri untuk belajar mengenai suatu pola mengenai yang baik dan
benar sehingga menghasilkan respon individu yang bersifat pasif.
Ciri dari kepribadian sehat adalah mengatualisasikan
diri, bukan respon pasif buatan atau individu yang terimajinasikan oleh
pengalaman-pengalaman masa lalu. Aktualisasi diri adalah mampu mengedepankan
keunikan dalam pribadi setiap individu, karena setiap individu memiliki hati
nurani dan kognisi untuk menimbang-nimbang segala sesuatu yang menjadi
kebutuhannya. Humanistik menegaskan adanya keseluruhan kapasitas martabat dan
nilai kemanusiaan untuk menyatakan diri. Bagi ahli-ahli psikologi humanistik,
manusia jauh lebih banyak memiliki potensi. Manusia harus dapat mengatasi masa
lampau, kodrat biologis, dan ciri-ciri lingkungan. Manusia juga harus berkembang
dan tumbuh melampaui kekuatan-kekuatan negatif yang secara potensial
menghambat.
Gambaran ahli psikologi humanistik tentang kodrat manusia adalah optimis
dan penuh harapan. Mereka percaya terhadap kapasitas manusia untuk memperluas,
memperkaya, mengembangkan, dan memenuhi dirinya, untuk menjadi semuanya menurut
kemampuan yang ada. Aliran Humanistik juga memfokuskan diri pada kemampuan
manusia untuk berfikir secara sadar dan rasional dalam mengendalikan hasrat
biologisnya guna meraih potensi maksimal. Manusia bertanggung jawab terhadap
hidup dan perbuatannya serta mempunyai kebebasan dan kemampuan untuk mengubah
sikap dan perilaku mereka.
Teori Kepribadian Matang - Model Allport
Menurut Allport, individu-individu yang sehat
dikatakan mempunyai fungsi yang baik pada tingkat rasional dan sadar. Menyadari
sepenuhnya kekuatan-kekuatan yang membimbing mereka dan dapat mengontrol
kekuatan-kekuatan itu juga. Kepribadian yang matang tidak dikontrol oleh
trauma-trauma dan konflik-konflik masa kanak-kanak. Dimana orang-orang yang neurotis
terikat dan terjalin erat pada pengalaman-pengalaman masa kanak-kanak, berbeda
dengan orang-orang yang sehat yang bebas dari paksaan-paksaan masa lampau.
Pandangan orang sehat adalah ke depan, kepada peristiwa-peristiwa kontemporer dan
peristiwa-peristiwa yang akan datang, dan tidak mundur kembali kepada
peristiwa-peristiwa masa kanak-kanak. Segi pandangan yang sehat ini memberi jauh
lebih banyak kebebasan dalam memilih dan bertindak. Orang yang matang dan sehat
juga akan terus menerus membutuhkan motif-motif kekuatan dan daya hidup yang
cukup
untuk menghabiskan energi-energinya. Pada tahap
perkembangan manapun, setiap individu harus menemukan minat-minat dan impian-impian
baru. Energi tersebut harus diarahkan pada setiap tahap agar mencapai suatu kepribadian
yang sehat. Contohnya seorang remaja membutuhkan penyaluran-penyaluran atas energinya
agar terhindar dari kepribadian yang tidak sehat. Energi itu harus menemukan
jalan keluar, dan apabila energi tidak diungkapkan secara konstruktif maka
mungkin energi akan dilepaskan secara destruktif. Dimana beberapa anak yang
kekurangan tujuan-tujuan yang berarti dan
konstruktif untuk menghabiskan energi mereka, menyebabkan masalah kenakalan.
Dorongan yang bersifat konstruktif adalah sangat
penting bagi orang-orang yang sehat secara psikologis. Orang-orang yang demikian
mengejar secara aktif tujuan-tujuan, harapan-harapan,
dan impian-impian, dan kehidupan mereka dibimbing
oleh suatu perasaan akan maksud, dedikasi, dan komitmen. Pengejaran terhadap
suatu tujuan tidak pernah berakhir; apabila suatu tujuan harus dibuang, maka
suatu motif yang baru harus cepat dibentuk.
Orang yang sehat melihat ke masa depan dan hidup
dalam masa depan.
Ada tujuh cirri-ciri kepribadian yang matang menurut Allport, yaitu:
1. Perluasan Perasaan Diri:
1. Perluasan Perasaan Diri:
Ketika orang menjadi matang, dia mengembangkan perhatian-perhatian diluar
diri. Orang harus menjadi partisipan yang langsung dan penuh. Allport menamakan
hal ini “partisipasi otentik yang dilakukan oleh orang dalam beberapa
suasana yang penting dari usaha manusia”. Orang harus meluaskan diri kedalam
aktivitas. Dalam pandangan allport suatu
aktivitas harus relevan dan penting bagi diri; harus berarti sesuatu bagi orang
itu. Apabila anda mengerjakan pekerjaan itu dengan sebaik-baiknya membuat anda
merasa enak, maka anda merupakan seorang partisipan yang otentik dalam
pekerjaan itu. Aktivitas itu lebih berarti bagi anda dari pada pendapatan yang
peroleh; aktifitas itu memuaskan kebutuhan-kebutuhan lain juga.
2. Hubungan diri yang hangat dengan orang lain
2. Hubungan diri yang hangat dengan orang lain
Allport membedakan dua macam kehangatan dalam hubungan dengan orang-orang
lain; kapasitas untuk keintiman dan kapasitas untuk perasaan terharu. Orang
yang sehat secara psikologis mampu memperlihatkan keintiman (cinta) terhadap
orangtua,anak,partner,teman akrab. Orang mengungkapkan partisipasi otentik
dengan orang yang dicintai dan memperlihatkan kesejahteraanya; hal ini sama
pentingnya dengqn kesejahteraan individu sendiri. Syarat lain bagi kapasitas
untuk keintiman adalah suatu perasaan identitas diri yang berkembang dengan
baik. orang yang neurotis harus menerima cinta jauh lebih banyak dari pada
kemampuan mereka untuk memberinya. Apabila mereka memberi cinta, maka cinta itu
diberikan dengan syarat-syarat dan kewajiban-kewajiban yang bersifat
timbalbalik. Cinta dari orang-orang yang sehat adalah tanpa syarat, tidak
melumpuhkan atau mengikat. Perasaan terharu, tipe kehangatan yang kedua adalah
suatu pemahaman tentang kondisi dasar manusia dan perasaan kekeluargaan dengan
semua bangsa. Orang yang sehat memiliki kapasitas untuk memahami
kesakitan-kesakitan,penderitaan,ketakutan-ketakutan, dan kegagalan yang
merupakan ciri kehidupan manusia. Empati itu timbul dari “perluasan imajinatif”
dari perasaan orang sendiri terhadap kemanusiaan pada umunya
3. Keamanan emosional
Sifat dari kepribadian yang satu ini meliputi beberapa kualitas:
Kualitas utama adalah penerimaan diri. Kepribadian-kepribadian yang sehat
mampu menerima semua segi dari ada mereka, termasuk dari kelemahan dan
kekurangan tanpa menyerah secara pasif pada kelemahan-kelemahan
tersebut. Kepribadian-kepribadian yang sehat juga mampu menerima emosiemosi
mereka, mereka bukan tawanan dari emosi-emosi mereka,dan mereka juga tidak
berusaha bersembunyi dari emosi-emosi itu.
Kualitas lain dari keamanan emosional ialah apa yang disebut Allport “sabar
terhadap kekecewaan”. Orang yang sehat sabar menghadapi kemunduran-kemunduran;
mereka tidak menyerahkan diri kepada kekecewaan, tetapi mampu memikirkan
cara-cara yang berbeda, yang kurang menimbulkan kekecewaan untuk mencapai
tujuan-tujuan yang sama atau tujuan-tujuan substitusi.
4. Persepsi Realistis
Orang-orang yang sehat memandang dunia mereka secara objektif. Sebaliknya
orang yang neurotis kerapkali harus mengubah realitas supaya membuatnya sesuai
dengan keinginan-keinginan,kebutuhan-kebutuhan, dan ketakutan-ketakutan mereka
sendiri.
Orang-orang yang sehat tidak perlu percaya bahwa orang-orang lain atau
situasi-situasi semuanya jahat atau semuanya baik menurut suatu prasangka
pribadi terhadap realitas. Mereka menerima realita sebagaimana adanya.
5. Keterampilan-keterampilan dan Tugas-tugas
5. Keterampilan-keterampilan dan Tugas-tugas
Allport menekankan pentingnya pekerjaan dan perlunya menenggelamkan diri
sendiri di dalamnya. Keberhasilan dalam pekerjaan menunjukkan perkembangan
keterampilan-keterampilan dan bakat-bakat tertentu suatu tingkat kemampuan.
Kita juga harus menggunakan keterampilan-keterampilan itu secara
ikhlas,antusias, melibatkan dan menempatkan diri sepenuhnya alam pekerjaan
kita. Komitmen dalam orang-orang yang sehat begitu kuat sehingga mereka sanggup
menenggelamkan semua pertahanan yang berhubungan dengan ego dan dorongan
(seperti kebanggaan) ketika mereka terbenam dalam pekerjaan. Dedikasi terhadap
pekerjaan ini ada hubungannya dengan gagasan tentang tanggung jawab dan dengan
kelangsungan hidup yang positif. Pekerjaan dan tanggung jawab memberikan arti
dan perasaan konstinuitas untuk hidup. Tidak mungkin mencapai kematangan dan
kesehatan psikologis yang positif tanpa melakukan pekerjaan yang penting dan
melakukan dengan dedikasi, komitmen, dan keterampilan-keterampilan.
6. Pemahaman Diri
Pengenalan diri yang memadai menuntut pemahaman tentang hubungan/perbedaan
antara gambaran tentang diri yang
dimiliki seseorang dengan dirinya menurut keadaan yang sesungguhnya. Semakin
dekat hubungan antara kedua gagasan ini, maka individu juga semakin matang.
Hubungan lain yang penting adalah hubungan antara apa yang dipikirkan
orang-orang lain tentang dirinya itu. Orang yang sehat terbuka pada pendapat
orang-orang lain dalam merumuskan suatu gambaran diri yang objektif. Orang yang
memiliki suatu tingkat pemahaman diri (selfobjectification) yang tinggi
atau wawasan diri tidak mungkin memproyeksikan kualitas-kualitas pribadinya
yang negativ pada orang lain. Orang itu akan menadi hakim yang seksama terhadap
orang-orang lain, dan biasanya dia diterima dengan lebih baik oleh orang-orang
lain. Allport juga mengemukakan bahwa
orang yang memiliki wawasan diri yang lebih baik adalah lebih cerdas daripada
orang yang memiliki wawasan diri yang kurang. Selain itu, terdapat korelasi
yang tinggi antara tingkat wawasan diri dan perasaan humor, yakni tipe humor
yang menyangkut persepsi tentang hal-hal yang aneh dan hal-hal yang mustahil
serta kemampuan untuk menertawakan diri sendiri. (Allport) membedakan humor ini
dari humor komik kasar yang menyangkut seks dan agresi).
7. Filsafat Hidup yang Mempersatukan
Orang-orang yang sehat melihat ke depan, didorong oleh tujuantujuan dan
rencana-rencana jangka panjang. Orang-orang ini mempunyai suatu perasaan akan
tujuan, suatu tugas untuk bekerja sampai selesai, sebagai batu sendi kehidupan
mereka, dan ini memberi kontinuitas bagi kepribadian mereka. Allport menyebut
dorongan yng mempersatukan ini “arah”(directness). Arah ini membimbing semua
segi kehidupan seseorang menuju suatu tujuan atau rangkaian tujuan) serta
memberikan orang itu suatu alasan untuk hidup. Tanpa tujuan kita mungkin akan
mengalami masalah-masalah kepribadian. Mustahil memiliki suatu kepribadian yang
sehat tanpa aspirasi-aspirasi dan arah ke masa depan. Mungkin kerangka untuk
tujuan-tujuan khusus itu adalah ide tentang nilai-nilai. Allport menekankan
bahwa nilai-nilai (bersama dengan tujuan-tujuan) adalah sangat penting bagi
perkembangan suatu filsafat hidup yang mempersatukan. Seorang individu dapat
memilih di antara berbagai nilai-nilai dan nilai-nilai itu mungkin berhubungan
dengan diri sendiri atau mungkin nilai-nilai itu luas dan dimiliki oleh banyak
orang lain. Orang yang neurotis tidak memiliki nilai-nilai atau hanya memiliki
nilai-nilai yang terpecah-pecah dan bersifat sementara. Nilai-nilai orang yang
neurotis tidak tetap atau tidak cukup kuat untuk mengikat atau mempersatukan
semua segi kehidupan. Suara hati juga berperan dalam suatu filsafat hidup yang
mempersatukan. Suara hati yang tidak matang sama seperti suarahati kanak-kanak,
yang patuh dan membudak, penuh denganpembatasan-pembatasan dan
larangan-larangan yang dibawa dari masa kanak-kanak ke dalam masa dewasa. Suara
hati yang tidak matang bercirikan perasaan “harus” dan bukan “sebaiknya”. Suara
hati yang matang adalah suatu perasaan kewajiban dan tanggung jawab kepada diri
sendiri dan kepada orang-orang lain, dan mungkin berakar dalam nilai-nilai
agama dan nilai-nilai etis.
- http://id.scribd.com/doc/130661234/sejarah-perkembangan-kesehatan-mental
- https://xiaolichen14.wordpress.com/2013/03/25/konsep-sehat/
- http://ekafnuraeni.blogspot.co.id/2014/03/teori-kepribadian-sehat.html
- http://www.google.com/url?sa=t&rct=j&q=&esrc=s&source=web&cd=2&cad=rja&uact=8&ved=0ahUKEwjErqGrubXLAhWJPo4KHW4WDZ4QFggkMAE&url=http%3A%2F%2Fwardalisa.staff.gunadarma.ac.id%2FDownloads%2Ffiles%2F26404%2FMateri%2B09%2B-%2BTeoriKepribadianCarlRogers.pdf&usg=AFQjCNHgxJ7Xszr3713exqHpcjKIs1HS7A&bvm=bv.116573086,d.c2E
Tidak ada komentar:
Posting Komentar